Presiden Nice Jean-Pierre Rivere menuduh para pemain Marseille sebagai biang kerok kerusuhan dan tawuran yang melibatkan fans, Senin (23/8) dini hari WIB.
Insiden memalukan itu memaksa wasit untuk menghentikan pertandingan lebih awal, karena suasana yang semakin tidak kondusif setelah suporter tuan rumah terus menerus melemparkan benda-benda ke arah kubu Marseille.
Rivere mengatakan para pemain Marseille merespons terlalu berlebihan setelah rekan setim mereka, Dimitri Payet terkena lemparan botol di area sepak pojok. Ia juga mengklaim pihak Marseille memukuli pasukannya.
Pertandingan tidak bisa dilanjutkan setelah para penggawa Marseille menolak untuk keluar dari ruang ganti di Allianz Riviera karena merasa khawatir akan keselamatan mereka.
"Yang menjadi pemicu [kerusuhan] adalah reaksi dua pemain Marseille [Alvaro Gonzalez dan Matteo Guendouzi] di hadapan fans," kata Rivere kepada RMC.
"Mengecewakan karena berakhir seperti ini. Semuanya sudah jelas... Pihak Marseille juga seharusnya tidak masuk ke lapangan dan memukul pemain kami."
"Saya tidak begitu mengerti mengapa Marseille tidak mau kembali bermain."
Guendouzi dan Luan Peres termasuk di antara para pemain yang terluka akibat insiden tersebut, terlihat dari bekas luka yang ada di leher mereka.
Payet, sementara itu, memiliki lebam di bagian punggungnya akibat lemparan botol dari kerumuman suporter Nice.
Nice kemungkinan akan mendapat kemenangan WO 3-0, jika mengacu pada regulasi Ligue 1.
Namun, Marseille jelas dipastikan akan memprotes keputusan tersebut.




