Bintang timnas Indonesia Asnawi Mangkualam Bahar memasang target tinggi bersama klub barunya, Jeonnam Dragons, di K League 2 tahun ini dibandingkan kala memperkuat Ansan Greeners selama dua musim.
Saat bersama Ansan, Asnawi menyumbang dua gol bagi timnya. Namun sepasang gol itu baru diperolehnya pada musim kedua bersama Ansan. Kendati demikian, Asnawi juga turut membantu tim lewat tiga assists-nya.
Kini Asnawi menargetkan dirinya bisa mencetak sepuluh gol pada musim ini. Menurut Asnawi, permainan agresif yang dikembangkan Jeonnam di bawah asuhan Lee Jang-kwan cocok untuk dirinya.
Apalagi Jang-kwan juga mantan seorang fullback kanan, posisi yang sering ditempati Asnawi. Ketika membela Ansan, Asnawi lebih sering berperan sebagai sayap kanan.
“Pelatih memberi saya banyak nasihat, dan menaruh kepercayaan pada saya. Sangat bagus saya bisa bermain di posisi semula. Saya akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi ekspektasi,” ucap Asnawi dikutip laman Chosun.
“Saya ingin mencetak gol atau membantu lebih dari tahun lalu. Target akhir saya adalah sepuluh gol. Terlepas itu gol, atau assist, jika itu membantu tim, saya ingin bekerja sekeras mungkin.”
Sementara itu, kesuksesan Asnawi berkarir di K League 2 bersama Ansan juga kembali mengundang minat klub lainnya untuk mendatangkan pemain Asia Tenggara setelah sebelumnya pesepakbola ASEAN menunjukkan performa tak sesuai harapan.
Di samping Asnawi, ada empat pemain Asia Tenggara lainnya yang sekarang merumput di K League 2. Seoul E-Land merekrut Nguyen Van Toan, sedangkan Cheonan City memboyong Nguyen Canh Anh dan Vu Minh Hiếu. Sementara pendatang baru K League 2 Chungbuk Cheongju mengontrak gelandang Malaysia Kogileswaran Raj.
“Saya berharap lebih banyak pemain Asia Tenggara datang, dan tampil reguler. Mungkin masih ada penilaian miring terhadap pemain Asia Tenggara, tapi saya ingin menghilangkan penilaian itu. Ini adalah keinginan terbesar saya bagi para pemain untuk datang ke K-League,” tutur Asnawi.
“Ketika saya punya waktu, saya ingin bertemu mereka. Di stadion kami berjuang dengan tim masing-masing, tetapi setelah 90 menit, kami harus seperti teman atau keluarga. Ketika kami mengalami kesulitan, teman sejatilah yang saling membantu.”
