Tiga laga, tiga kemenangan, satu kebobolan.
Saat tiba di Arsenal dari Bologna pada hari tenggat transfer, Takehiro Tomiyasu mungkin tak membayangkan awal karier yang lebih baik lagi di London utara.
Kehadiran bek Jepang itu sungguh membekas di pekan-pekan pertamanya di Arsenal, dan membuat mereka yang menghinanya sebagai pembelian kepanikan jadi terlihat konyol.
Saat ia bergabung, The Gunners tengah terperosok di dasar klasemen Liga Primer dan kebobolan sembilan gol di tiga laga Liga Primer pertama.
Kini, tak sampai sebulan kemudian, mereka merangkak naik ke posisi 10 dan mendapatkan poin maksimal melawan Norwich, Burnley, dan Tottenham, serta mengoleksi dua nirbobol.
Kebangkitan pasukan Mikel Arteta perlu dipuji, dan bek kanan anyar mereka jadi protagonisnya.
Tomiyasu tangguh bukan main dalam tiga laga pertamanya bagi The Gunners, dengan fans Arsenal memilih bek 22 tahun itu sebagai Man of the Match saat memenangi derbi London utara atas Spurs, Minggu (26/9).
Tak satu pun pemain bisa menggiring melewati Tomiyasu di tiga penampilan pertamanya di Liga Primer, ia juga memenangai 14 dari 16 duel udara, melakukan 10 sapuan, tiga tekel, dua intersep, dan secara umum mengantongi 76 persen kesuksesan duel.
Jelas tak mengejutkan jika ia menjadi kandidat Player of the Month Arsenal untuk September kemarin.
Dampak yang langsung Tomiyasu berikan di London utara memang mengejutkan banyak khalayak, tetapi tidak bagi Andre Pinto, direktur olahraga Sint-Truiden, klub Belgia yang pertama kali memboyong sang pemain ke Eropa 2018 lalu.
"Hal terhebat soal Tomi adalah ia tak menerima apa pun yang bukan kesuksesan," ujar Pinto kepada Goal dalam sebuah wawancara eksklusif. "Ia tidak beruntung, ia tidak mengandalkan keberuntungan untuk mendapatkan berbagai hal. Ia cuma seorang pemain pekerja keras."
"Anda bisa menemukan banyak pemain berdedikasi, tetapi Tomi bermental a la Cristiano Ronaldo soal tekad, soal bekerja keras, dan soal menyantap makanan sehat."
"Ia tipe pemain yang tak pernah puas. Ia akan selalu bekerja keras untuk mengembangkan dirinya."
(C)Getty ImagesTomiyasu sudah memetakan kariernya sejak usia belia.
Saat pertama kali bermain di tim senior sebagai remaja di kampung halaman bersama Avispa Fukuoka, ia sudah tahu langkah apa yang ingin ia ambil: ia selalu berambisi bisa sukses di Liga Primer Inggris.
Itu adalah mimpi yang ia cita-citakan sejak melawan Inggris U-19 di Manchester 2016 lalu, saat tim yang dibela Ainsley Maitland-Niles melipat Jepang 5-1.
"Laga itu adalah satu alasan besar mengapa saya ingin bermain di Liga Primer," ujar Tomiyasu kepada Arsenal.com. "Kami tak berkutik di laga itu."
"Saat itu saya membatin bahwa suatu hari nanti saya harus bisa mencapai level yang memungkinkan saya bermain di Inggris."
Tomiyasu masih berusia 17 tahun saat itu. Kini, lima tahun kemudian, ia sudah menggapai mimpi tersebut. Dan, layaknya awal kariernya di Arsenal, perjalanannya ke Inggris penuh dengan tancapan gas.
Ia hijrah ke Sint-Truiden pada Januari 2018, segera setelah perusahan daring asal Jepang, DMM, mengontrol klub Belgia tersebut.
Pinto baru saja ditunjuk sebagai direktur olahraga saat itu setelah pernah bekerja di FC Tokyo, dan ia langsung tahu siapa pemain pertama yang harus ia beli.
"Saya bekerja bersama CEO kami, Takayuki, Tateishi, di FC Tokyo, jadi kami tahu soal Tomi sejak di Jepang," ujar Pinto. "Ia baru berusia 19 tahun saat itu dan potensinya memesona kami. Tak setiap hari Anda punya pemain yang tingginya 188 cm tetapi memiliki kecepatan, fisik, dan teknik."
"Kami sangat memercayai Tomi. Saat datang ia masih dalam masa penyembuhan cedera pergelangan kaki, dan dokter kami berkata 'jangan membeli pemain ini, ia cedera'. Lalu CEO kami menghadap dewan dan berkata 'beli dia, saya jamin'. Sebanyak itulah kepercayaan kami kepada Tomi saat itu."
Gara-gara tiba saat masih cedera, Tomiyasu hanya bermain semenit selama enam bulan pertama di Sint-Truiden.Namun dengan pergantian pelatih di musim panas, ia menjelma menjadi Player of the Season pilihan suporter pada musim 2018/19.
Tetapi itu menjadi satu-satunya musim penuhnya di Belgia.
"Tomi mengambil alih musim itu dan menjalani laga dengan luar biasa," ujar Pinto. "Ia meledak."
"Kami tahu setelah tiga atau empat bulan pertama musim itu bahwa akan sulit untuk mempertahankannya."
"Belgia adalah pasar yang menarik di mana pemandu bakat sibuk memburu pemain muda. Sehingga ia masuk radar berbagai klub saat itu."
Tomiyasu jelas akan meninggalkan Sint-Truiden pada musim panas 2019, dan meski berbagai klub Eropa tertarik, ia tahu ke mana ia harus berlabuh.
Kendati bermimpi bermain di Liga Primer, ia ingin mampir terlebih dahulu.
"Kuncinya adalah bahwa Tomi selalu tahu apa yang ia inginkan," jelas Pinto.
"Ia tahu langkah selanjutnya adalah ke Italia untuk mempelajari gaya bertahan terbaik, ia ingin bermain di negara yang terkenal berkat pemain seperti [Paolo] Maldini."
"Tomi ingin ke sana dan saat itu, dari sekian klub yang mengikutinya, Bologna selangkah lebih maju dan mengerjakan PR mereka."
"Mereka membelinya dengan segera dan itu merupakan rekor transfer klub kami dan salah satu transfer terbesar di sini, di Belgia."
Tomiyasu hijrah hanya dengan mahar £6 juta pada Juli 2019, dan tak butuh waktu lama baginya untuk bersinar di Italia.
Ia langsung mempelajari bahasanya dan beradaptasi terhadap tuntutan di Serie A dengan segera, menunjukkan keserbabisaannya dengan diturunkan di berbagai posisi di lini belakang.
GettyTomiyasu mengemas 29 penampilan di musim pertamanya di Italia, dan 31 di musim kedua.
Atalanta langsung mengendusnya, namun rayuan mimpi pergi ke Inggris kian menguat. Tottenham tertarik musim panas ini, tetapi pada akhirnya Arsenal-lah yang bertindak dalam 48 jam terakhir bursa transfer.
"Saya senang bukan kepalang begitu tahu," ujar Tomiyasu. "Saya tak perlu menelepon siapa pun atau meminta saran siapa pun."
"Ini adalah pilihan mudah bagi saya, karena, ya karena ini Arsenal."
"Saya bahkan tak punya waktu untuk berbicara kepada sang manajer sebelum meneken kontrak, dan memang tak perlu. Saya ingin datang."
Tomiyasu sedang membela negaranya saat diboyong, dan setelah akhirnya terbang ke Inggris sepakan kemudian untuk bertemu dengan rekan-rekan barunya, ia langsung masuk starting XI kontra Norwich dua hari kemudian.
Debut impresifnya berlangsung satu jam sebelum ia ditarik keluar. Ia lalu menghadapi Burnley dan membuktikan tak perlu susah payah menghadapi kerasnya aspek fisik Liga Primer dan bermain 90 menit untuk membantu Arsenal menang 1-0.
Ia menambahnya dengan kembali bermain memukau di derbi London utara kemarin Minggu, dengan performanya saat menang 3-1 membuat Tomiyasu kian menjadi dambaan para suporter.
Tomiyasu membantu menyuntikkan semangat kehidupan baru buat pasukan Arteta yang sebelumnya terlihat kurang gizi dan ide. Kedatangannya juga menandai kebangkitan performa dan optimisme yang semakin berkembang bahwa mereka berada di jalan yang benar, dengan enam pembelian musim ini memberikan rasa segar di ruang ganti.
Prioritas Tomiyasu sekarang adalah untuk terus berkembang dan menyiapkan diri untuk menghadapi liga yang didapuk sebagai terberat di dunia.
Jadi, apakah bek muda Jepang itu mampu bertahan?
"Satu hal yang saya pelajari adalah jangan pernah meremehkan Tomi karena ia pasti akan terus menerus mengejutkan kami," ujar Pinto.
"Tantangan terbesar di Liga Primer adalah Anda akan menghadapi winger-winger tercepat di dunia, jadi butuh sedikit waktu untuk beradaptasi."
"Tetapi, Tomi beradaptasi dengan sangat cepat. Apa pun yang perlu ia perbaiki, pasti sedang ia usahakan."


