Alireaza Jahanbakhs terbang di udara, dia mengingatkan nasib 2019 bisa berulang pada 2020 jika Chelsea tidak juga kunjung belajar dari tumpulnya lini depan.
Nama Frank Lampard begitu harum ketika the Blues mampu menundukkan Tottenham Hotspur besutan Jose Mourinho, tetapi kemudian mereka kalah dari Southampton. Berikutnya teriakan London is Blue begitu menggema saat Chelsea menerkam Arsenal namun sejurus kemudian mereka imbang di markas Brighton.
Chelsea gagal mengamankan momentum yang bisa menambah modal tim meraih tiket ke Liga Champions musim depan. Mereka seharusnya paham, pertandingan menghadapi tim-tim papan bawah sama pentingnya dengan laga-laga besar.
"Melawan Tottenham performa kami fantastis," kata Lampard. "Di markas Arsenal, tim muda kami memperlihatkan semangat besar dan pantang menyerah. Lawan Southampton kami kesulitan menembus benteng pertahanan lawan dan kalah di kandang sendiri."
"Hari ini kami seharusnya punya mindset untuk meraih memupus perlawanan lawan, karena kesempatan itu ada di babak pertama tetapi kami gagal. Itu memperlihatkan betapa bagus dan buruknya kami. Perolehan tersebut menjadi peringatan tim harus tetap rendah hati. Kami harus bekerja keras. Kami punya dua hasil fantastis di periode Natal tetapi pekerjaan masih banyak."
Mereka yang ada di West London tidak bisa berlama-lama menikmati indahnya pergantian tahun. Chelsea membuang keunggulan 1-0 untuk pulang dengan satu poin dari Amex Stadium. Seharusnya Brighton adalah pijakan sempurna bagi mereka saat memulai dekade baru.
Hanya 66 jam berlalu dari pertandingan sebelumnya, Chelsea memperlihatkan permainan tanpa mengenal lelah selama 80 menit. Mereka menekan dengan baik, menciptakan peluang dan mendominasi bola. Sayang, mereka gagal menjawab satu pertanyaan besar; di mana penyelesaian akhir yang sempurna?
Lampard pasti kecewa melihat timnya memasuki masa hanya dengan keunggulan satu gol. Tembakan Tammy Abraham yang berbelok arah berhasil dimanfaatkan Cesar Azpilicueta untuk mencetak gol perdana timnya pada 2020.
Brighton kesulitan keluar dari tekanan dan peluang untuk Chelsea tidak henti berdatangan tetapi gol untuk menyegel kemenangan tidak kunjung datang.
(C) Getty ImagesGraham Potter kemudian memberi reaksi jitu, dia memasukkan Aaron Connolly dan Jahanbakhsh untuk memutar situasi lalu keputusan itu membuahkan hasil. Tujuh dari 16 tembakan Brighton tercipta setelah bintang asal Iran itu memasuki lapangan. Kepa dipaksa melakukan dua penyelamatan sebelum gol penyama kedudukan tercipta. Menjadi sebuah fakta, Chelsea menderita di sepuluh menit terakhir perandingan, bahkan sempat terselip bayang-bayang kekalahan.
Sebaliknya, pergantian yang dilakukan Lampard gagal berdampak positif. Callum Hudson-Odoi tidak bisa berbuat banyak. Mateo Kovacic menciptakan dua set-piece di area berbahaya hingga Chelsea punya kans untuk unggul, tetapi di situ justru kelemahan mereka.
Inkonsistensi Chelsea adalah natural; mereka punya masalah saat tampil di kandang sendiri, mereka kerap kesulitan memulai laga dan mengakhirinya. Lebih jauh, Chelsea payah di semua area hingga jarak mereka dengan standar yang ditetapkan oleh Liverpool bersama Jurgen Klopp semakin jauh.
Mengakhiri pertandingan lebih cepat memang bukan perkara mudah. Tanya saja kepada fans Liverpool dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi sekarang kemenangan demi kemenangan terus menghampiri tim yang bermarkas di Anfield tersebut, bahkan ketika mereka tampil buruk. Tetapi memang itu yang dibutuhkan untuk merajai sebuah liga yang sulit.
Apakah para penyerang Chelsea dikenal kejam? Apakah mereka tahu cara untuk meraih hasil yang diinginkan? Jawabannya tidak dan tidak. Untuk melangkah ke level berikutnya para pemain muda Chelsea harus belajar secara langsung di atas lapangan. Lampard selalu berbicara proses dan mengedukasi para pemainnya untuk menguasai skill berharga.
(C) Getty Images"Bukan kami tidak memiliki mindset, tetapi bagaimana cara bekerja untuk berusaha memenangkan pertandingan. Anda harus menghadapinya di lapangan dan itu bagian dari proses," terang Lampard.
"Terkadang Anda bisa menuding periode buruk di sebuah laga minim perjuangan, kurang sigap, kurang apapun yang bisa Anda sebutkan. Hari ini bukan itu permasalahannya, tetapi kurang kualitas pada bola hingga situasi di babak pertama tercipta, padahal kami tahu permasalahan mereka."
"Kita bisa melihat dengan mudah pergerakan full-back, mengendalikan bola dengan mudah lalu kami tidak melakukan itu lagi. Kami gagal mempertahankan hal-hal sederhana. Kemudian sering kehilangan bola. Ketika peluang itu ada, tidak bisa disempurnakan."
"Anda gagal mendominasi mereka dan jika itu tidak dilakukan di level sepakbola seperti ini, maka Anda tidak akan memenangkan pertandingan yang seharusnya bisa dimenangkan."
Chelsea masih punya banyak waktu untuk belajar, tetapi jika gagal menemukan konsistensi permainan secepat mungkin mereka bisa gagal mental mentas di Liga Champions. Dengan kiprah apik Leicester City dan perubahan di kubu Arsenal, mungkin kita bisa menikmati pertarungan seru menuju empat besar.
Petualngan Chelsea mencari formula mematikan di lini depan berlanjut, tetapi permasalahannya lebih ke karakter pemain bukan masalah teknik atau taktikal. Ini soal pergantian tahun tetapi dengan Chelsea yang sama. Mereka punya pekerjaan rumah segudang untuk kembali diperhitungan sebagai tim calon juara.




