OLEH MUHAMMAD RIDWAN
Mantan pemain Bali United Sylvano Comvalius, masih tidak habis pikir dengan situasi yang terjadi di kompetisi sepakbola nasional. Ia membeberkan sejumlah kebobrokan yang terjadi selama bergulirnya Liga 1 2017.
Pesepakbola asal Belanda ini, memutuskan hengkang ke klub Thailand Suphanburi FC. Disinyalir kepergian Comvalius dari tim Serdatu Tridatu karena kenaikkan gaji yang dimintanya tidak dituruti manajemen klub.
Menurut, Comvalius seharusnya Bali United yang menjadi juara kompetisi sepakbola kasta teratas Tanah Air. Akan tetapi, karena ada persoalan di balik layar, akhirnya Bhayangkara FC yang memegang gelar tersebut.
Memang, sempat terjadi polemik jelang berakhir Liga 1. Bhayangkara FC mendapatkan durian runtuh setelah Komisi Disiplin (Komdis) PSSI memutuskan The Guardian, mendapat tambahan tiga poin setelah Mitra Kukar terbukti bersalah memainkan Mohamed Sissoko yang dilarang tampil.
Akibatnya, Bhayangkara FC yang sebenarnya mengumpulkan poin yang sama dengan Bali United yakni 68 poin jadi juara. Itu karena pasukan Simon McMenemy tersebut unggul head to head atas Bali United.
"Ini sangat aneh, karena menurut FIFA kami baru saja menjadi juara," kata Comvalius saat melakukan wawancara dengan media Belanda Voetbalzone.
Perkataan yang diucapkan Comvalius memang benar adanya. FIFA sempat menyatakan Bali United sebagai juara Liga 1 karena unggul produktivitas gol dari Bhayangkara FC. Namun, regulasi yang dipakai Liga 1, adalah head to head bila ada klub yang meraih poin sama di akhir musim. Sehingga induk sepakbola dunia tersebut meralat tulisannya di situs mereka.
"Ada banyak politik yang terjadi di Indonesia dan apa yang terjadi di sana benar-benar mengerikan. Sesuatu telah diambil dari kami dan saya tidak begitu menyadari hal itu, karena saya sudah berada di situasi yang naik turun beberapa minggu terakhir ini. Saya berpikir bahwa setelah beberapa lama saya melihat ke belakang dan kemudian Anda akan secara otomatis menyadari bahwa ada sesuatu yang telah diambil dari kami. Sesuatu yang mungkin Anda capai sekali dalam hidup Anda sangat menyedihkan. Ini menegaskan pilihan saya untuk meninggalkan Indonesia. Karena saya ingin lebih profesional."
"Bisa dilihat, strukturnya belum benar-benar ada, misalnya peraturan yang berubah-ubah sepanjang musim. Sebagai pemain asing, Itu sangat menyebalkan. Beberapa hal yang tidak bisa, itu bisa di Indonesia. Jika dipikir-pikir, iapa yang dialami dalam setahun itu aneh. Selama delapan tahun saya bermain di luar negeri, saya tidak pernah mengalami hal seperti itu," tambah pemain Dynamo Dresden itu.
Tak hanya itu, Comvalius juga menyebutkan banyak tawaran dari klub lain sebelum menjatuhkan pilihannya ke Suphanburi FC. Akan tetapi, ia mendarat di Thailand karena menurutnya liga di sana lebih kompetitif.
"Yang paling penting bagi saya adalah bermain setinggi mungkin di Asia, itulah tujuan sebelum saya datang ke Indonesia, saya kira ada sejumlah kompetisi bagus di Asia. Impian saya adalah pergi ke Jepang atau Korea Selatan. Atau untuk kembali ke Tiongkok, di mana saya bermain untuk Shijiazhuang Ever Bright pada tahun 2012," tuturnya.
"Saya juga memiliki sejumlah tawaran dari Malaysia, yang mungkin lebih menarik secara finansial, yang persaingan sebanding dengan kompetisi di Indonesia. Tapi saya berpikir bisa mencapainya (bermain di Jepang atau Korea Selatan) lebih mudah melalui Thailand daripada lewat Indonesia atau Malaysia. Itu ditunjukkan dalam beberapa tahun terakhir, bahwa pemain yang tampil bagus di Thailand lebih cepat dikontrak oleh klub-klub Jepang. Ini membuat semakin jelas bahwa langkah dari Indonesia masih cukup jauh."
"Jika Anda memiliki banyak pilihan, Anda akan memikirkannya, jika Anda hanya memiliki satu atau dua pilihan, ambil apa yang ada. Tapi justru karena saya memiliki begitu banyak pilihan, saya bisa mengatasi semuanya."
"Itu juga pertimbangan dalam pilihan untuk tinggal di kota yang sepi, saya juga pernah dapat tawaran dari klub Bangkok, tapi saya tidak mengambilnya karena saya punya bayi. Jika saya tinggal di Indonesia, itu pasti di Bali. Saya sangat menikmatinya di sana, tapi saya orang yang ambisius, saya bukannya tidak ingin berbaring di pantai setiap hari di Bali. Saya pikir hanya sedikit orang yang memilih ini untuk pergi dari Bali, Anda harus banyak tertinggal, terutama dalam hal kualitas hidup. Saya memiliki karier dan saya tidak sedang berlibur. Segera setelah karier saya usai, saya ingin mengatakan bahwa saya telah menyingkirkan semuanya," pungkasnya.


