Pujian untuk Ajax setelah kemenangan 1-4 atas FK Vojvodina pada babak kualifikasi kedua Conference League. Sentuhan pelatih Míchel kian terlihat, demikian penilaian surat kabar Belanda sehari kemudian.
Menurut De Telegraaf, Ajax bermain selama satu jam seperti yang diinginkan pelatih asal Spanyol itu. Namun, masih ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki. ''Menyerang, kadang-kadang atraktif dan rapi secara teknis. Fakta bahwa Ajax juga menyia-nyiakan begitu banyak peluang dan merosot cukup jauh dalam setengah jam terakhir menegaskan kata-katanya tepat sebelum pertandingan.'' Míchel mengumumkan bahwa dibutuhkan waktu sampai para pemain memahami cara bermain yang ia inginkan.
''Ajax seharusnya sudah menuntaskan pertandingan itu sejak setengah jam pertama. Dan Nardin Mulahusejnovic juga bisa saja membuat skor menjadi 2-1, tetapi para tamu terhindar dari mimpi buruk itu'', demikian penilaian surat kabar pagi tersebut. Laga leg kedua tampaknya hanya tinggal untuk statistik. ''Setelah kemenangan yang meyakinkan dan pantas di utara Serbia, leg kedua Kamis mendatang di Johan Cruijff ArenA tampaknya telah berubah menjadi formalitas.''
Dalam pandangan Algemeen Dagblad, Míchel bisa menatap laga ini dengan puas. ''Ajax memainkan pertandingan yang lebih dari sekadar sangat bagus pada Kamis malam ini. Ajax langsung mendominasi. Peluang demi peluang didapat tim ini. Dan seperti itulah yang disukai Míchel, sosok yang malam ini tampak tenang di depan bangku cadangan Ajax.''
Míchel tampaknya sudah memberi pengaruh yang cukup besar kepada Ajax. ''Hal itu antara lain terlihat dari banyaknya pertukaran posisi. Jauh dari semuanya berjalan baik, tetapi niatnya jelas.''
De Volkskrant menyoroti seorang debutan berusia 16 tahun di Ajax. ''Karena itu, gol 1-4 justru dicetak oleh seorang pemain dari akademi sendiri, Mohamed Abdalla. Mantan produk akademi PSV itu masuk sebagai pemain pengganti dan merayakan golnya, setelah 92 menit, dengan penuh antusias. Pada usia 16 tahun dan tujuh bulan, ia termasuk salah satu pencetak gol termuda dalam sejarah klub Amsterdam itu.''
Het Parool mencatat bahwa penguasaan bola adalah hal yang sakral bagi Míchel. ''Pelatih asal Spanyol itu ingin menyerang dengan sabar dan tidak mengambil terlalu banyak risiko. Pertama mengambil posisi yang tepat dan baru kemudian maju ke depan, itulah idenya. Dengan begitu, penguasaan bola bukan hanya cara untuk menyerang, tetapi juga untuk bertahan.''


