Zack Steffen

'Saya Kira Manchester City Guyon' - Zack Steffen Kenang Kisah Transfer Ke Etihad Stadium

Zack Steffen dulu mengira agennya bercanda ketika mengatakan Manchester City tertarik padanya, dengan kiper Amerika Serikat itu merasa kepindahannya ke Etihad Stadium terasa tidak nyata.

Penjaga gawang berusia 26 tahun itu ditransfer dari tanah kelahirannya pada musim panas 2019, setelah City membuat kesepakatan dengan klub Major League Soccer (MLS), Columbus Crew.

Steffan tahu bahwa dirinya akan menjadi kiper pelapis Ederson di Inggris, dan awalnya memang dipinjamkan ke klub Bundesliga, Fortuna Dusseldorf. Tapi ia sama sekali tak mau melewatkan kesempatan bergabung dengan klub raksasa Liga Primer dan salah satu yang ambisius di dunia.

Saat membahas transfernya ke Inggris dengan Soccer Bible, Steffen mengatakan: "Benar-benar tidak nyata. Ada saat-saat di mana saya harus mencubit diri saya sendiri dan merasa, wow, ini sebenarnya kenyataan."

"Tapi ketika saya pertama kali mendengar bahwa Man City tertarik pada saya, ya, itu tidaklah nyata dan saya pikir agen saya guyon!"

"Ketika saya tiba di sini dan menandatangani kontrak dan memeriksa segalanya, terasa gila."

"Ketika saya ada di sini untuk mengikuti pramusim, masuk ke ruang ganti Man City dan bertemu semua orang dan melihat seperti apa rutinitas harian dan kebiasaan mereka - sangat tidak nyata."

Pindah ke Manchester memungkinkan Steffen untuk bekerja dengan Pep Guardiola, salah satu pelatih paling berprestasi dan penuh tuntutan dalam dunia sepakbola ini.

Sang penggawa internasional AS menyadari tekanan yang dihadapinya di City, namun menimkati kesempatan untuk bisa belajar dari salah satu manajer terbaik.

Ia pun mengungkapkan bagaimana rasanya dilatih oleh Guardiola: "Ya, maksud saya, saya gugup."

"Awalnya cukup intens, hanya karena panggung dan cara kita memandangnya, tapi sebenarnya ia sosok yang baik, penuh antusiasme berbicara tentang para pemainnya dan sangat, sangat bersemangat menyikapi olahraga ini."

"Ia adalah pemenang sejati. Seorang yang perfeksionis. Selalu memikirkan taktik, tentang bagaimana tim ini bisa menghancurkan lawan. Ia benci saat tim lain menguasai bola."

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0