SSB Gapas, Pemersatu Dua Kampung Di Tangerang

Komentar()
SSB Gapas
Goal/Muhamad Rais Adnan
Baru berdiri 30 April 2017, kini siswa di SSB Gapas sudah mencapai 275 anak.

OLEH   MUHAMAD RAIS ADNAN

Sekolah sepakbola (SSB) di Indonesia sudah semakin menjamur. Ini tak terlepas dari tingginya animo anak-anak Indonesia yang ingin berlatih sepakbola. Salah satu yang begitu besar animonya ada di wilayah Binong, Curug, Kabupaten Tangerang.

Di mana di situ berdiri sebuah SSB yang bernama Gapas. Menariknya, meski baru berdiri sejak 30 April 2017, SSB ini sudah memiliki ratusan siswa. Cerita di balik pemberian nama SSB yang bermarkas di lapangan sepakbola Sukabakti itu pun memiliki makna tersendiri.

"Saya mendirikan SSB ini karena ada permintaan dari masyarakat sekitar, itu lantaran di sini tak ada SSB yang memadai. Akhirnya, dengan dana yang ada, saya coba beli peralatan dan mendirikan SSB ini. Saya kaget, ternyata antusiasnya cukup besar. Sekarang sudah ada 275 siswa dari usia 6-19 tahun," kata Constantinus Awe, pendiri SSB Gapas kepada Goal Indonesia.

"Nama Gapas sendiri merupakan singkatan dari nama dua kampung yang ada di Binong, yaitu Galugas dan Peusar. Yang mana saya tinggal di tengah-tengah dua kampung itu. Jadi, saya mencoba mempersatukannya dengan memfasilitasi anak-anak dari dua kampung itu di SSB ini.

Goal 50 Dirilis: 50 pemain terbaik di dunia

SSB Gapas

Pria yang akrab disapa Tinus itu menambahkan, dirinya berharap dari SSB ini bisa muncul bibit-bibit potensial yang nantinya bisa menjalani karier sebagai pesepakbola profesional dan berujung bisa membela tim nasional (timnas) Indonesia.

Maka itu, eks asisten manajer Persita Tangerang ini juga mengajak para pemain yang pernah menjadi bintang sepakbola nasional, seperti Cristian Carrasco dan Essaiah Pello Benson untuk melatih anak-anak di SSB-nya.

"Saya ambil mereka karena sudah tahu persepakbolaan Indonesia, dan mereka sudah lama di sini. Jadi, karakter kebudayaan Indonesia mereka sudah sangat mengenal. Mereka adalah pemain bintang, dan saya coba ajak mereka untuk bagi ilmu dengan masyarakat di sini," jelasnya.

Namun, dia juga berharap nantinya bakal ada pihak-pihak yang bisa ikut membantunya dalam memajukan SSB ini. "Kami siap terima bantuan seperti apapun. Termasuk nantinya wadah kompetisi bagi anak-anak ini, karena mereka butuh itu. Mereka untuk bulanan dikenakan Rp150 ribu, itu pun saya juga membolehkan untuk mencicilnya. Karena niat saya adalah ingin memfasilitasi anak-anak ini," tutur pria asal Nusa Tenggara Timur yang sudah mengambil lisensi kepelatihan setara B AFC di Brasil itu.

Tutup