Manajemen PSS Sleman menilai keputusan PSSI yang menyerahkan permasalahan kontrak pemain kepada klub sebagai ketetapan adil, karena bersedia mendengarkan masukan dari peserta kompetisi.
Ketika memutuskan membatalkan Liga 1 dan 2 dengan status kahar (force majeure) terkait pandemi virus Corona, komite eksekutif (Exco) PSSI juga mengeluarkan sejumlah keputusan yang berhubungan dengan kompetisi dan klub.
Selain menetapkan tidak ada juara dan degradasi, serta kontestan yang tidak berubah di musim 2021, PSSI juga memutuskan kontrak pemain diatur oleh klub mengacu kepada aturan keadaan kahar di dalam kontrak masing-masing.
Direktur utama PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) Marco Gracia Paulo menilai keputusan PSSI sudah tepat. Menurut Marco, keputusan itu memberikan waktu dan nafas bagi klub untuk melakukan pembenahan.
Marco mengatakan, keputusan soal kontrak bisa membuat pemain merasa tenang, karena mereka sebelumnya berada dalam posisi tidak pasti. Keputusan soal kontrak berdasarkan klausul situasi kahar merupakan solusi terbaik.
Abi Yazid / Goal“Memang tak ada keputusan yang ideal saat ini. Tapi apa yang diputuskan itu memberikan waktu dan nafas bagi klub untuk berbenah,” ujar Marco dilansir laman resmi klub.
“Tidak adanya juara dan degradasi, serta tak berubahnya komposisi peserta Liga 1 dan Liga 2 merupakan keputusan yang adil. Begitu juga dengan masalah gaji yang diserahkan kepada masing-masing klub.”
Marco selanjutnya menyinggung kompetisi musim 2021. Menurut Marco, ada dua opsi yang diajukan, yakni kick-off dilakukan pada Mei, atau setelah Idul Fitri 2021, dan berakhir pada Desember 2021.
Dalam opsi pertama ini format terbaik adalah diselenggarakannya kompetisi dalam dua wilayah. Hal ini untuk mengurangi risiko cedera bagi pemain dengan rentang waktu kompetisi yang tidak panjang seperti sebelumnya.
Sedangkan opsi kedua adalah menggelar kompetisi penuh yang dimulai Agustus atau September, dan berakhir pada April 2022. Hanya saja, format ini mengubah kalender kompetisi di Indonesia.
“Jadi dua opsi ada plus minusnya, yang perlu dipertimbangkan mana yang lebih baik bagi kita semua,” kata pria yang pernah menjabat sebagai deputy Sekjen PSSI ini.
