Desakan PSSI untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) terus mengalir. Situasi tersebut muncul karena imbas dari tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang pada Sabtu (1/10).
Ketua umum PSSI Mochamad Iriawan dan seluruh anggota komite eksekutif (Exco) diminta mengundurkan diri. Mereka semua dinilai tak lagi pantas untuk menempati jabatannya usai terjadinya tragedi Kanjuruhan.
Bukan cuma pencinta sepakbola Tanah Air saja yang meminta PSSI segera menggelar KLB. Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan bentukan pemerintah juga merekomendasikan hal serupa.
Terkait mencuatnya desakan PSSI menggelar KLB, mantan anggota komite etik FIFA Dali Tahir angkat bicara. Ia menginginkan pergantian pengurus federasi sepakbola nasional tersebut bukan karena emosi sesaat saja.
"Saya mengalami berbagai momen krusial di organisasi sepakbola yang usianya jauh lebih tua dari republik [Indonesia], saya paham betul situasinya," kata Dali.
"Saya menghargai pandangan tersebut. Tapi, maaf, Ali Sadikin yang di KLB 1980-an awal, tidak membuat PSSI menjadi lebih baik. Nurdin Halid digempur, didemo selama delapan bulan, juga tidak membuat PSSI menjadi baik. Mengapa? Karena dasar penggulingan itu emosi yang berlebih," Dali menambahkan.
Dali mengatakan tidak bisa PSSI melaksanakan KLB secara tiba-tiba untuk memuaskan desakan dari publik. Ada aturan yang dilakukan sesuai dengan regulasi PSSI dan FIFA.
"Ada hukum positif. Kejarlah para pembuat masalah. Saat ini ada enam tersangka, apakah sudah cukup atau masih akan bertambah? Terus pantau itu."
"Ada hukum sepakbola yakni statuta FIFA dan PSSI. Di sana diatur cara bagaimana mekanisme KLB. Taati itu dengan baik dan simpan emosi serta kemarahan di dalam saku."
Selain itu, Dali menyadari tragedi Kanjuruhan merupakan sejarah kelam sepakbola nasional. Namun, ia ogah insiden nahas tersebut ditunggangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Terlebih, Presiden FIFA Gianni Infantino tidak menyinggung sama sekali pengurus PSSI periode sekarang untuk mundur karena terjadinya tragedi Kanjuruhan. Beberapa hari lalu sosok berusia 52 tahun tersebut datang ke Indonesia buat bertemu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Bukan cuma melakukan pertemuan dengan Jokowi, Infantino juga berkunjung ke kantor PSSI yang berada di Senayan. Bahkan, ia bermain fun football bersama para pengurus PSSI yang akhirnya mendapat hujatan dari publik.
"Jika FIFA tidak menganggap para pengurus PSSI itu untuk mundur, ya begitu fakta yang ada. Sekali lagi, bukan berarti kita ingin melupakan korban dan penelusuran kasusnya. Semua harus tetap berada dalam koridor hukum sepakbola."
"Ingat, kita pernah dihukum FIFA karena nafsu sekelompok orang lalu melahirkan PSSI tandingan. Melahirkan kompetisi tandingan. Jangan sampai para sparatis itu kembali menunggangi tragedi ini untuk mencapai tujuan mereka merebut kebebaran."
