Romelu Lukaku sejatinya adalah penyerang mematikan di depan gawang saat berseragam RSC Anderlecht - klub tempat dia menimba ilmu sepak bola -, yang membuat dia diboyong raksasa Inggris Chelsea pada tahun 2011 .
Namun keputusannya untuk hijrah ke London bukan pilihan yang terbaik, karena dia hanya tampil 15 kali di tim utama The Blues dan menghabiskan waktu sebagai pemain pinjaman di West Brom (2012/13) dan Everton (2013/14).
Masa peminjaman yang luar biasa membuatnya ditebus oleh The Toffees di akhir musim dan selama kariernya di Goodison Park, Lukaku telah mencatatkan 166 penampilan dengan mencetak 87 gol dan 29 assist.
Siapa sangka, catatan apiknya selama berada di Merseyside tak mampu dia teruskan ketika menerima pinangan Manchester United di tahun 2019, dengan dia digadang-gadang akan membentuk duo raksasa dengan Zlatan Ibrahimovic.
Namun, Lukaku tidak mampu menemukan performa terbaiknya meski melewati dua periode manajer, dengan Jose Mourinho di musim pertamanya di Old Trafford dan Ole Gunnar Solskjaer di musim berikutnya.
Sebenarnya torehan yang dibuat Lukaku selama bersama Setan Merah tidak terlalu buruk dengan 42 gol dan 13 assist dari 96 penampilan yang dia buat di semua kompetisi, tapi itu tetap belum bisa memenuhi ekspektasi para penggemar.
Getty ImagesDinilai kurang tajam serta kehadiran Marcus Rashford yang sedang naik daun, membuat posisi Lukaku bersama Setan Merah semakin tersingkir, dan berujung pada kepindahan pemain internasional Belgia tersebut ke klub besar Italia Inter Milan pada musim panas 2019.
Di bawah asuhan Antonio Conte-lah pemain asal Belgia itu kembali menunjukkan tajinya sebagai seorang predator di depan gawang, setelah mampu memoles dan memaksimalkan performa Lukaku dengan sentuhan tangan dinginnya dan berhasil membawa Inter berada di peringkat kedua klasemen Serie A di musim debutnya sebagai bos di Nerazzurri.
Bahkan Lukaku mampu menjadi top skor klub dengan 34 gol di semua kompetisi, termasuk 23 gol yang menjadikannya pencetak gol terbanyak Serie A ketiga dibawah Ciro Immobile (36 gol) dan Cristiano Ronaldo (31 gol).
Strategi racikan Conte berhasil membuat Inter semakin berjaya di Italia dan terbukti dengan Scudetto yang mereka raih pada musim 2020/21 untuk memutus dominasi Juventus selama sembilan musim berturut-turut.
Dan sekali lagi, Lukaku terus melanjutkan tren positifnya di kota Milan setelah pemain berusia 28 tahun itu mencetak 30 gol di semua kompetisi, dan menjadikannya top skor kedua Serie A lewat 24 angka yang dia cetak.
Getty ImagesBeberapa waktu lalu, Conte memutuskan untuk meninggalkan Inter setelah mengembalikan kejayaan tim Biru Hitam di kancah sepak bola Italia, menyusul masalah keuangan yang menimpa klub.
Inter akhirnya memboyong Simone Inzaghi, yang dinilai sukses menukangi Lazio selama lima musim dengan mempersembahkan dua gelar Supercoppa Italia (2017/18 & 2019/20) dan satu Coppa Italia (2018/19).
Beban berat saat ini ada pada pundak Inzaghi dengan pertanyaan, apakah dia mampu memaksimalkan kualitas Lukaku seperti halnya yang dilakukan Conte seiring memberikan gelar kepada Nerazzurri.
Cara Inazghi hidupkan daya gedor Lazio
Inzaghi ditunjuk untuk menjadi manajer sementara Lazio untuk menggantikan Stefano Pioli. Dan uniknya, dia akhirnya di kontrak oleh Biancocelesti setelah Marcelo Bielsa mencampakkan klub Roma itu hanya dalam kurun waktu dua hari.
Salah satu tugas Inzaghi selama berada di Lazio adalah, untuk mengembalikan kualitas penyerang internasional Italia Ciro Immobile.
Getty ImagesImmobile ditebus Lazio dari Sevilla pada Juli 2016, setelah tak menemukan tempatnya di Spanyol dan harus dipinjamkan ke Torino selama setengah musim.
Pemain berusia 31 tahun itu sempat disinyalir akan menjadi bintang saat berseragam Borussia Dortmund, tapi dia tidak mampu tampil maksimal setelah hanya mencatatkan sepuluh gol dari 34 penampilannya di semua kompetisi.
Bahkan di dua periodenya berseragam Torino, Immobile hanya mampu mencatatkan 48 penampilan dengan 28 gol, sedangkan di Sevilla dia hanya tampil sebanyak 15 kali dan mengemas empat gol.
Namun berkat Inzaghi, penyerang internasional Italia itu mampu berada di level teratas dan menjadi salah satu bomber mematikan di sepak bola Eropa. Dia bahkan menjadi top skor Serie A pada musim 2017/18 (29 gol) dan 2019/20 (36 gol) serta pencetak gol terbanyak Liga Europa 2017/18 (8 gol).
Inzaghi memberikan peran penting bagi Immobile dalam strategi serangan Lazio, dan membuat dia sebagai penyerang tunggal di awal-awal kepelatihannya. Namun di musim ini, sang manajer selalu menduetkan mantan pemain Juventus tersebut dengan Joaquin Correa, membuatnya lebih nyaman lagi karena dia selalu menjadi seorang penyelesai akhir serangan.
Taktik Inzaghi akomodasi Lukaku
Mungkin salah satu alasan mengapa Inter akhirnya mengontrak Inzaghi adalah, karena strategi yang dia punya mirip dengan formasi Conte saat menangani Lukaku cs, yakni dengan 3-5-2.
Jika Lukaku sudah nyaman dan paham betul bagaimana formasi tersebut bekerja, tidak akan sulit bagi sang striker untuk beradaptasi dengan strategi milik Inzaghi, hanya beberapa detail saja yang harus diperhatikan oleh pemain berusia 28 tahun itu.
Memang, Inzaghi pastinya akan merasa terbebani karena petualangan Conte dengan Inter berakhir dengan meninggalkan jejak yang menggembirakan, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa saudara Filippo Inzaghi itu akan meneruskan keberhasilan pendahulunya tersebut.
Keberhasilannya mengembalikan performa Immobile dan mempertahankannya tetap berada di level tertinggi pasti akan dia terapkan kepada Lukaku agar pemain Belgia itu dapat terus menjadi predator andalan Inzaghi selama masa baktinya di Inter.
Inzaghi juga dapat memanfaatkan Lautaro Martinez untuk mempertajam lini serang timnya, seperti halnya yang dia lakukan kepada Correa di Lazio.




