Silvio Junior - Persebaya SurabayaPersebaya Surabaya

Silvio Junior: Lebih Mengerikan Dari Perang Azerbaijan-Armenia

Dua penggawa Persebaya Surabaya Silvio Junior dan Higor Vidal menggambarkan suasana di sekitar Stadion Kanjuruhan akhir pekan kemarin yang mengakibatkan 125 suporter Arema FC meninggal dunia.

Kerusuhan ini berawal dari kekecewaan Aremania yang menyaksikan tim kesayangannya menelan kekalahan 3-2 dari rival utama mereka di kandang. Saat pemain menyampaikan salam kepada fans, dan menyampaikan permintaan maaf, suporter pun masuk ke dalam lapangan.

Situasi masih kacau ketika polisi mulai melepaskan gas air mata, termasuk ke arah tribune, sehingga menciptakan kepanikan. Para korban meninggal dunia ini disebut akibat terdampak gas air mata dan terinjak-injak.

Junior mengungkapkan pemandangan yang mengerikan ketika mereka meninggalkan Stadion Kanjuruhan. Junior tidak menyangka kemenangan pertama Persebaya di Malang setelah 23 tahun berujung dengan tragedi. Menurut Junior, penggawa Persebaya sempat merayakan keberhasilan mereka tersebut.

Arema FC Persebaya SurabayaGetty

Bahkan Junior menggambarkan situasi itu lebih mengerikan dibandingkan perang etnis antara Azerbaijan dan Armenia. Sebelum berkarir di Persebaya, Junior pernah merumput di Liga Utama Azerbaijan bersama Kesla (kini berubah menjadi Shamakhi FK) pada 2020 saat perang etnis terjadi.

“Di kamar ganti, kami merayakan kemenangan. Tapi tiba-tiba polisi datang, dan bilang: 'Berhenti, berhenti...cepat lari, jika tidak, kalian tidak akan bisa pergi'. Kami langsung berganti pakaian dengan cepat, tanpa mandi terlebih dulu,” tutur Junior dalam program Esporte Espetacular di TV Globo.

“Polisi kemudian menghampiri dan mengawal kami. Semua serba terburu-buru. Benar-benar gila. Kami lalu berhasil keluar, dan masuk ke dalam kendaraan taktis (Rantis), dan selanjutnya hanya bisa menunggu.”

“Kami bertahan di selama beberapa jam, menunggu dan menyaksikan pemandangan itu. Ini sungguh nyata. Saya pernah di Azerbaijan, saat itu sedang perang dengan Armenia, dan dan saya tidak melihat hal-hal yang saya lihat di sana (Azerbaijan).”

Arema Persebaya KanjuruhanGetty Images

“Kami melihat melalui kaca depan Rantis. Pemandangannya seperti perang. Mereka melemparkan banyak benda. Mereka melemparkan benda yang membuat kaca Rantis retak. Ada sebuah mobil polisi di sebelah kami. Mereka merusak semuanya.”

Sementara Vidal tidak menyangka rivalitas antara Persebaya dan Arema akan sebesar itu. Menurut Vidal, derbi Jawa Timur ini lebih besar dibandingkan di Atletiba. Vidal tidak bisa membayangkan bila tim meninggalkan stadion dengan menggunakan bus.

“Saya diberitahu ini adalah laga klasik. Saya dari Curitiba, dan berpikir ini kurang-lebih akan sama seperti di Atletiba. Tapi ternyata lebih besar. Orang datang ke sana untuk mendukung timnya. Tensi sudah ada sejak awal hingga akhir pertandingan,” beber Vidal.

“Kami, sesama pemain Brasil berkomentar, jika kami berada di dalam bus, kami tentu akan mati. Kami bisa saja terbakar hidup-hidup di dalam bus. Anda tidak bisa membayangkan kejadian itu.”

0