Manajemen Bangkok FC telah memutus kontrak Aitsaret Noichaiboon setelah pemain tersebut menyikut penggawa North Bangkok University FC, Supasan Ruangsuphanimit, dalam pertandingan lanjutan Liga 3 Thailand akhir pekan kemarin.
Insiden penyikutan ini terjadi saat injury time. Supasan dan Aitsaret terlibat dalam duel memperebutkan bola. Ketika bola keluar lapangan, kaki Supasan sedikit menyentuh kaku Aitsaret.
Pemain bernomor punggung 6 ini marah, dan kemudian menghampiri Supasan. Tanpa diduga, Aitsaret melayangkan sikut ala Muay Thai yang mengenai wajah Supasan, sehingga pemain bernomor punggung 33 ini terkapar di lapangan. Wasit lalu mengganjar Aitsaret dengan kartu merah, sedangkan Supasan dilarikan ke rumah sakit akibat cedera yang cukup serius di wajahnya.
Hukuman terhadap Aitsaret tak hanya terjadi di lapangan. Selepas pertandingan, manajemen Bangkok FC mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan telah memutus kontrak sang pemain.
“Bangkok FC ingin bersikap tegas, dan tidak mendukung aksi yang melanggar sportivitas tersebut, termasuk kekerasan di lapangan,” demikian pernyataan manajemen melalui akun Facebook resmi klub.
“Klub terlah membatalkan kontrak Aitsaret Noichaiboon. Itu merupakan kejahatan serius terhadap rekan seprofesi. Klub sangat menyesali insiden itu, dan akan melakukan segala kemungkinan untuk mencegah kejadian seperti itu terulang lagi.”
Sementara itu, akibat ulah Aitsaret, Supasan harus mendapatkan 24 jahitan di bagian mulutnya. Luka jahitan ini sudah membaik, namun Supasan masih mengalami kesulitan untuk makan secara normal. Supasan terpajsa harus mendapatkan asumsi makanan cair.
Melihat situasi ini, Supasan selanjutnya menjalani pemeriksaan CT scan X-ray. Berdasarkan pemeriksaan itu ditemukan patah tulang pada tulang wajah, serta ada sedikit darah di rongga hidung. Kendati demikian, tidak ditemukan kemungkinan adanya gegar otak.

Presiden klub Pattama Rupsuwankul mengungkapkan, ia telah menyiapkan tim pengacara untuk mengajukan tuntutan hukum kepada Aitsaret. Apalagi pemain yang dicederai masih muda, dan salah satu mahasiswa tahun pertama yang mendapatkan bea siswa dari jalur atlet.
“Ini menjadi insiden terburuk dalam sejarah Liga Thailand, sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi,” ujar Pattama dikutip Goal Thailand.
