Saat peluit akhir wasit ditiup di Zagreb pada 25 Agustus lalu, beberapa pemain Sheriff Tiraspol jatuh terlebih dulu di lapangan Stadion Maksimir.
Pelatih kepala Yuriy Vernydub dan staf berpelukan sembari menari gembira. Sejumah rekan setim diabaikan kiper Giorgos Athanasiadis, penjaga gawang asal Yunani yang dipinjam dari AEK Athens, yang tengah mencoba menyerap apa yang baru saja terjadi.
Sheriff menorehkan sejarah. Menahan imbang Dinamo Zagreb 0-0, hasil yang sudah cukup untuk mengantar mereka ke fase grup Liga Champions. Ya, sebagai klub pertama dari Moldova.
Di era dimana sepakbola Eropa didominasi ketat oleh klub elite nan kaya, pencapian Sheriff layak diacungi jempol sebagai kisah hebat dan langka tentang kemenangan tim nonunggulan.
Ketika pengundian dilakukan beberapa hari kemudian, prestasi Sheriff ini terasa lebih mencolok.
Real Madrid, Inter dan Shakhtar Donetsk—klub Eropa paling sukses sepanjang masa, pemenang Liga Champions, dan juara Liga Europa—ketiganya berada di dalam kolam yang sama dengan Sheriff.
Pada Rabu (15/9), Sheriff bakal memulai Grup D dengan menjamu Shakhtar. Dua pekan berselang, mereka akan menjalani laga tandang pertama Liga Champions di Santiago Bernabeu.
Pada satu sisi, ini kisah ajaib. Namun di sisi lain, ini adalah kisah yang tidak lazim. Paling tidak bagi suporter dan ofisial klub yang akan menyebut Sheriff jadi “klub pertama dari Moldova” di kompetisi paling bergengsi antarklub Eropa.
Sheriff telah melalui jalan panjang untuk dapat tempat bersama Madrid dan Inter. Memulai Liga Champions musim 2021/22 sejak fase kualifikasi pertama, mereka harus melakoni empat putaran dan delapan pertandingan untuk sampai ke putaran final.
Mereka mengalahkan Teuta dari Albania, juara Armenia Alashkert, dan jagoan Serbia Red Star Belgrade sebelum Dinamo. Harapan mereka menjulang pasca-kalahkan raksasa Kroasia tersebut 3-0 di Tiraspol sebelum bermain imbang tanpa gol pada pertemuan kedua sekaligus pastikan langkah pertama ke UCL.
Sheriff telah mendominasi Liga Moldova selama bertahun-tahun. Mereka memenangkan 19 gelar liga sejak 2001, termasuk sembilan dari 10 gelar terakhir dan enam gelar berturut-turut sejak 2015. Semua ini diraih di tengah mayoritas populasi kota Tiraspol yang tidak menganggap diri mereka sebagai orang Moldova.
Tiraspol adalah ibu kota Transnistria, sebuah negara bagian yang telah memisahkan diri dan terletak di perbatasan Moldova-Ukraina. Di sana, mayoritas warganya adalah etnis Rusia, bukan Moldova.
Rusia memiliki konsulat dan kehadiran militer yang signifikan di Transnistria, dan pada 2014 parlemen semi-independen mereka meminta untuk bergabung dengan Rusia setelah aneksasi Krimea.
Mengingat lawan mereka tengah pekan ini adalah Shakhtar, yang harus pindah dari Donetsk sejak 2014 karena Perang Rusia-Ukraina dimana pencaplokan Krimea jadi salah satu sebab. Sejak itu, Shakhtar harus memainkan laga kandang di Kyiv. Maka dari itu, laga melawan Sheriff seharusnya bakal ciptakan beberapa letupan ketegangan yang menarik.
GettyTidak ada anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengakui Transnistria, jadi saat ini mereka tetap menjadi keanehan yang menarik minat para kutu buku geografi dan politik. Paling tidak karena mereka adalah satu-satunya negara dengan simbol palu dan arit Soviet pada benderanya.
Mengenai simbol, nama, dan logo Sheriff juga bikin penasaran. Klub sepakbola dari Moldova yang terasa ke-Amerika-Amerikaan.
Jawabannya? Uang.
Sheriff merupakan klub dinamai oleh perusahaan konglomerat yang dibentuk pada 1993 pasca-keruntuhan Uni Soviet, dan kini menjadi bisnis terbesar kedua di Transnistria.
Pemilik Viktor Gushan dan Ilya Kazmaly memiliki kuasa di hampir setiap bagian di wilayah tersebut, termasuk hak penamaan tim sepakbola lokal. Sheriff terkait dengan koboi seperti halnya Red Bull Salzburg dengan Crimson Cattle alias peternakan sapi di Michigan, Amerika Serikat.
Sheriff, yang juga memiliki bisnis pompa bensin, supermarket, saluran televisi, penerbit, jaringan telepon seluler, perusahaan konstruksi, dan pabrik roti, mendominasi lanskap komersial Transnistria berkat status politik yang tidak biasa. Negara yang memisahkan diri, yang tidak kondusif untuk menarik minat komersial eksternal.
Monopoli berarti uang, dan banyak uang yang berputar masuk ke kas klub. Moldova adalah salah satu negara termiskin di Eropa, yang berarti Sheriff FC memiliki keuntungan lebih besar atas rival mereka daripada kebanyakan klub super kaya di liga domestik masing-masing.
Getty ImagesSejak didirikan pada 1997 dan dipromosikan ke papan atas Moldova (Divizia Nationale) setahun berselang, Sheriff mengambil alih dominasi klub asal Soviet, FC Zimbru, dan menguasai liga yang bisa bikin Bayern Munich tersipu malu.
Dari kampanye liga yang digelar sepenuhnya pada abad ke-21, hanya pada musim 2010/11 dan 2014/15 Sheriff gagal memenangkan gelar.
Kompleks Stadion Sheriff, tempat mereka menggelar laga kandang, selesai dibangun pada 2002, dengan biaya sekitar $200 juta. Tercatat, tidak ada klub lain di Moldova, selain Zimbru, yang memiliki stadion atau kamp latihan sendiri.
Tapi butuh dua dekade untuk lolos dari fase Kualifikasi Liga Champions ke babak penyisihan grup. Perayaan di Zagreb tidak hanya menyenangkan, tapi juga melegakan.
Vernydub, pelatih asal Ukrania berusia 55 tahun, adalah orang yang akhirnya membawa Sheriff menembus batas. Sebelumnya, ia sukses membawa klub-klub tidak dikenal asal Eropa Timur ke ajang Eropa. Ia pernah mengantarkan Zorya Luhansk ke fase grup Liga Europa pada musim 2016/17.
Kala itu, Zorya mampu mengimbangi enerbahce dan Feyenoord, dan tampil mengagumkan melawan klub yang akhirnya menjadi juara, yakni Manchester United asuhan Jose Mourinho.
Skuadnya adalah campuran pemain dari Eropa Timur, Amerika Selatan, dan Afrika yang umumnya mengisi klub-klub dari wilayah tersebut untuk berjuang ke kancah Eropa.
Representasi Sheriff di Bernabeu dan Meazza bakal berkisar dari pemain asal Malawi sampai Uzbekistan, lalu Trinidad & Tobago sampai Luksemburg.
Jagoan Sheriff adalah Adama Traore, namanya sama seperti winger Wolves. Penyerang asal Mali itu mulai beraksi di Moldova setelah didatangkan dari Metz Februari lalu, mencetak sembilan gol dalam 16 pertandingan di liga.
Traore akan dipasangkan di lini depan dengan kapten klub, Frank Castaneda, pemain asal Kolombia yang mengantongi 33 gol dalam 43 laga di lintas ajang musim lalu.
Yang juga menarik adalah gelandang Sebastien Thill, yang akan coba menggigit dari lini tengah. Pemain asal Luksemburg itu adalah kakak dari alumni NXGN 2017, Vincent Thill.
Apa yang akan dilakukan klub majemuk ini melawan Karim Benzema dkk patut dinanti, dan apapun selain [prediksi] enam kekalahan beruntun harus dilihat sebagai pencapaian.
Apapun yang terjadi, Sheriff layak disimak dalam dan luar lapangan. Hanya, jangan panggil mereka Moldova.
