Inisiatif terbaru Serie A yang meluncurkan kampanye melawan rasisme di Italia memicu kontroversi dengan penggunaan poster yang mereka pilih menampilkan wajah-wajah monyet.
Seniman, Simone Fugazzotto, yang dikenal karena konsep penggambaran metaforis monyet sebagai manusia, menjelaskan bahwa niatnya adalah untuk "memutar balik konsep pelaku rasisme", menyoroti bahwa semua manusia berevolusi dari kera.
Keputusan liga untuk menampilkan poster tersebut secara permanen tidak mendapat respons yang baik, dengan sejumlah pemain sebelumnya seperti Romelu Lukaku dan Kalidou Koulibaly pernah menjadi sasaran rasisme yang mengandung unsur monyet dalam pelecehan yang diterima mereka.
Akibatnya, banyak suporter yang tidka mengetahui latar belakang pembuatan poster tersebut terkejut, namun manajer umum Serie A, Luigi De Siervo memberikan penjelasan dalam pertemuan pada Senin (16/12) kemarin bahwa seni lukisan wajah tiga monyet melambangkan perlawanan terhadap aksi intoleransi dalam sepakbola.
"Lukisan-lukisan Simona sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai permainan yang adil dan penuh toleransi, sehingga akan tetap dipajang di kantor pusat kami," terang De Siervo."Lega [Serie A] mengambil sikap kuat terhadap segala bentuk prasangka."
"Kami menyadari rasisme adalah masalah endemik dan sangat kompleks, jadi kami menghadapinya dengan tiga aspek - budaya, melalui karya seni seperti lukisan Simone, olahraga melalui serangkaian inisiatif, pemain dan klub, dan juga represif, berkat kerja sama dengan kepolisian."
"Dengan melakukan tiga aspek tersebut, kami yakin bahwa kami dapat memenangkan perlawanan terhadap sikap tidak terpuji yang merusak olahraga paling indah di dunia ini."
Sang seniman, Fugazzotto, juga tak ketinggalan memberikan menjelasan mengenai karya seninya yang telah memicu perdebatan, menuliskannya di Instagram: "Ide untuk kampanye ini sudah sejak lama. Saat itu 26 Desember [tahun lalu] dan saya melihat pertandingan Inter [Milan] lawan Napoli di stadion, laga yang menakjubkan yang ditentukan dengan aksi menit terakhir saudara saya Lautaro Martinez."
"Saya mendengar - dan tentu saja bukan yang pertama kalinya - cemoohan dan teriakan menirukan monyet ditujukan pada pemain hebat, Kalidou Koulibaly. Saya sangat marah tapi sebagai hasilnya saya mendapat ide: mengapa tidak berhenti menyensor kata-kata monyet di stadion dan membalikkan konsepnya dengan menyebut kita semua pada akhirnya adalah kera?"
"Karena jika kita adalah manusia, monyet, reinkarnasi jiwa, energi atau alien, siapa peduli, yang terpenting adalah mendengar konsep kesetaraan dan persaudaraan."
