Asosiasi Pemain Italia (AIC) menolak proposal klub-klub Serie A untuk memotong gaji para pemain hingga sepertiga atau setara dengan empat bulan di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19.
Senin (6/4) kemarin, klub-klub Serie A sudah mencapai kesepakatan soal opsi pemangkasan gaji dalam upaya meringankan kondisi finansial akibat krisis yang ditimbulkan oleh virus corona.
Kompetisi kasta tertinggi Italia telah mengalami penundaan tanpa batas waktu bulan lalu karena meluasnya wabah virus tersebut ke seluruh penjuru negara, hingga saat ini belum diketahui kapan kampanye musim ini bisa kembali dilanjutkan.
Jika opsi pemotongan gaji dinilai sebagai keputusan bagus oleh klub-klub yang tidak mendapat pemasukan signifikan selama masa vakum kompetisi, lain halnya dengan AIC yang menolak seperti dikatakan presiden mereka, Damiano Tommasi.
"Jika klub-klub Serie A bisa menggelar pertemuan untuk mengadakan kesepakatan tentang pemotongan gaji ketika faktanya, saat berdiskusi dengan para pemain masing-masing klub mencari solusi yang masuk akal, itu sangat mengkhawatirkan," kata Tommasi.
"Saya tidak bisa memahami logika bisnis di balik keputusan tersebut: menempatkan para pemain, aktor utama sepakbola, di posisi yang buruk, di saat semuanya sudah mendiskusikan dengan klub bagaimana cara keluar dari krisis ini bersama-sama. Terdengar gila bagi saya."
Wakil presiden AIC, Umberto Calcagno menambahkan: "Ide yang memalukan dan tidak bisa diterima. Indikasi jelas bahwa mereka tak ingin membayar pemain untuk kerusakan yang disebabkan oleh krisis. Satu-satunya bagian yang relevan dari siaran pers itu adalah yang mengatakan bahwa tim harus merundingkan perubahan kontrak dengan pemain secara individu."
Italia menjadi negara yang memiliki angka kematian tertinggi dengan lebih dari 16.500 korban jiwa akibat COVID-19, sementara jumlah kasus mereka telah melampaui 132.500.




