Gdansk, 2012. Masterclass! Memasuki akhir pertandingan kedua Grup C Euro yang dilangsungkan di Polandia dan Ukraina, Spanyol unggul telak empat gol tanpa balas atas Republik Irlandia. Bukan saja permainan Spanyol yang indah dipandang, tapi atmosfer Stadion PGE Arena saat itu takkan pernah dilupakan seluruh fans sepakbola dunia.
Bahkan Gerard Pique masih mengenangnya dengan sangat baik. "Mendengarkan mereka [fans Irlandia] bernyanyi sepanjang lima menit terakhir pertandingan... Saya akan mengenangnya seumur hidup," aku bek Barcelona itu.
Fields of Athenry sayangnya tidak mampu menyelamatkan langkah Irlandia di Euro saat itu. Kalah 3-1 di laga pertama dari Kroasia, Irlandia dituntut memetik poin saat menjamu tim juara dunia, Spanyol. Malang tak dapat ditolak. The Green Army diberondong empat gol tanpa balas meski menunjukkan perlawanan gagah berani. Lagu rakyat Irlandia itu pun berkumandang.
Fields of Athenry berkisah tentang perpisahan seorang pria dengan wanita yang dicintainya. Sang pria mencuri sepotong roti untuk memberi makan anak-anaknya. Sebagai hukuman, dia dibuang jauh ke Australia. Padang Athenry yang luas menjadi lambang cintanya yang abadi.
Tidak cuma Pique, sikap fans Irlandia itu mengundang tribut dari berbagai negara. Sejumlah komentator televisi menghentikan komentarnya saat siaran langsung supaya pemirsa bisa mendengarkan Fields of Athenry bergema dengan syahdu di seantero stadion. Fans Irlandia pun, meski tim mereka tersingkir, kian kukuh dalam mempertahankan gelar tak resmi sebagai suporter terbaik di dunia.
Kecintaan fans Irlandia terhadap timnas mereka kembali menyita perhatian selama Euro 2016 berlangsung. Mereka menyelamatkan nuansa kelam yang sempat menyelimuti penyelenggaraan Euro. Tragedi 13 November 2015 yang menyebabkan ratusan orang kehilangan nyawa mendorong Pemerintah Prancis memberlakukan situasi darurat sampai Euro selesai. Upaya itu tidak dianggap berlebihan karena faktor keamanan dan keselamatan sangat dipandang perlu dalam menyelenggarakan turnamen sebesar Euro 2016. Turnamen akan mempertemukan jutaan fans yang tak hanya datang dari 24 tim peserta selama sebulan penuh.
Saat turnamen dibuka 10 Juni lalu, sejumlah kota di Prancis, termasuk ibukota Paris, tengah dilanda kekacauan akibat mogok pekerja yang juga diwarnai sejumlah aksi demonstrasi. Euro 2016 sepertinya akan dikenang dengan berbagai insiden hooliganisme usai perkelahian suporter Inggris dengan Rusia di jalanan Marseille; sementara di Saint-Etienne sekolompok fans Kroasia berulah melempari cerawat ke dalam lapangan; dan pendukung Hongaria berkelahi dengan pihak keamanan Stade Velodrome, Marseille.

Tak segan berbaur dengan suporter lain, fans Irlandia menyelamatkan kegembiraan Euro 2016.
Suporter Irlandia berhasil mengembalikan makna festival dalam turnamen. Tanyakan itu pada Carla Romera, gadis 19 tahun asal Bordeaux, yang dirayu fans Irlandia ketika mengunjungi pub Connemara. Orang-orang Irlandia itu mungkin mabuk, tapi tingkah mereka sungguh jenaka. Mereka memberikan serenada agar Carla memberikan ciuman di pipi. Pada akhirnya seorang fans beruntung mendapatkannya.
Di Montemartre, Paris, fans Irlandia yang kebetulan melintas membantu menggantikan ban mobil sepasang warga senior. Mereka membuat gaduh di kawasan fan zone, tapi tertib. Saking amannya dan percaya, Pemerintah Prancis melonggarkan larangan peredaran dan konsumsi alkohol di kawasan fan zone. Fans Irlandia bahkan memberikan tepukan gemuruh ketika melihat petugas kebersihan Prancis mengakhiri aksi mogok dan kembali bekerja mengemudikan truk sampah.
"Lolosnya Irlandia ke turnamen ini adalah rahmat dari Tuhan," tulis jurnalis asal Jerman, Stephan Reich, ketika Irlandia memastikan lolos ke Prancis, akhir tahun lalu. "The Boys in Green akan bergembira dengan cara yang tak bisa diikuti negara lain. Mereka selalu tertib, selalu simpatik dan empatik, dengan kegembiraan ala kanak-kanak yang menular."

Salah satu contoh selera humor fans Irlandia.
Bukan kebetulan jika Jerman menjadi negara pertama yang mengakui keistimewaan fans Irlandia. Kembali ke Euro 1988, Irlandia merayakan penampilan pertama mereka di turnamen besar sepakbola dunia dengan kemenangan gemilang 1-0 atas Inggris di Stuttgart. Ray Houghton mencetak gol bersejarah ke gawang saudara tua itu. Kemenangan dirayakan gegap gempita oleh para pendukung dan skuat asuhan Jack Charlton.
Saking gembiranya, konon, presiden asosiasi sepakbola Irlandia, Fran Fields, berkata kepada wali kota Stuttgart, Manfred Rommel, "Malam ini kami melakukan apa yang gagal dilakukan generasi kakek Anda, yaitu mengalahkan Inggris."
Tapi barulah di Piala Dunia dua tahun berikutnya, Fields of Athenry mulai berkumandang dan melekat sebagai salah satu simbol tak terpisahkan dari sepakbola Irlandia. Ode yang mengambil setting zaman Perang Saudara Irlandia pertengahan abad 19 itu menemani kepahlawanan The Green Army dalam mencapai babak perempat-final pada partisipasi Piala Dunia pertama dalam sejarah. Di babak itu, Irlandia dihentikan tuan rumah Italia dengan skor tipis, 1-0.

Robbie Brady menjadi pahlawan Irlandia saat mengalahkan Italia.
Itulah Irlandia. Seperti senandung dalam Fields of Athenry, tak jarang Irlandia memberikan kejutan dalam turnamen dengan penampilan yang gagah berani, tapi berakhir dengan tragis. Kemenangan historis atas Inggris di Euro 1988 berakhir dengan kekalahan dari Belanda, yang akhirnya menjuarai turnamen, pada laga penentuan grup.
Irlandia membalas dendam kepada Belanda pada kualifikasi Piala Dunia 2002, tetapi persiapan mereka mengikuti turnamen di Korea Selatan dan Jepang diwarnai insiden Saipan yang mengakibatkan pemulangan Roy Keane dari dalam skuat.
Italia pernah dikejutkan Irlandia pada Piala Dunia 1994 dan hal itu kembali terulang di Euro tahun ini. Sundulan Robbie Brady pada menit ke-85 berhasil membawa Irlandia untuk kali pertama menembus fase gugur di putaran final Euro. Di babak 16 besar, Irlandia berhadapan dengan tuan rumah Prancis.
Sebuah pertemuan yang juga pernah dikenang dengan tragis. Pada play-off kualifikasi Piala Dunia 2010, Prancis mengalahkan Irlandia berkat insiden handball yang dilakukan Thierry Henry. Kapten Les Bleus itu menahan bola dengan tangan, lantas mengirimkan bola kepada William Gallas yang sudah menunggu di depan gawang Shay Given. Gol Gallas memberikan Prancis tiket ke Afrika Selatan berkat keunggulan agregat 2-1.
Pembalasan dendam pun membayangi pertandingan babak 16 besar Euro 2016, Minggu (26/6) esok. Dibumbui selera humor khas Irlandia, dalam pesan promosinya maskapai penerbangan bertarif rendah Ryanair siap menerbangkan fans dari Dublin dengan batasan operasional khusus penumpang "with hand baggage only", sebagai bentuk "penghormatan" atas insiden handball Henry.

Pemandangan hijau yang layak ditunggu di Stadion Parc Olympique Lyonnais nanti.
Shane Long menepis motivasi balas dendam itu. "Kami akan menghadapi tim Prancis yang bagus dan di kampung halaman mereka sendiri. Pertandingan akan berjalan sulit, tapi kami siap menghadapi tantangan ini dan kami harap bisa memberikan kejutan. Kejadian handball Henry? Tidak ada dalam pikiran kami," tukas striker Irlandia yang mulai dipercaya menggeser posisi Robbie Keane itu.
Balas dendam atau tidak, para pemain Irlandia tidak peduli. Mereka akan berlari dan terus berlari seakan sedang melintasi padang Athenry yang luas dengan penuh cinta. Jeff Hendrick akan menggeber lini tengah tim selayaknya seorang gitaris band rock cadas; kaki-kaki Wes Hoolahan akan berdansa kreatif seperti julukannya sebagai "The Irish Iniesta"; Long akan terus mengintai sudut tak terkawal gawang Hugo Lloris; dan semua itu dijamin dengan dukungan fans Irlandia yang sepenuh hati.
Lyon, 2016. Mungkin Irlandia akan memberikan kejutan kepada Prancis. Mungkin pula petualangan cinta para suporter Irlandia memang secara tragis harus berakhir di kaki tuan rumah. Jika Irlandia akhirnya memang harus mengakui keunggulan, percayalah mereka akan meninggalkan lapangan dengan kepala tegak. Dan, seperti Carla Romera yang sedang dirayu oleh para suporter Irlandia, Fields of Athenry akan kembali bergema sebagai serenada untuk seluruh pencinta sepakbola dunia.
