4289ceb492b7e06b043bb4af158c8c641e89da2a

Sensasi Austria Tak Dibangun Dalam Semalam


GOALOLEHAGUNG HARSYAIkuti @agungharsya di twitter

Austria bersukacita merayakan kemenangan 4-1 atas tuan rumah Swedia, Selasa (8/9) malam, karena untuk kali pertama memetik hasil jerih payah sendiri dalam menggapai putaran final Kejuaraan Eropa. Sebelumnya, pada 2008, partisipasi Austria ditentukan berkat status sebagai tuan rumah bersama. Pelatih Marcel Koller menuai pujian atas keberhasilan ini, tapi sukses Austria didapat setelah beberapa kali membentur kegagalan.

Kejayaan sepakbola Austria adalah warisan dunia lama. Dalam buku sejarah pasti banyak ditemukan rujukan tentang Matthias Sindelar, pelatih Hugo Meisl dengan formasi WM kegemarannya, Wunderteam, serta dua kali kesuksesan Austria menggapai semi-final Piala Dunia 1934 dan 1954. 

Rujukan bersejarah selanjutnya tentang sepakbola Austria adalah romansa Cordoba. Ketika itu dua gol Hans Krankl menundukkan Jerman Barat 3-2 dalam pertandingan terakhir mereka di Piala Dunia 1978. Empat tahun berselang di Gijon, Spanyol, kedua tim malah bermain mata guna menyingkirkan Aljazair.

Nyaris sepanjang lebih dari 30 tahun tak ada lagi yang bisa diceritakan tentang sepakbola Austria. Partisipasi di Piala Dunia 1990 dan 1998 berakhir dengan kegagalan di fase grup. Itulah partisipasi terakhir mereka di Piala Dunia. Jika tidak ditunjuk menjadi tuan rumah bersama Swiss, belum tentu Austria pernah merasakan langsung pengalaman di putaran final Euro.

Wajar kalau kemenangan besar 4-1 di Stockholm dirayakan dengan gegap gempita oleh publik Austria. Koller mengaku belajar banyak dari pengalaman menangani Das Team sejak 2011. Terutama ketika dikalahkan Swedia di pertandingan menentukan kualifikasi Piala Dunia 2014, dua tahun silam.

"Kami berjarak lima menit saja untuk melaju ke play-off Piala Dunia. Tapi meski kami terus berkembang, dalam satu dua situasi kami masih kekurangan jam terbang dan mungkin ketenangan. Keduanya diperlukan untuk bersaing dengan tim papan atas," jelas pelatih berkebangsaan Swiss itu dilansir laman resmi FIFA tahun lalu.

"Kami ingin belajar dari kesalahan yang kami buat selama dua tahun terakhir dan tampil lebih baik di kualifikasi Euro."

6eb14704d6a8dd62ab4445044a3309645d7b903e

Rekor Austria di babak kualifikasi hanya kalah dari kesempurnaan Inggris.

Tanpa perlu menyita banyak perhatian, Austria mengukir rekor super. Setelah diimbangi Swedia 1-1 pada laga perdana, Das Team memetik tujuh kemenangan beruntun! Di antara seluruh peserta kualifikasi, rekor Austria hanya kalah dari Inggris yang memetik hasil sempurna. Impresif.

Lebih impresif lagi karena ketika ditunjuk Koller bukan lah pelatih super. Selepas pensiun sebagai gelandang Grasshoppers dan timnas Swiss, Koller beralih menjadi juru taktik. Klub terakhir yang ditanganinya adalah VfL Bochum. Selama empat tahun jabatan itu diembannya sebelum dipecat pada 2009.

Prestasi terbaik kepelatihan Koller adalah membawa Bochum promosi ke divisi teratas Bundesliga pada 2006 dan di musim berikutnya menduduki peringkat kedelapan klasemen akhir. Hubungan Koller dengan fans Bochum tak bisa dikatakan baik karena keputusan melepas sejumlah pemain favorit, prestasi yang memburuk, dan gaya permainan yang membosankan.

Total kemenangan yang diraih Koller selama berkarier sebagai pelatih adalah 41 persen. Tak banyak ekspektasi yang diharapkan ketika Koller dipercaya menangani timnas Austria mulai 1 November 2011. Tanpa nyana Koller mampu mengubah warisan dunia lama sepakbola Austria menjadi kisah sukses di era modern.

4289ceb492b7e06b043bb4af158c8c641e89da2a

Koller belajar dari pengalaman gagal di kualfikasi Piala Dunia 2014.

Koller menghendaki para pemainnya bermain proaktif. Austria banyak mengandalkan serangan balik sehingga membutuhkan kecepatan dan transisi yang tak kalah cepat. Resep berikutnya, banyak melakukan pressing. Tak sedikit pelajaran berharga yang diserap Koller ketika menyaksikan lima pertandingan Piala Dunia di Brasil.

Sukses Jerman, negara tetangga mereka, menjadi rujukan berharga bagi Koller.

"Jerman lama bekerja keras dalam meraih sukses juara dunia. Mereka menghabiskan sepuluh tahun bersama Joachim Low dan beberapa kali hampir meraih sukses, tapi gagal," imbuh pelatih 54 tahun itu.

"Meski demikian, mereka tak pernah kehilangan ketenangan atau kesabaran. Mereka malah terus berkembang. Lihat pemain seperti Lukas Podolski atau Philipp Lahm yang masuk skuat saat berusia 20 tahun dan harus menunggu sampai berusia 29 atau 30 untuk meraih gelar pertama mereka."

"Butuh pengalaman untuk mencapainya."

Memang Austria tidak sedang bermimpi menjadi juara dunia, tapi dalam skala yang lebih kecil Koller terinspirasi sukses Jerman. Prinsip mempertahankan susunan tim terbaik dipegang teguh oleh sang pelatih. Formasi inti 4-2-3-1 diusung dengan mengedepankan para pemain berpengalaman.

David Alaba, 23 tahun, dan Aleksandar Dragovic, 24 tahun, adalah dua pemain paling muda di starting eleven. Keduanya sudah menjadi andalan di tim masing-masing, yaitu Bayern Munich dan Dynamo Kyiv. Mereka dikelilingi para senior seperti Sebastian Prodl, Zlatko Junuzovic, Martin Harnik, Marko Arnautovic, dan Marc Janko.

Dalam delapan pertandingan menuju Prancis 2016, Austria hanya kebobolan tiga gol. Rusia dikalahkan dua kali, kandang dan tandang. Terakhir, Swedia dipermalukan di rumahnya sendiri. Sensasional, tulis laman resmi UEFA.

74809d39ef2fb43cc57d0e8db9096a3de45395b7

Susunan tim inti andalan Koller memiliki rata-rata usia 27,5 tahun.

Sanjungan tak pelak mengalir buat Koller. Dia dianggap impor lintas Alpen paling berhasil di negara bersuhu sejuk itu. Sang Trainergott dinilai berhasil mengasah fondasi tim yang telah dibentuk oleh pelatih terdahulu, Dietmar Constantini. Bahkan memperbaikinya dengan memperkenalkan sistem bermain yang adaptif.

Bagi Koller, permainan Austria tak mesti selalu menerapkan "Schokoladen-Fussball" - sepakbola cokelat. Permainan sepakbola yang menghibur memang penting, tapi Koller tak alergi dengan gaya permainan yang mengedepankan hasil akhir.

"Ini menjadi langkah penting lainnya," kata Koller dilansir Kleinezeitung ketika Austria hanya sanggup mengalahkan Moldova 1-0 di kandang sendiri akhir pekan lalu. "Kami tak perlu harus selalu menang dengan skor 3-0 atau 4-0."

"Pertandingan ini memberikan pengalaman penting kepada pemain. Ada kalanya harus bermain sabar ketika pemain dibutuhkan tampil tenang dan menunggu datangnya peluang. Kami harus memanfaatkan pengalaman seperti ini."

Sabar dan tenang. Sama seperti penantian Austria tampil di kejuaraan besar pertama sejak 2008. Seperti itu pula pendekatan Austria saat tampil di Prancis tahun depan. Frankreich, wir kommen! Prancis, kami datang!

a0dcd893453875f5f7e8fb9cf242bb630ef3b613

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google