Saul Niguez belajar banyak dari keluarganya – yang memang hidup dari sepakbola – di tengah masa yang penuh ketidakpastian dalam kariernya.
Ayah Saul, eks-pesepakbola bernama Boria, membimbingnya bersama dua kakak laki-lakinya, Aaron dan Jony, yang masih aktif bermain hingga kini.
Dukungan dari keluarga terasa seperti angin segar di tengah bulan-bulan pertama yang semrawut di Chelsea, dan mungkin bisa meyakinkan hierarki klub untuk menggunakan opsi pembeliannya yang dibanderol £30 juta musim panas tahun depan.
Demi menyembuhkan performa buruknya di Atletico Madrid dan membangkitkan kariernya, pemain 26 tahun itu mengamankan kesepakatan peminjaman ke Chelsea di menit-menit terakhir bursa transfer.
Ia melakoni debutnya di Liga Primer saat menjamu Aston Villa, tetapi langsung ditarik saat turun minum karena ia jelas-jelas belum terbiasa dengan ritme sepakbola Inggris.
Kendati begitu, Thomas Tuchel tetap terkesan dengan sikap gelandang barunya di sesi latihan, dan sejak saat itu Saul sudah lebih berkembang di empat penampilan selanjutnya.
"Ia butuh waktu dan adaptasi dan berada di tempat yang ideal untuk berevolusi, terus berkembang, dan memulihkan level olahraganya," ujar Jony, kakak tertuanya, kepada Goal.
Kakak keduanya, Aaron, berkata: "Buat saya, [Chelsea] tim ideal untuknya. Ia selalu menonton Liga Primer saking sukanya."
"Ia menyukai intensitasnya, vertikalitasnya, dan khususnya fans-nya, mereka selalu membantu pemain dan tim mereka, apalagi di momen-momen yang kurang baik. Cesar [Azpilicueta] dan Kepa [Arrizabalaga] sangat membantu adaptasi Saul."
"Saya yakin Saul butuh beradaptasi seperti pemain mana pun, tetapi saya juga yakin versi terbaiknya akan segera terlihat."
Kesulitannya beradaptasi dengan sepakbola Inggris cuma hal remeh jika dibandingkan dengan apa yang harus ia lalui di masa lampau. Ingatkah Anda akan cedera Saul saat ia melakoni pertandingan Liga Champions babak gugur pertamanya? Saat itu Atletico Madrid melawan Bayer Leverkusen pada 2015.
Bek Kyriakos Papadopoulos secara tak sengaja menendang perut Saul, ia sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena permasalahan serius yang menimpa ginjal kirinya. Empat puluh hari kemudian, ia sudah bisa kembali, tetapi harus meminum obat anti-radang dan disuntik pereda nyeri cuma untuk bermain.
Obat-obatan tersebut memengaruhi kemampuan Saul untuk berlaga, sehingga ia beralih ke menu vegetarian, dan pantang melahap daging dan telur. Di bawah pengawasan ahli gizi Johnny Ondina, yang merupakan mantan pesepakbola profesional dan bekerja sebagai staf Valencia, Saul sukses memulihkan kondisi fisiknya.
"Saya dan Saul sudah bekerja [bersama] selama kira-kira tiga tahun," ujar Ondina kepada Goal. "Ia adalah salah satu profesional terbaik yang pernah saya temui dan, ditambah lagi, kini kami berkawan."
"Lewat kakaknya, Aaron, kami membicarakan menu nabatinya. Mudah sekali bekerja bersamanya. Corak fisiknya sangat komplet dan perhatian yang ia berikan kepada tubuhnya membuat Saul menjadi salah satu elite dunia."
Saul merangkul kehidupan Inggris dengan hidup di London tengah dan segera memelajari bahasanya. Dedikasi itu ia warisi dari sang ayah, yang merupakan seorang legenda di klub masa kecilnya, Elche.
"Pengaruh ayah kami sangat luar biasa tetapi ia tak pernah memaksa kami untuk melakukan apa pun," jelas Jony. "Ia menjelaskan ke kami bahwa kehidupan sebagai pesepakbola membutuhkan waktu dan pengorbanan. Ia selalu mendukung dan menasehati kami. Keputusan di tangan kami dan kami harus tahu bahwa tak mudah mencapai berbagai hal."
Aaron menambahkan: "Ayah saya, sejak usia yang masih sangat muda, mengajari kami untuk tunduk pada usaha, kerja harian, disiplin, dan terutama kegigihan."
"Ia mengajarkan berbagai nilai lewat sepakbola, misalnya latihan tak terlihat, bagaimana makan dan beristirahat teratur. Di antara lima dan 10 tahun, ia mengharuskan kami beristirahat setelah makan siang dan di malam hari. Tak peduli sedang akhir pekan atau [libur] musim panas, kami selalu pergi tidur pukul 10 malam."
Tujuan akhir Saul adalah memulihkan kebolehan yang ia tunjukkan di awal kariernya di La Liga, yang mestinya bisa membuat ia dipanggil timnas Spanyol menjelang Piala Dunia 2022.
Di samping itu, Saul selalu berhubungan dengan keluarganya.
Pada Maret 2020, saat dunia dilanda pandemi Covid-19, Saul meluncurkan proyek bernama 'Saldremos Juntos'('Kita akan keluar dari ini bersama-sama'). Proyek tersebut mendukung pemilik bisnis kecil untuk bisa menghadapi terpaan krisis finansial yang disebabkan pandemi.
Bersama kakaknya, Aaron, ia juga menjalankan Club Costa City Academy, yang membantu membentuk pemain-pemain muda dari Elche.
"Bagi semua orang di Elche dan semua anak laki-laku dan perempuan di klub itu, Saul adalah teladan mereka," imbuh Aaron. "Di luar karier sepakbolanya yang brilian, saya ingin menyoroti tindakannya saat ia bersama kami di Club Costa City."
"Ia menularkan kerendahan hatinya dan, yang terpenting, kemampuannya untuk bertumbuh."
Nilai-nilai tersebut sudah disaksikan Chelsea secara langsung.
The Blues adalah klub yang mengerti pentingnya memiliki seorang manusia berkualitas dan tidak cuma menumpuk pemain bagus ke dalam skuad penuh bintang mereka yang sukses merajai Eropa.




