Bekas bek Sao Paulo, Flavio Donizete mengungkapkan kisah kelamnya saat kecanduan narkoba hingga membuatnya rela menjual aset berharga dalam hidupnya.
Donizete muncul di Morumbi sebagai pemain muda, dan musim keduanya di klub bertepatan dengan salah satu tahun paling sukses dalam sejarah Sao Paulo.
Ia memainkan sedikit peran sepanjang 2005 ketika Sao Paulo memenangkan kompetisi negara bagian Paulista dan Copa Libertadores sebelum melengkapinya dengan juara Piala Dunia Antarklub selepas mengalahkan Liverpool.
Sang bek sentral masuk ke dalam skuad saat itu karena cedera yang dialami Leandro Bonfim, meski tidak bermain saat Sao Paulo mengalahkan Liverpool dengan skor 1-0.
Namun, perolehan medalinya dari turnamen tersebut, justru dikorbankannya demi memenuhi hasrat kecanduan narkoba yang merusak karier yang dianggap menjanjikan pada mulanya.
"Saya menjualnya untuk membeli narkoba. Saya menjualnya seharga 7000 reais (sekitar Rp18 juta)," ungkapnya kepada Globoesporte.
"Ketika saya menjualnya, uang saya terima dan saya menghabiskan hampir semuanya untuk membeli kokaina. Pembelian pertama adalah 1000 reais kokaina. Saya memakainya habis dalam dua hari. Semakin banyak yang yang saya miliki, semakin banyak narkoba yang saya ingin beli."
"Setelah saya menyentuh kokaina, saya kehilangan segalanya. Karena pada awalnya saya adalah pemakai biasa. Sampai akhirnya kecanduan, saya mulai kehilangan semua yang saya miliki. Semua uang yang saya tabung, saya gunakan untuk membeli narkoba. Saya benar-benar kecanduan. Pagi, siang dan malam saya harus memakai kokaina."
"Semua uang dalam rekening tabungan, harta benda saya, saya mulai kehilangan semuanya. Saya kehilangan segalanya, kecuali istri, anak dan keluarga, yang masih menemani saya sampai sekarang."
Selepas 2005, Donizete melewati berbagai masa pinjaman bersama Portuguesa, America dan Nacional di Sao Paulo sebelum dilepas pada 2009 lalu.
Sekarang, berusia 36 tahun, Donizete sudah terbebas dari narkoba dan bekerja sebagai tukang kebun di kota Americana, pedalaman negara bagian Sao Paulo.
Ia masih bermimpi bisa kembali menjadi pemain sepakbola profesional, dan benar-benar menyesali masa kelamnya: "Penyesalan terbesar saya adalah pernah mencoba kokain. Itu menghancurkan saya."


