Santiago Solari, Solusi Semu Real Madrid?

Santiago Solari Real Madrid 2018-19Getty Images

Bukan nama-nama top layaknya Mauricio Pochettino, Antonio Conte, atau Arsene Wenger yang dipilih Real Madrid untuk mengisi kursi kosong pelatih kepala, seiring pemecatan Julen Lopetegui di pengujung Oktober lalu.

Adalah pelatih Castilla (Madrid B), Santiago Solari, yang akhirnya dipromosikan ke tim utama sebagai pelatih sementara. Pilihan yang mengecewakan bagi media dan publik, yang tentu berharap hadirnya nama besar di dunia kepelatihan untuk klub terbesar di dunia.

Namun dari sudut pandang Madrid, pilihan "tradisional" itu cukup realistis. Los Blancos tak punya banyak waktu karena pencarian terjadi di tengah musim yang berjalan dan butuh sosok yang tak perlu membuang waktu untuk beradaptasi dengan atmosfer, filosofi, serta tekanan di tubuh klub.

GFX Santiago Solari - Playing Surface
Getty

Solari, selain jadi pelatih Castilla selama lebih dari dua tahun, juga merupakan eks pemain Madrid yang mengabdi selama lima musim lamanya. Terdapat pula hegemoni presiden klub, Florentino Perez, untuk mempromosikan pelatih Castilla seiring perjudian supersuksesnya terhadap Zinedine Zidane.

Impresi yang diberikan Solari setelah diangkat sebagai pelatih sementara pun tergolong fantastis. Dari empat laga pimpinannya di semua ajang, Madrid selalu menang dengan gelontoran 15 gol dan hanya kebobolan dua gol.

Sebelum jeda internasional atau tepatnya pada 13 November lalu, Solari lantas resmi diangkat sebagai pelatih kepala Madrid. Dia dikontrak sampai musim panas 2021. El Real melalui Perez amat optimistis bahwa pria asal Argentina itu adalah solusi untuk pertahankan kejayaan timnya di Spanyol maupun Eropa.

"Solari sangat pintar. Dia tahu apa yang dibutuhkan tim dan terutama apa yang klub ini inginkan. Dia sudah memberi bukti dalam waktu singkat dan kami memiliki sikap saling percaya yang besar," ungkap Perez melalui laman resmi klubnya.

GFX Santiago Solari - Playing Surface

Dari yang tadinya memaklumi, pro dan kontra mulai hadir usai Madrid meresmikan status Solari. Dua faktor yang melatari, yakni waktu pembuktian yang terlampau singkat dan performa riskan yang samar terlihat dalam rentetan kemenangan.

Mengesampingkan hasil 4-0 atas tim divisi tiga, UD Melilla, di ajang Copa del Rey, tiga kemenangan Madrid lainnya di bawah asuhan Solari begitu terasa keriskanannya.

Kemenangan 2-0 atas Real Valladolid di ajang La Liga baru bisa dipastikan di sisa tujuh menit akhir laga. Segalanya bahkan bisa berubah andai tembakan Toni Villa di menit ke-80 tak menerpa mistar gawang Madrid.

Pun halnya dengan kemenangan 4-2 di kandang Celta Vigo. Madrid kembali mencetak dua gol pemasti kemenangan di sisa tujuh menit akhir laga. Mereka bahkan kalah dominasi bola (48 persen) dan menderita serangan lebih banyak (20 kali).

Bahkan kritik tetap bisa disematkan pada Madrid tatkala membantai Viktoria Plzen 5-0 di Liga Champions. Kendati gelontorkan lima gol, mereka menderita 12 serangan dan kedudukan di papan skor bisa saja ketat andai Keylor Navas tak tampil brilian.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

Segala keriskanan itu pada akhirnya menguap ke permukaan, Sabtu (24/11). Lakoni laga yang diprediksi ringan dengan bertandang ke markas Eibar, Madrid menderita mimpi buruk keduanya musim ini setelah pembantaian di El Clasico.

Madrid dihajar 3-0 disertai performa jauh dari standar minimal Galacticos. Dua gol diantaranya terjadi karena blunder dan Eibar bisa saja merentangkan jarak lebih jauh, karena mampu lepaskan 14 tembakan dengan delapan di antaranya tepat sasaran. Jumlah itu lima lebih banyak dari yang dicatatkan Karim Benzema cs.

Menjadi semakin ironis karena partai tersebut merupakan debut Solari sebagai pelatih resmi Madrid. Dia urung hadirkan perubahan taktik krusial karena sepakbola berputar-putar ala Lopetegui masih kental terasa dan gagal tanamkan motivasi melalui team-talk membara di jeda babak khas Zidane.

Kritik tersirat pun dilancarkan oleh pemainnya sendiri, Rapahel Varane. "Kami memiliki kualitas untuk bermain sepak bola, tetapi kami tidak dalam cara yang baik secara kolektif. Kami kalah dalam pertempuran langsung dan tidak dapat menemukan solusi," ujarnya pada beIN Sport, yang uniknya langsung didinginkan Solari bahwa Varane cuma terbawa emosi.

Santiago Solari Beckham Zidane Real Madrid PS

Jika digali lebih dalam, Solari juga bukanlah pelatih pemula yang spesial layaknya Zidane. Memulai petualangan dan hanya pernah beredar di akademi Madrid, rekornya bersama Castilla tergolong buruk karena hanya catatkan rerata 1,45 poin per partai. Tim asuhannya bahkan kebobolan 92 gol dengan hanya mencetak 112 gol dari 84 laga.

Zidane miliki rekor yang lebih baik lewat rerata 1,61 poin per partai dari 41 laga. Selain juga karena mental juaranya sudah terbentuk dalam karier spektakulernya sebagai pemain, dia merupakan tangan kanan Carlo Ancelotti yang persembahkan La Decima Liga Champions untuk Madrid sebelum melatih Castilla.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Kejam jika kita kemudian mendengungkan kata "pemecatan" pada Solari, karena segala hal positif dan negatif yang dihasilkannya masih terlampau dini untuk dihakimi. Namun tentu saja dua bentrok selanjutnya melawan AS Roma di Liga Champions dan Valencia di La Liga, bakal berikan tekanan lebih besar padanya.

Di atas kertas dua lawan tersebut adalah yang paling kompetitif dan terberat di sisa kalender 2018. Jika gagal melaluinya lewat cara meyakinkan, Madrid tampaknya harus cepat sadar bahwa Solari merupakan solusi semu yang mereka ciptakan.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Goal Indonesia (@goalcomindonesia) on

Footer Banner La Liga