Andrea Pirlo Cristiano Ronaldo Juventus GFXGetty/Goal

Salah Kaprah Sejak Awal! Juventus Terancam Rugi €90 Juta Usai Tunjuk Andrea Pirlo Karena Murah

Ketika Gennaro Gattuso ditanya mengenai sahabat sekaligus mantan rekan setimnya, Andrea Pirlo yang menerima jabatan sebagai pelatih Juventus pada musim panas lalu, ia menjawab, "Wah, kacau!"

Tentu saja ia bercanda, tapi sekarang kata-kata Gattuso itu mulai terbukti: musim pertama Pirlo sebagai pelatih tanpa pengalaman menghasilkan bencana.

Juve yang memulai musim 2020/21 ini dengan target meraih Scudetto kesepuluh secara beruntun, nyatanya tidak mampu mewujudkannya. Alih-alih mempertahankan gelar juara, kini mereka terancam finis di luar empat besar yang berarti tidak bisa tampil di Liga Champions musim depan. Situasi yang bisa memperburuk masalah finansial yang sudah ada.

Kekalahan akhir pekan lalu 3-0 dari sesama rival empat besar, AC Milan membuat Bianconeri terpuruk di posisi kelima, belum cukup terdongkrak meski baru meraih kemenangan 3-1 atas Sassuolo, Kamis (13/5) dini hari WIB.

"Target kami adalah membuktikan bahwa kami pantas lolos ke Liga Champions," kata Pirlo sebelum duel di markas Sassuolo. "Dan kami hanya bisa mewujudkannya dengan hasil. Kami kecewa setelah kalah dari Milan, tapi target kami tidak berubah. Kami punya kewajiban untuk tetap yakin."

Tapi klub tidak lagi percaya padanya...

Menurut laporan Gazzetta dello Sport, direktur teknis Fabio Paratici dan wakil presiden Pavel Nedved terlibat dalam adu argumen di depan bus tim yang parkir di Allianz Stadium, Senin (10/5), mereka berbeda pandangan soal peluang pemecatan Pirlo.

Paratici sudah hilang kesabaran, ingin memecat Pirlo dan menggantinya dengan asisten pelatihnya, Igor Tudor setidaknya untuk sisa kampanye Serie A musim ini serta final Coppa Italia lawan Atalanta. Namun Nedved berkata sebaliknya, masih menaruh kepercayaan pada Pirlo.

Akan tetapi, seperti yang diungkapkan oleh jurnalis Goal, Romeo Agresti, mayoritas direksi Juventus memutuskan untuk tidak memecat Pirlo agar tidak semakin mengguncang stabilitas klub yang sudah goyah menjelang akhir musim.

Situasinya kini genting. Bahkan sukses finis di empat besar pun tidak akan bisa menyelamatkan nasib  Pirlo. Juve sudah mulai bergerak mencari penggantinya, mulai dari memanggil kembali eks pelatih mereka, Massimiliano Allegri hingga bos Real Madrid, Zinedine Zidane.

Klasemen Serie AGoal

Ketika proyek Pirlo dimulai pada Agustus tahun lalu, Paratici mendeskripsikannya sebagai pilihan alami yang cocok menggantikan Maurizio Sarri sebaga nahkoda tim.

Tidak ada yang tahu waktu itu. Penunjukannya mengejutkan bagi sepakbola Italia karena dua alasan, karena seperti keputusan yang terburu-buru dan juga faktanya Pirlo bahkan belum sempat menyelesaikan kursus kepelatihannya.

Kurang dari 24 jam setelah Juve dikalahkan Lyon di babak 16 besar Liga Champions 2019/20, mereka memecat Sarri, yang sebenarnya baru membawa tim merengkuh Scudetto kesembilan secara beruntun dan menggantinya dengan Pirlo yang awalnya didapuk untuk menangani tim U-23.

Pemecatan Sarri didasari oleh gaya kepelatihannya yang dianggap tidak cocok dengan Juventus dan terbukti mengalami masa sulit meski mampu juara. Banyak yang mencibir mereka juara karena punya kekuatan tim yang luar biasa, seperti yang dikatakan oleh Sarri, "Kalian pasti bagus jika berhasil juara bersama saya."

Tapi faktanya skuad Juve sekarang tidak sebagus itu; atau setidaknya, tidak cukup untuk bisa menjadi tunggangan seorang pelatih pemula.

Ya, Juve masih memiliki Cristiano Ronaldo, yang mencatatkan musim produktif lainnya, namun seperti yang ditulis oleh pelatih legendaris, Arrigo Sacchi di Gazzetta dello Sport, Selasa (11/5) kemarin, "Tidak pernah ada cuma satu pemain yang membuat Anda menang... Sepakbola adalah olahraga tim, jadi memiliki tim [hebat] akan selalu lebih baik daripada sekadar memiliki seorang individu [hebat]..."

"Sekarang mereka mengkritik Pirlo, tapi jika seseorang yang berpengalaman seperti Sarri mengalami kesulitan di Juve, bagaimana mereka bisa berpikir bahwa seorang pelatih dalam tahun pertama pengalamannya melatih bisa berbuat lebih baik?"

Pertanyaan yang wajar.

Bagi banyak orang, keputusan untuk menunjuk Pirlo sebagai pelatih Juve dianggap sebagai sebuah arogansi. Bagi yang lain, itu adalah bukti awal bahwa Juve memang tidak lepas dari masalah finansial.

Memang harus diakui Pirlo adalah opsi pelatih yang sangat murah bagi klub yang keuangannya terpengaruh dampak krisis pandemi COVID-19, belum lagi harus berurusan dengan biaya ganti rugi pemecatan Sarri. Apa pun itu, Juve kini harus menanggung keputusan yang sudah mereka buat sendiri.

Andrea Pirlo Juventus Serie A 2020-21 GFXGetty/Goal

Menurut perkiraan terbaru, kegagalan lolos ke Liga Champions dapat membuat Bianconeri mengalami kerugian hingga €90 juta.

Klub sudah dalam posisi yang berbahaya, patut diingat, mereka sebelumnya juga mencatatkan kerugian €113 juta pada paruh pertama tahun finansial 2020/21.

Memecat Pirlo mungkin tidak akan terlalu merugikan Juve, karena ia hanya digaji sebesar €1,8 juta per tahun, namun masalahnya sekarang adalah bagaimana bisa Juve mendapatkan pengganti yang top, mengingat mereka mungkin hanya bisa menawarkan peluang beraksi di Liga Europa musim depan.

Harapan Pirlo, tentu saja, adalah setidaknya menyelamatkan wajah klub dan dirinya, dengan lolos ke Liga Champions serta memenangkan final Coppa Italia sebagai hadiah perpisahan. Tapi sepertinya itu adalah misi yang sulit.

Juve tampil sangat buruk melawan Milan. Fabio Capello menyebutnya sebagai "kekalahan yang memalukan", sementara Sacchi menilai Juve sebagai tim "tanpa ide".

Sacchi sekali lagi berpendapat bahwa Pirlo tidak boleh serta merta dijadikan kambing hitam atas pencapaian buruk musim ini, mengingat ia tidak membangun skuad dengan kemauannya sendiri. Menariknya, hal itulah yang disinggung oleh Pirlo selepas kekalahan dari Milan.

"Saya memiliki proyek yang berbeda dalam benak saya dan berpikir saya akan memiliki tim yang berbeda untuk saya," kata Pirlo kepada Sky Sport Italia. "Saya telah mengerjakan beberapa konsep, namun kemudian saya harus membuat perubahan agar sesuai dengan karakteristik mereka dan perlu beradaptasi."

Implikasinya jelas: ia tidak diberi pemain-pemain yang cocok dengan filosofi sepakbola yang diinginkannya. Hal itu bisa menjadi penjelasan mengapa ia terus menerus bereksperimen demi mencari formula kemenangan.

Tentu saja, COVID-19, jadwal yang padat dan berbagai masalah cedera menjadi beberapa penyebab di balik merosotnya prestasi Juve. Tapi patut dicatat bahwa Pirlo memiliki skuad yang lengkap ketika lawan Milan namun malah menampilkan performa terburuk mereka musim ini.

Seperti yang dikatakan legenda Juve, David Trezeguet kepada saluran Twitch Juve, "Banyak pemain terlihat kebingungan di lapangan, tanpa tahu bagaimana cara membangun serangan atau bertahan."

Ronaldo tampak sepenuhnya kehilangan arah di laga itu.

Cristiano Ronaldo Juventus AC Milan Serie A 2020-21 GFXGetty/Goal

Tiga media ternama Italia memberi Ronaldo nilai 4/10, dengan Gazzetta menyebutnya "hilang" di lapangan dan mempertanyakan statusnya sebagai "pemimpin".

Performanya memang buruk namun memang ia sama sekali tidak punya ruang di area penalti Milan, menunjukkan bahwa sebenarnya itu bukan masalah utama Juve melainkan ada di sektor lain.

Tidak ada gunanya memiliki penyerang tajam jika Anda tidak bisa memberinya pasokan bola yang matang, dan para gelandang Juve telah berulang kali membuktikan mereka tidak mampu bermain dengan kreatif tapi sebaliknya kerap membuat blunder.

Sementara itu, lini belakang, yang selama ini menjadi fondasi Juve dalam setiap tahun mereka memenangkan gelar juara, juga bermain di bawah standar. Itu dipertegas dengan fakta bahwa Bianconeri kini telah menjalani 12 pertandingan tanpa catatan clean sheet.

Jadi, ini bukanlah skuad terkuat Juve seperti dahulu kala. Memang Pirlo tidak bisa untuk tidak membawa dirinya ke situasi seperti sekarang ini.

Tidak ada yang menyalahkannya karena menerima jabatan krusial di Juventus. "Akan sulit untuk mengatakan tidak," kata Alessandro Del Piero di Sky.

Pirlo mungkin merasa bahwa kesempatan melatih tim sekelas Juve mungkin tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya; mungkin juga awalnya merasa mampu dan punya tim yang cukup baik untuk melanjutkan siklus juara Juve.

Jika ia mengamati jauh lebih dekat, ia mungkin sudah tahu bahwa skuad Juve saat ini sudah mengalami kemunduran, butuh perombakan yang sebenarnya sudah lama tertunda.

Allegri, perlu diingat, pernah menyerukan revolusi tim pada 2019, bahkan menyarankan agar presiden Andrea Agnelli untuk mendepak Ronaldo.

Mungkin memang seharusnya Pirlo menyadari sejak awal bahwa tugas sebagai pelatih Juve bagi seorang yang masih begitu muda dan tanpa pengalaman mustahil untuk dijalani. Gattuso bahkan pernah memperingatkannya bahwa menjadi pelatih adalah profesi yang tidak cukup bermodalkan punya pengalaman sebagai pemain hebat yang tidak bisa sekadar dipelajari dari buku.

Mungkin memang benar, semuanya sudah salah kaprah sejak awal...

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0