Berita Live Scores
Cult Hero

Apa Kabar Roque Santa Cruz? Eks Bintang Man City Menangkan Trofi Di Usia 40 Tahun

22.43 WIB 27/12/21
Roque Santa Cruz Manchester City
Striker—yang juga menikmati karier di Bayern Munich, Blackburn Rovers, dan Real Betis—terus menambah pencapaian. Kali ini di negara asalnya, Paraguay.

Lema “Santa” mungkin jadi yang paling terbesit di benak banyak fans sepakbola tua-muda pada setiap edisi Natal. Tapi di Paraguay, itu adalah nama yang identik dengan menyumbangkan gol, ketimbang memberikan hadiah.

Roque Santa Cruz telah menghabiskan 25 tahun karier bermain di kasta teratas, dan bahkan pada usia 40 tahun, ia tidak berniat untuk berhenti.

"Saya mengatakan ini akan menjadi dansa terakhir saya, tapi di klub," kata Santa Cruz setelah mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan tim asal Paraguay Olimpia, pekan lalu.

"Saya akan terus bermain, tapi tidak di Olimpia,” tambahnya.

Santa Cruz adalah ilustrasi yang bagus tentang bagaimana seorang pemain dapat terus memiliki karier panjang, bahkan pasca-perpindahan besar dari Liga Primer Inggris ke Spanyol, yang kemudian membuat namanya memudar dari persepsi publik arus utama.

Pertandingan terakhirnya untuk Olimpia pada final Copa Paraguay, sukses membuat kiper lawan, Jean Fernandes dari Cerro Porteno, diusir keluar lapangan.

Dibantu oleh insiden aneh ini, Olimpia menang 3-1 untuk menandai trofi Santa Cruz saat ia memasuki dekade kelima dalam hidupnya.

Nama Santa Cruz dalam sejarah sepakbola Paraguay tidak dapat disangkal. Dia adalah pencetak rekor gol untuk negaranya dengan catatan lebih dari 100 caps, dan menurut pendapat banyak orang di negara Amerika Selatan tersebut, ia adalah pesepakbola terbesar mereka.

Di level klub, ini adalah kisah yang lebih rumit tentang cedera dan transfer yang buruk, dengan diselingi dengan momen-momen berkualitas dan kekuatan mencolok.

Santa Cruz memulai kariernya bersama Olimpia dan menjadi bintang kala itu. Ia dipromosikan ke tim utama pada usia 15 tahun, melakukan debut seniornya setahun berselang, dan melakukan debut seniornya di timnas Paraguay pada usia 17 tahun, mencetak tiga gol di Copa America 1999.

Penampilan Santa Cruz menarik minat Bayern Munich, yang menandai rekor transfer untuk pemain di klub Paraguay (€5 juta) guna memboyongnya ke Eropa.

Sebuah langkah besar untuk seorang pemuda, tapi seperti yang dikatakan Santa Cruz, ia sangat terbiasa dengan keadaan yang tidak biasa di level klub mengingat hubungannya dengan presiden Olimpia, Osvaldo Dominguez Dibb.

"Saya ingat bahwa kami pernah kalah dalam derbi regional yang penting. Presiden memasuki kamar tidur di mana kami semua menghabiskan malam menjelang pertandingan dan menodongkan senjata kosongnya ke langit-langit," ucap Santa Cruz kepada Sport Bild pada 2011.

“Tidak cuma itu. Ketika seorang pemain tampil buruk, dia hanya berjalan ke mobil mereka dan buang air kecil di dalamnya saat pemain itu berdiri tepat di sebelahnya!”

"Presiden selalu ingin kami datang kepadanya untuk mengambil gaji bulanan kami. Jika Anda tidak bermain bagus bulan itu, dia berdiri dan bertanya: 'Apa yang Anda inginkan?' sambil mengetuk senapan mesin di mejanya.”

"Itu selalu mendorong para pemain untuk hanya menagih uang mereka sampai mereka menunjukkan penampilan yang lebih baik lagi,” imbuhnya.

Santa Cruz juga jauh lebih cocok dengan sepakbola Eropa yang keras dan kacau daripada banyak remaja Amerika Selatan yang tenang yang melakukan perjalanan berbahaya melintasi lautan.

Santa Cruz berposisi natural sebagai striker, meskipun ia tidak hanya tentang fisik. Nyaman dengan kedua kakinya dan menggunakannya untuk menggiring bola, ia juga memiliki kepekaan yang baik untuk permainan bertahan dan pemosisian, bersama dengan kecepatan yang mengejutkan untuk pemain yang lebih tinggi.

Masalah datang dengan catatan gol - tidak pernah selama delapan musim dengan Bayern dia mencapai digit dobel. Performa terbaiknya adalah dalam musim debut, kala ia mencetak sembilan gol dalam 48 pertandingan. Tidak semua penyerang bisa menjadi Robert Lewandowski, tapi untuk tim yang dominan di level domestik seperti Bayern, ini adalah catatan yang cukup mengecewakan.

Waktunya di Munich juga mulai terganggu dengan cedera lutut parah [ligamen cruciatum] yang bikin ia melewatkan sebagian besar musim 2005/06 dan tertinggal dari Miroslav Klose serta Luca Toni dalam urutan starter.

Meski begitu, Santa Cruz memperoleh cukup banyak trofi di Jerman—Liga Champions pada 2001, dan lima gelar Bundesliga—yang berarti ia terlihat cukup buruk ketika klub Liga Primer sekelas Blackburn Rovers mengontraknya pada musim panas 2007 hanya dengan mahar £3,5 juta.

Tahun pertamanya di Blackburn adalah yang terbaik di Eropa, mencetak 23 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi, finis keempat di daftar pencetak gol liga dan membawa Rovers finis di ranking ketujuh.

Kampanye keduanya kurang menonjol karena cedera kembali menghantui. Dalam dua tahun di Blackburn, ia absen dalam beberapa periode karena cedera pangkal paha, pergelangan kaki terkilir, masalah achilles, cedera tulang kering, cedera otot betis, serta dua cedera lainnya, cedera lutut dan masalah dengan hamstring-nya.

Terlepas dari semua ini, mantan manajer Blackburn, Mark Hughes, membayar £18 juta untuk mendatangkan Santa Cruz ke Manchester City bursa transfer musim panas 2009 setelah diakuisisi Grup Abu Dhabi yang juga merekrut Carlos Tevez, Emmanuel Adebayor, Joleon Lescott, Gareth Barry, dan Kolo Toure.

Sementara beberapa rekrutan lainnya tampil baik untuk City, Santa Cruz masuk dalam kategori mimpi buruk yang didatangkan dengan harga mahal.

Secara teori, Santa Cruz adalah salah satu akuisisi City yang dimaksudkan untuk melengkapi keterampilan sihir Robinho dan Stephen Ireland.

Santa Cruz meneken kontrak dengan City saat pulih dari cedera lutut dan berjuang untuk mempertahankan kebugaran sepanjang musim 2009/10, menyelesaikan laga 90 menit penuh hanya tiga kali.

Pertengahan musim, Hughes dipecat, dan di akhir musim, manajer baru Roberto Mancini menjelaskan bahwa Santa Cruz tidak ada dalam rencananya.

Namun, pemain asal Paraguay itu berusaha untuk bertahan dan berjuang untuk tempatnya.

“Ini tentang bekerja keras untuk mendapatkan peluang untuk tampil mengesankan. Setiap kali saya melangkah ke lapangan, saya ingin mencetak gol, karena gol adalah argumen terbaik di sana,” tutur Santa Cruz kepada GOAL.

Mancini tidak yakin, dan Santa Cruz malah dipinjamkan selama dua setengah tahun. Kembali ke Blackburn, lalu ke Spanyol dengan Real Betis dan Malaga, sebelum bergabung dengan Malaga dengan kontrak permanen pada musim panas 2013.

Setelah hijrah ke Meksiko bersama Cruz Azul, ia pulang ke Olimpia, di mana sejak 2016 ia telah membantu mereka meraih dua gelar liga dan kemenangan turnamen domestik.

Dalam sepakbola Paraguay, status legendaris Santa Cruz terjamin. Ia memainkan peran penting dalam kualifikasi mereka untuk empat Piala Dunia berturut-turut antara 1998–2010, mencapai perempat-final pertama mereka di Piala Dunia terakhir, serta final Copa America 2011. Apakah dia pensiun sekarang atau melanjutkan menuju ulang tahunnya yang ke-41?

Dalam sepakbola klub Eropa, Santa Cruz lebih merupakan catatan kaki, keganjilan, sosok yang sedikit familier, namun dalam hal gol dan piala, ketika dia fit, Santa yang satu ini biasanya akan memberikannya.