Pelatih Thailand Alexandre Polking mengungkapkan resepnya menggasak timnas Indonesia dengan skor 4-0 dalam pertandingan leg pertama final Piala AFF 2020 di Stadion National, Rabu (29/12) malam WIB.
Thailand tampil superior di pertandingan ini, dan sudah membuka keunggulan ketika laga baru berjalan dua menit melalui Chanathip Songkrasin. Chanathip selanjutnya mencetak brace di menit ke-52, diikuti gol Supachok Sarachart di menit ke-67, dan Bordin Phala tujuh menit jelang laga usai.
Polking mengungkapkan, ia telah mempelajari permainan Indonesia yang sering membangun serangan dari sektor sayap. Juru taktik asal Brasil ini menginstruksikan anak asuhnya agar tidak membuka ruang di sektor tersebut.
“Kami tahu Indonesia punya pemain bagus, terutama di sektor sayap. Kami mengubah sistem permainan menjadi 4-2-3-1 untuk menghentikan serangan mereka di sayap,” ungkap pria yang akrab disapa Mano itu.
“Perubahan pemain kami juga cukup berisiko. Ketika kami kehilangan Elias [Dolah] akibat cedera, saya memilih menjadikan [gelandang] Weerathep [Pomphan] sebagai bek, karena kami ingin menguasai permainan. Pada akhirnya dia bermain bagus, dan kami menyelesaikan laga dengan sempurna.”
Mano pun memberikan apresiasi kepada seluruh pemain yang telah menerapkan instruksinya dengan baik di atas lapangan. Menurut Mano, seluruh elemen tim telah bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
“Kami memang mengubah sistem, tapi rencana permainan sudah jelas. Kemenangan ini merupakan hasil kerja keras seluruh elemen di dalam tim yang telah melakukan tugasnya dengan cara yang di luar dugaan,” ucap Mano.
Skor telak itu membuat Thailand hampir dipastikan menjadi kampiun Piala AFF 2020, mengingat Indonesia membutuhkan keajaiban untuk meraih kemenangan dengan selisih lima gol dalam pertandingan leg kedua pada 1 Januari 2022.
Kendati demikian, Mano tidak ingin terlena dengan situasi itu. Menurutnya, penggawa Thailand tidak akan berpesta layaknya sebagai tim juara, karena masih ada leg kedua yang harus dilalui.
“Kami sekarang memiliki keuntungan besar. Tentu saja kami tidak boleh membuat pesta yang terlalu besar, tetapi kami tahu sekarang [semua] ada di tangan kami untuk membawa trofi kembali ke Thailand,” imbuh Mano.
