Reece James Chelsea Getty Images

"Mutiara Baru Inggris" - Eskalasi Cepat Kebintangan Reece James Di Chelsea

Inggris memiliki banyak pilihan di bek kanan. Kyle Walker dan Kieran Trippier menikmati waktu bermain paling banyak saat tim asuhan Gareth Southgate mencapai final Euro 2020 yang tertunda, tapi generasi berikutnya bahkan lebih menjanjikan.

Setelah terobosan Trent Alexander-Arnold di Liverpool, ia diprediksi bakal jadi bek kanan utama Si Tiga Singa di masa depan. Tapi Reece James menantang asumsi itu dengan performa level premium dalam rangkaian penampilan luar biasa bersama Chelsea.

Ada kesamaan dalam tingkat kedewasaan dan kemampuan teknis dari Trent dan James, tapi mereka juga menyimpan perbedaan.

James bertahan lebih baik daripada Alexander-Arnold, dengan kecepatan dan kekuatan yang lebih, tapi kualitas serangannya tidak memiliki konsistensi yang sama. Atribut tersebut membaik di bawah arahan Thomas Tuchel dengan catatan lima gol dan enam assist sejauh musim ini.

Pertarungan untuk menonjol memaksa masing-masing mengeluarkan kekuatan terbaik, tapi kesuksesan James baru-baru ini sudah dijejaki lama. Ia secara naluriah menonjol di level muda, seperti yang diingat oleh mantan rekan setimnya di akademi, Cole Dasilva.

“Anda selalu memiliki gagasan tentang para pemain yang ditakdirkan untuk berada di tempat mereka sekarang. Dia [James] jelas salah satu dari itu, bersama dengan para pemain yang berada di tim utama – Mason [Mount], Callum [Hudson-Odoi], Trevoh [Chalobah],” ucap Dasilva, yang kini bermain untuk HNK Sibenik di Kroasia, kepada GOAL.

“Reece adalah seseorang yang menjadi lebih baik di setiap pertandingan, setiap tahun. Dia memiliki beberapa pemain anutan dan tidak mengherankan jika dia kini berada di depan mereka. Dia selalu punya ambisi. Dia selalu mendorong dirinya sendiri, melalui cedera yang diderita, melalui kemunduran yang dialami,” tambahnya.

Dasilva berusia 12 tahun ketika ia bergabung dengan Chelsea dari Luton Town bersama saudaranya Jay dan Rio. Kala itu, ia untuk kali pertama bertemu James. Meski sudah mapan dalam sistem tim muda The Blues, ia masih menjadi karakter yang sederhana.

“Dia adalah anak yang pendiam, kepala tertunduk, tapi ketika dia masuk ke lapangan, dia hidup kembali. Seiring bertambahnya usia dan berkembang di klub, semakin nyaman setiap orang satu sama lain. Dia benar-benar keluar dari cangkangnya, dan dia menjadi salah satu tokoh utama di tim kami, di dalam dan di luar lapangan,” imbuh Dasilva.

Reece James England GFX Getty Images

Sebagai pemuda berbakat dan punya prospek cerah, James awalnya memiliki tubuh yang terbilang kurus. Setelah cedera parah, Dasilva ingat dia melakukan upaya keras untuk menjadi lebih kuat dan menjadi pemain yang kuat secara fisik seperti sekarang.

"Kami semua memiliki area yang perlu kami perbaiki. Sebelum cedera, itu mungkin masalah fisik dan mungkin itu sebabnya dia berusaha keras untuk mendapatkan bentuk terbaiknya dan mempertahankan itu seiring bertambahnya usia,” tutur Dasilva.

“Itu pasti hal yang dia fokuskan. Saya yakin para pelatih, dan ayahnya, menasihatinya selama ini. Itu adalah sesuatu yang membawanya ke langkah berikutnya dan membantunya menyadari bahwa dia dapat menangani permainan pria dengan mudah,” tambahnya.

Posisi James di lapangan juga berkembang. Ia memulai karier sebagai pemain sayap, sebelum kembali ke lini tengah dan kemudian bertahan. Terlepas dari itu, ia tidak pernah kehilangan niat menyerang dan dengan kemampuan yang baik untuk melakukan umpan silang berbahaya.

“Dia senang bermain bersama. Anda selalu tahu bahwa Anda bisa mempercayainya. Dia selalu menginginkan bola, dan dia selalu memberikan segalanya. Anda selalu tahu dia akan tampil karena dia sangat berbakat,” kata Dasilva.

“Saya bermain di posisi yang sama dengan Reece, jadi saya mengambil banyak ilmu darinya, terutama bagaimana cara dia mengumpan bola. Itu jelas salah satu atribut utamanya. Saya ingat melakukan sesi latihan dengannya. Atribut terbaiknya jelas merupakan umpan silang,” imbuhnya.

Dasilva dan James mengembangkan persahabatan yang erat selama tahun-tahun mereka bersama di Chelsea. Mereka duduk bersebelahan di ruang ganti dan masih berhubungan sekarang, meskipun dalam rute karier yang berbeda.

“Kami selalu mengobrol dan memiliki banyak minat yang sama dalam hal musik dan di luar sepakbola. Kami memiliki banyak kesamaan, jadi kami bergaul dengan sangat baik. Dia pria yang sangat baik. Sangat murah hati,” ujar Dasilva.

Reece James Jadon Sancho Chelsea Manchester City GFX Getty Images

“Pada beberapa kesempatan, dia datang ke sesi latihan dan dia memiliki hadiah kecil untuk saya. Bisa saja sedikit body cream atau gel aftershave, tapi jika dia punya cadangan, dia selalu bersedia memberi dan menyenangkan orang lain. Dia benar-benar pria yang hebat, rendah hati, dan seperti tidak ada buruknya,” imbuhnya.

Kala ia akhirnya dipromosikan ke skuad utama, James adalah komponen kunci dalam dominasi Chelsea di FA Youth Cup. Pada final 2017, mereka mengalahkan tim kuat Manchester City, yang menampilkan Phil Foden dan Jadon Sancho, dengan agregat 6-2.

Dasilva, yang masuk dari bangku cadangan untuk mencetak gol pada leg kedua, senang berkembang bersama tim itu, yang memiliki kekuatan luar biasa secara mendalam, karena Marc Guehi, Conor Gallagher, dan Ike Ugbo juga ada di sana.

“Pengalaman itu luar biasa,” Dasilva merenungkan.

“Ini adalah sesuatu yang kita semua ingin lakukan dan menjadi bagian dari itu sangat berarti. Leg pertama adalah laga tandang dan berakhir imbang 1-1. Itu adalah pertandingan yang sangat ketat. Kami tahu mereka adalah tim yang bagus.”

“Itu tidak akan pernah mudah, tapi di Bridge, kami selalu percaya diri. Kami tahu bakat yang kami miliki dan kami tahu kami bisa mengubahnya. Itulah tepatnya yang kami lakukan sejak awal. Itu adalah malam yang hebat.”

“Bakat itu tidak ada habisnya. Masing-masing dari kami cukup baik untuk memulai kedua pertandingan di final. Saya kira [manajer] Jody [Morris] agak dimanjakan dengan pilihan. Tahun-tahun sebelumnya, dan bahkan setelahnya, kami masih memiliki banyak talenta, tapi tim itu istimewa. Sangat spesial. Ada beberapa nama besar,” tambahnya.

Morris sering menggunakan skema 3-4-3, sebagian dipengaruhi oleh keberhasilan yang dinikmati tim utama dengan formasi di bawah asuhan Antonio Conte, dan kemitraan yang hebat berkembang di seluruh lapangan. James menunjukkan keterampilan bertahan dan membaca permainan di sisi kanan tiga bek, dengan Dujon Sterling ditempatkan di depannya sebagai bek sayap.

“Itu skema yang sangat cocok untuk kami,” kenang Dasilva.

“Keduanya di sisi kanan tidak terbendung. Reece cocok di sana dan tampil dengan sangat baik. Dia sangat serbabisa. Dia bisa bermain sebagai bek tengah kanan, bek kanan, atau gelandang tengah. Anda akan melihatnya mendominasi di semua area,” pungkasnya.

Reece James Wigan GFX Getty Images

Setahun kemudian, James mengangkat trofi sebagai kapten, setelah Chelsea mengalahkan Arsenal 7-1 pada partai final. Ia siap untuk tampil di tim senior dan bergabung dengan Wigan Athletic dengan status pinjaman selama satu musim. The Latics baru saja memenangkan promosi kembali ke Championship dan ingin bertahan di kasta kedua Liga Inggris tersebut.

“Kami memiliki Nathan Byrne, yang menjadi andalan kami sebagai bek kanan dan telah memenangkan Player of the Year. Beberapa pekan memasuki pramusim, Nathan mengalami cedera pangkal paha dan itu mendorong Reece ke dalam tim,” tutur Michael Jacobs, winger reguler di skuad Wigan ketika itu, kepada GOAL.

“Anda bisa tahu dari pendekatannya di sesi latihan dan permainan bahwa dia memiliki pola pikir elite itu. Dia tidak pernah sombong, tapi dia memiliki keyakinan pada dirinya sendiri bahwa dia akan selalu melakukannya dengan sangat baik. Dia dengan mulus langsung masuk tim utama,” tambahnya.

James pindah ke Bolton dan tinggal di blok apartemen yang sama dengan beberapa rekan klub peminjamnya. Kemampuan dan etos kerjanya menjamin rasa hormat dari rekan satu timnya. Meskipun ia tidak pernah menjadi sosok yang besar dan bawel di ruang ganti Wigan, ia beradaptasi dengan baik dengan lingkungan barunya dan tumbuh dalam kepercayaan diri.

“Championship adalah liga yang kuat dan tangguh,” kata Jacobs.

“Ini jelas jauh berbeda dari bermain di akademi dan Anda tidak pernah benar-benar tahu. Dia memiliki tingkat kualitas dan fisik untuk menghadapi segala jenis tantangan. Seiring berjalannya musim, dia berkembang,” imbuhnya.

Sebagai seorang pemain sayap, Jacobs secara rutin menguji dirinya melawan James dalam sesi latihan.

“Saya tidak benar-benar mendapatkan banyak perubahan dari dia sepanjang musim,” tutur Jacobs sembari tertawa.

“Tentu saja Anda mencoba dan menemukan kelemahan dalam permainan full-back–jika mereka tidak sebaik dalam bola udara, atau Anda bisa berlari di belakangnya–tapi dia memiliki semua atribut,” imbuhnya.

James menghadapi banyak pemain di sisi kiri yang oke di Championship, termasuk Ollie Watkins, Yannick Bolasie, dan Todd Cantwell, tapi Jacobs ingat hampir tidak ada dari mereka yang bisa menaklukkan nama yang disebut pertama. Ketika ia tidak sedang dalam performa terbaik, ia memastikan untuk kembali lebih kuat.

“Kami bermain tandang melawan Swansea tepat setelah Natal. Kami tidak bisa memenangkan pertandingan tandang kala itu. Dia memiliki sedikit sore yang repot melawan Jefferson Montero. Tidak ada yang benar-benar mengujinya dalam waktu singkat bersama kami. Itu adalah pertama kalinya dia menemukan yang lebih baik darinya,” ujar Jacobs.

“Dua pertandingan setelah itu dia sangat lugas. Meskipun dia mengalami sore yang sulit, dia kembali tampil baik dengan sangat cepat. Untuk seorang anak muda yang datang dari akademi, saya pikir musim pertamanya di Championship berlangsung fantastis,” pungkasnya.

Reece James Chelsea GFX Getty Images

Pemain pinjaman terkadang bersalah karena dianggap hanya fokus menjaga perfoema diri mereka sendiri, tapi itu bukan James. Ia berkomitmen penuh untuk tugas yang dihadapi, berjuang untuk menjaga The Latics terhindar dari degradasi setelah grafik menurun di pertengahan musim. Mereka akhirnya hanya kalah sekali dari sembilan pertandingan terakhir untuk finis di urutan ke-18.

“Kedengarannya agak lucu, tapi rasanya seperti ketika Anda memiliki pemain terbaik di sekolah, dan Anda mencoba menyesuaikannya di posisi yang berbeda,” kata Jacobs.

“Dia terlalu bagus, jadi pada akhir musim Nathan, dia masuk ke lini tengah. Dia melakukan tendangan sudut, tendangan bebas, penalti. Dia adalah bagian besar dari kami untuk bertahan di Championship,” imbuhnya.

James tampil dalam 44 pertandingan, lebih banyak dari pemain Wigan lainnya, meraih beberapa penghargaan pribadi saat dinobatkan dalam Tim Terbaik Semusim bersama pemain-pemain seperti Kalvin Phillips dan Jarrod Bowen.

Kecepatan dan stamina James memungkinkan ia untuk mengimbangi posisi yang terkadang jadi celah lawan, tapi itu telah meningkat dengan pelatihan dan pengalaman. Perkembangan itu dipercepat oleh kedatangan Tuchel, seperti yang ditunjukkan dalam cara sang pemain mengantongi Raheem Sterling saat Chelsea memenangkan final Liga Champions.

“Permainannya yang serba bisa mungkin salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat,” kata Jacobs.

“Umpannya dari berbagai area lapangan sangat tepat, itu bisa berada di antara yang terbaik di Liga Primer. Dalam bertahan, satu lawan satu dan kemampuannya untuk menjaga zona defensif sama bagus. Itulah yang Anda inginkan dalam bek sayap modern.”

Sekembalinya ke Stamford Bridge, James diuntungkan dengan embargo transfer klub, dan kehadiran Jody Morris, mantan manajer di akademi, sebagai asisten Frank Lampard. Pasca-pulih dari cedera, ia membintangi kemenangan The Blues atas atas Grimsby Town dengan skor 7-1 pada laga debutnya dan melakoni 37 penampilan di lintas ajang.

James meningkatkan jumlah itu musim lalu, sekaligus berhasil menembus skuad timnas Inggris. Kini, ia memberikan kontribusi penting secara reguler saat Chelsea bersaing untuk mendapatkan penghargaan domestik dan Eropa. Ia jelas masih akan berkembang untuk memberikan yang lebih baik dari musim ke musim.

“Dia sangat membumi dan dia sangat rendah hati. Dia punya sikap yang tegas. Dia ingin melakukannya dengan baik, dan dia ingin berkembang. Dia juga tahu apa yang dia mampu tanpa memiliki ego dan arogansi atau semacamnya,” ujar Jacobs.

“Dunia dalam cengkaramannya dengan standar yang ia tetapkan sendiri di awal musim ini, dan di Euro bersama Inggris. Dia bisa terus memiliki karier yang luar biasa. Saya pikir jika dia tetap bugar dan bebas cedera, tidak ada alasan mengapa tidak,” tambahnya.

Bagi Dasilva, yang berbagi begitu banyak pengalaman formatif dengan James, merasa bahwa puncak kesuksesan karier mantan rekannya itu hanya tinggal menunggu waktu.

“Saya pikir tidak ada batasan ke mana dia bisa pergi. Saya dapat mengatakan bahwa saya salah satu yang beruntung untuk mengenalnya dan dengan bangga mengatakan bahwa saya pernah bermain dengannya,” ucap Jacobs.

“Melihatnya sekarang, mendominasi di level elite, itu spesial. Itu adalah apa yang pantas dia dapatkan, bersama semua lulusan akademi yang juga mengeluarkan kemampuan terbaik. Sungguh menakjubkan untuk dilihat dan semoga ini terus berlanjut,” pungkasnya.

Chelsea memang dikenal dengan langkah mereka yang gemar meminjamkan banyak pemain ke klub lain dan itu masih berlaku sampai sekarang. Tapi, kebijakan kontroversial tersebut nyatanya tetap terbukti sebagai metode yang menguntungkan bagi The Blues. James hanya salah satu dari banyak.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0