Sementara satu jalan Barcelona menuju kesuksesan telah sirna, yakni Liga Europa, Xavi Hernandez setidaknya sukses mengangkat tim Catalan mencapai peringkat kedua klasemen La Liga.
Mereka terpaut 12 poin dari rival klasi mereka Real Madrid, namun memiliki satu pertandingan tunda dan memiliki delapan sisa laga lain di musim ini.
Xavi pun menegaskan bahwa Blaugrana masih berpeluang untuk meraih gelar domestik tersisa untuk klubnya di musim ini.
"Kami fokus pada apa yang bisa kami lakukan dan kemudian kami akan melihat rival kami," kata Xavi kepada wartawan.
"Kami harus bekerja dengan kerendahan hati. Pertama, kualifikasi untuk Liga Champions, dan jika itu memberi kami kesempatan untuk bersaing di liga, itu jauh lebih baik."
"Kami ingin memenangkan gelar, dan kami masih berjuang untuk liga, kami berada di jalur itu, meskipun itu sulit."
"Saya bangga dengan apa yang sudah dilakukan para pemain di hari Kamis [vs Eintracht Frankfurt], tetapi kami tidak bermain dengan baik. Saya telah menunjukkan kesalahan mereka di lapangan."
Kekalahan mereka atas Frankfurt di perempat-final Liga Europa cukup menyakitkan, karena Blaugrana dipermalukan di hadapan pendukung mereka sendiri di Camp Nou.
Meski tersingkir, eks bos Al Sadd tersebut tak ingin serta merta mengganti filosofi sepakbolanya setelah dikalahkan oleh tim Jerman itu.
Xavi sebelumnya mengatakan bahwa timnya harus bermain bagus meskipun hasil akhir tidak memberikan Barca kemenangan, dan kini ia kembali ditanya mengenai gaya bermain anak asuhnya.
"Dengan gaya ini [filosofi Johan Cruyff], kami telah memenangkan lima Liga Champions. Johan Cruyff menciptakannya. Sudah membuahkan hasil, dan itu sangat sukses," tambahnya.
"Kami harus meningkatkan kualitas kami, tetapi tidak perlu buru-buru. Kami harus percaya, memperbaiki dan meningkat di banyak sisi. Kami tidak akan mengubah DNA kami karena kalah di pertandingan atau kehilangan gelar."




