Kembali ke bawah sorot lampu Santiago Bernabeu, panggung sang raja Eropa, juara 13 kali Real Madrid, kemenangan besar pada laga kandang mereka sudah diprediksi.
Sebaliknya, mereka justru berada dalam malam dengan hidung berdarah, bertanya-tanya apa yang menimpa mereka.
Itu adalah dua peluru dari Sheriff Tiraspol, ikan kecil dari Moldova, dibentuk pada 1997 dan dieliminasi dari Eropa musim lalu oleh Dundalk.
Kemenangan tandang Liga Champions pertama mereka, dan tidak ada tempat yang lebih baik untuk melakukannya.
Carlo Ancelotti mengaduk ranselnya, yakin bahwa beberapa pemain cadangannya bakal mampu mengalahkan tim tamu tanpa gaduh. Apalagi jika pemain cadangannya adalah sekelas Eden Hazard dan Fede Valverde.
Namun, Madrid berkali-kali gagal di depan gawang lawan, dan butuh penalti dari Karim Benzema untuk menyamakan kedudukan setelah tertinggal lewat sundulan Jasurbek Yakhshiboev pada babak pertama.
Los Blancos berusaha mencari kemenangan, tapi Sebastien Thill mencetak gol pada menit ke-89 untuk menghasilkan kekecewaan terbesar dalam sejarah Liga Champions, mengingat gap di antara kedua tim.
Madrid mendominasi, tapi sepakbola tidak bekerja seperti itu. Akan membosankan jika itu melulu berbanding lurus dengan kemenangan.
“Kami mengendalikan permainan, kiper mereka melakukan banyak penyelamatan,” ucao Casemiro pasca-laga.
“Kami harus mengucapkan selamat kepada mereka. Mereka mampu mencetak dua gol,” tambahnya.
Madrid mungkin bisa mencetak lebih banyak gol, tapi tendangan melengkung Benzema melebar di tiang jauh dan Vinicius Junior kembali ke dirinya yang boros peluang kayak musim lalu.
Tapi setidaknya gerak kaki dan olah bola asal Brasil itu masih bagus, menusuk dua kali ke dalam kotak 16 dan salah satunya menghasilkan penalti yang dikonversi Benzema.
Saat itu, Madrid tampak menuju kemenangan. Ancelotti memasukkan Luka Modric, Luka Jovic, Rodrygo, dan Toni Kroos, nama terakhir melakoni penampilan pertamanya setelah cedera.
Bernabeu bergemuruh, dengan para suporter kembali ke stadion untuk menyaksikan tim dalam kompetisi yang paling mereka sayangi untuk kali pertama dalam 580 hari.
Percobaan jarak dekat Modric mengenai wajah kiper Georgios Athanasiadis. Itu mungkin yang terbaik dari 10 penyelamatannya, dan rasa sakit itu bakal jadi pengingat malam ia dan Sheriff yang luar biasa.
Getty ImagesSementara itu Ancelotti frustrasi di pinggir lapangan, tidak seperti biasanya. Ia terus melontarkan protes kepada wasit sebelum diganjar kartu kuning.
Salah satu peluang terbaik Madrid jatuh di kaki Jovic, tapi striker asal Serbia itu beberapa kali gagal menyelesaikan peluangnya di tengah kariernya yang goyah bersama El Real.
Sebaliknya, Thill, seorang pria dengan tato di kakinya yang berkisah mimpinya main di Liga Champions, menjadi penentu kemenangan.
Gol itu sekaligus menjadi sesuatu yang keluar dari fantasinya yang paling liar, sebuah tendangan keras dari tepi kotak penalti yang meluncur mulus ke sudut atas gawang Thibaut Courtois.
Sebaliknya bagi Madrid, jelas itu adalah seburuk-buruknya mimpi.
Tentu, kemenangan atas Inter pada laga pembuka masih mengamankan posisi mereka di grup. Musim lalu, Si Putih memulai kompetisi dengan kekalahan dari Shakhtar Donetsk dan masih terus melaju.
Tidak seorang pun di ibukota percaya ini adalah kemunduran signifikan bagi harapan mereka. Ini melukai ego mereka. Presiden Florentino Perez tidak diragukan lagi bakal merepet setelah kekalahan memalukan ini.
Ini adalah malam yang tidak akan pernah dilupakan Sheriff, dan bagi fans Madrid dari sudut pandang berbeda.


