Kane Saka England Euro 2020Getty

Tentang Rasisme, Kapten Inggris Harry Kane: Anda Bukan Fans!

Harry Kane telah memimpin rekan-rekan satu timnya di Inggris dalam pembelaan terhadap pelecehan yang diterima oleh beberapa skuad karena patah hati di final Euro 2020 kontra Italia, Senin (12/7) dini hari WIB.

Tim asuhan Gareth Southgate tidak dapat menandai trofi mereka setelah ditundukkan Gli Azzurri lewat drama adu penalti (3-2), menyusul pertandingan yang berakhir imbang 1-1 selama 120 menit.

Kegagalan Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka akhirnya memastikan Italia mengangkat trofi, tapi hal itu membuat banyak orang di sosial media melontarkan kata-kata rasis kepada tiga pemain tersebut.

Apa yang dikatakan?

"Kalian adalah tiga pemuda yang brilian sepanjang musim panas, memiliki keberanian untuk melangkah dan mengambil tindakan pada pertaruhan tinggi," tulis Kane dalam Twitternya.

"Mereka pantas mendapatkan dukungan, dan bukan pelecehan rasis keji yang mereka alami sejak tadi malam."

"Jika Anda melecehkan siapa pun di media sosial, Anda bukan penggemar Inggris dan kami tidak menginginkan Anda."

Selain sang kapten, rekan-rekan mereka lainnya juga memberikan semangat dan dukungan kepada trio Inggris tersebut.

"Kita menang bersama dan kita kalah bersama," cuitan Jude Bellingham di Twitternya. "Sangat bangga memiliki rekan satu tim dengan karakter hebat seperti itu."

"Butuh banyak omong kosong hanya untuk menjadi pecundang. Tentang rasisme, itu menyakitkan tapi tidak mengejutkan."

"Tidak akan pernah bosan mengatakan bahwa lebih banyak yang harus dilakukan. Belajarlah dan kendalikan media sosialmu!"

Bek yang bermain untuk Chelsea Reece James juga menulis di Twitternya: "Kami mendapatkan lebih banyak dari masyarakat saat kami kalah, jauh lebih banyak daripada yang kami dapat saat menang."

Kegagalan Inggris melawan Italia mungkin membuat luka lain pada publik, tetapi juga mencerminkan langkah-langkah yang harus mereka buat di bawah asuhan Southgate sejak dia memimpin pada 2016 saat Three Lions sedangdalam kekacauan.

Bahwa dia telah mencapai empat besar di kedua turnamen besar bisa saja menjadi pertanda baik untuk Qatar 2022, karena dia berharap untuk membawa Negeri Ratu Elisabeth ke Piala Dunia, sambil terus mendorong respons yang lebih toleran di seluruh masyarakat.

Kesadaran sosial timnya telah terbukti menjadi bagian penting dalam formula kesuksesan mereka sejauh ini, dan pelatih akan berusaha untuk memastikan pemain mudanya agar dikelilingi dengan kasih sayang saat mereka mengambil pelajaran dari kegagalan mereka menjelang kualifikasi turnamen, September mendatang.

Iklan

SUKA CERITA INI?

Tambahkan GOAL.com sebagai sumber pilihan di Google untuk melihat lebih banyak liputan kami

Ikuti GOAL di Google