Raphinha Brasil Uruguai Eliminatórias 2022 14 10 2021Lucas Figueiredo/CBF

Racikan Marcelo Bielsa & Incaran Liverpool: Raphinha Si Obat Mujarab Brasil

Kendati musim kedua mereka sejak kembali ke Liga Primer Inggris terbukti agak mengecewakan, Leeds United tetap berutang budi kepada Marcelo Bielsa karena telah mengembalikan gairah menggebu-gebu ke Elland Road.

Manajer asal Argentina itu dikenal mampu memaksimalkan kebolehan pasukannya dan ia juga piawai mengorbitkan karier berbagai bintang sepakbola, dari bos Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino, dan duo Inggris Leeds, Kalvin Phillips dan Patrick Bamford.

Tetapi bahkan pria sekelas El Loco (alias Si Gila) tetap akan terkejut saat pelatih timnas negara musuh bebuyutannya, Brasil, mengelu-elukan namanya. Raphinha memesona suporter Selecao berkat debutnya bersama Tim Samba – dan menurut Tite, itu semua berkat jasa seorang pria.

"Saya berterima kasih kepada Bielsa di depan publik karena menemani dan melatih Raphinha dan semua staf pelatih yang membantunya kian mendekat ke tim nasional," ujar Tite kepada wartawan setelah brace Raphinha di start pertamanya membantu menenggelamkan Uruguay 4-1, Jumat (15/10) pagi WIB.

"Saya mengobrol secara personal dengan Bielsa dan berterima kasih karena telah mendukungnya."

Sang pemain sendiri mengamini betul penilaian Tite: "Bielsa adalah pelatih yang sangat berdedikasi dan sangat menuntut. Ia seorang profesional ulung dan jika seorang atlet tahu bagaimana menyerap semua ilmu pemberiannya, maka ia akan banyak berevolusi," ujarnya kepada Globo September lalu.

"Sejak hari-hari pertama saya di Leeds, ia menerima saya dengan sangat baik dan membuat saya sangat nyaman memainkan sepakbola saya."

Raphinha mendapatkan panggilan ke timnas Brasil untuk pertama kalinya pada September lalu, tetapi harus kecewa gara-gara klub-klub Liga Primer emoh melepas pemainnya ke negara zona merah Covid-19 versi Inggris.

Neymar Raphinha Brazil GFXGetty Images

Saat ia akhirnya bergabung dengan pemain-pemain seperti Neymar, Alisson Becker, dan Gabriel Jesus ke skuad kualifikasi Piala Dunia Oktober ini, ia tak ingin membuang-buang kesempatan.

Debutnya hadir di awal paruh kedua melawan Venezuela dan saat itu Brasil tertinggal 1-0 di Caracas; dalam 45 menit berikutnya, ia memproduksi dua assist dan membawa negaranya meraih kemenangan.

Tiga hari kemudian ia lagi-lagi masuk bangku cadangan, kali ini kontra Kolombia, dan mudah untuk berkata bahwa ia adalah pemain Brasil yang paling mengilap meski ditahan 0-0 dan gagal memetik poin penuh untuk pertama kalinya di kualifikasi ini.

Dua penampilan itu diganjar dengan start saat menjamu Uruguay, dan tampaknya kini ia sudah menyegel posisi sisi sayap kanan menjadi miliknya, setahun sebelum Qatar 2022. 

Lebih dari produktivitasnya, Raphinha juga memberikan angin segar bagi pasukan TIte yang sedang tertekan.

Berani, luwes, dan tak ragu melewati pengawalnya berulang kali, winger Leeds itu bak panasea mujarab bagi wabah yang menjangkiti Brasil belakangan ini, yakni bagaimana mereka terus menang dengan tidak meyakinkan dan gagal memuaskan suporter Tim Samba yang fanatik lagi buas.

Fans Selecao menuntut atraksi; mereka menginginkan kecantikan dan gol spektakuler; dan pundak Neymar akhirnya bisa sedikit lega karena beban ekspektasi itu terbagi dengan seorang bintang yang bisa menari dengan bola di kaki.

"Sulit untuk melupakan malam ini," ujar pemain 24 tahun itu dengan gembira setelah menumpas Celeste.

"Inginnya ini tak akan pernah berakhir, tetapi saya akan kembali ke Inggris, fokus dengan apa yang menempatkan saya di sini, yakni pekerjaan bagus saya di Leeds, dan saya akan terus bekerja keras demi kembali lagi."

Ironisnya, di saat kegemilangan Raphinha kian mengorbit di udara Eropa dan Amerika Selatan, nasib Leeds yang memboyongnya dari Rennes, Oktober tahun lalu, dengan biaya £17 juta—sebuah langkah bisnis yang brilian—justru terjun bebas.

Ditekuk Southampton 1-0 Sabtu (16/10) kemarin, tanpa dibela Raphinha yang tengah istirahat dari tugas negara, adalah salah satu penampilan terburuk Leeds sepanjang era Bielsa. Serangan The Whites yang biasanya dinamis malah tak bisa mencatatkan satu tembakan akurat pun sembari terus-terusan terpukul mundur lewat serangan balik.

Kini mereka terjembab di peringkat 17 dengan hanya berjarak empat poin dari dasar klasemen Liga Primer dan hanya mampu menang satu kali dari delapan pertandingan.

Terlepas dari apakah pasukan Bielsa mampu bangkit atau tidak—dan Anda sebaiknya jangan terlalu meremehkan eks-pelatih Argentina itu, yang ahli mengangkat moral serdadunya—Leeds mungkin harus mempersiapkan masa depan tanpa Raphinha, yang mencetak enam gol dan sembilan assist di musim debutnya di Liga Primer dan merupakan topskor sementara mereka saat ini dengan tiga gol dari tujuh laga pertama.

Kandidat utama peminangnya masih jatuh kepada Liverpool, yang gagal mendapatkan Raphinha musim panas ini.

"Pastinya banyak klub yang berminat padanya," ujar eks-penggawa Chelsea sekaligus agen Raphinha, Deco, kepada Globo. "Liverpool menyukainya dan ada beberapa pendekatan, tapi bukan sesuatu yang resmi. Leeds ingin mempertahankannya semusim lagi."

"Raphinha bahagia di Leeds, tetapi pasti akan ada masa di mana ia ingin naik level dari melangkah maju. Kontraknya masih tiga tahun, tetapi tak ada klausul yang menyatakan sampai kapan ia wajib bertahan atau yang meralangnya ditransfer."

"Leeds sadar betul akan itu dan bakal ingin menjualnya dengan harga mahal, sementara Raphinha akan melangkah maju dalam kariernya. Ia ambisius, ingin bermain di level yang lebih tinggi, meski Leeds di Liga Primer, tetapi ini bukan saat yang tepat [untuk membahas itu] dan ia belum fokus ke sana. Segalanya akan berjalan alami."

Begitu akhir musim 2021/22, peminatnya bisa diprediksi akan berebut tanda tangan Raphinha, dan Leeds setidaknya punya posisi tawar untuk menuntut angka transfer yang lebih besar dari yang mereka keluarkan.

Kendatipun, akan lebih baik jika Raphinha tak terburu-buru mengambil keputusan. Ditempat oleh palu Bielsa menghasilkan ketajaman yang luar biasa, dengan sang winger berusaha untuk mengawinkan talenta alaminya dengan kemampuan bekerja sama serta kemampuan untuk mengancam di sepertiga akhir.

Tentunya suhu Bielsa masih bisa menurunkan ilmunya sebelum Raphinha—atau mungkin dia sendiri—meninggalkan Elland Road, dan jika ia terus setia pada ajaran El Loco, ia memiliki potensi untuk menjadi penyerang elite dunia di masa depan.

Iklan

ENJOYED THIS STORY?

Add GOAL.com as a preferred source on Google to see more of our reporting

0