Ketika berbicara sepakbola, maka kita harus mengingat bahwa permainan ini adalah sebuah tim yang dihuni 11 pemain. Lebih jauh lagi, setiap tim dengan pelatihnya masing-masing, pasti memiliki sistem tersendiri dalam membangun permainan mereka, demi sebuah kemenangan.
Hal ini berkaitan dengan ketiadaan nama Ilija Spasojevic dalam daftar pemain timnas Indonesia untuk Piala AFF 2020. Padahal, striker naturalisasi asal Montenegro itu sangat gacor bersama Bali United, pada kompetisi Liga 1 2021/22. Sejauh ini, dia menjadi topskorer kompetisi, dengan catatan 12 gol.
Digit tersebut digapai Spasojevic dalam 14 pekan Liga 1, dan pesaingnya soal gol hanya striker-striker asing. Seperti Youssef Ezzejjari Lhasnaoui dari Persik Kediri dengan sepuluh gol, Ciro Alves (TIRA Persikabo) dan Marko Simic (Persija Jakarta) yang sama-sama mengukir sembilan gol.
Jika melihat hal itu, tentu ada pertanyaan mengapa seorang striker senior seperti Spasojevic tak masuk daftar skuad timnas indonesia Piala AFF. Padahal, timnas diharapkan dihuni oleh-oleh pemain terbaik dari kompetisi domestik, ditambah beberapa pemain yang juga punya karier baik di luar negeri.
Tapi, membentuk timnas bukan sekadar berpikir praktis mengambil pemain terbaik yang tampil bersama klub. Pastinya ada pertimbangan apakah pemain tersebut, atau kemampuan pemain tersebut, masuk dalam sistem permainan yang dianut pelatih. Dalam konteks ini, jelas Shin Tae-yong.
Spasojevic boleh dibilang satu-satunya striker nomor sembilan murni yang benar-benar eksis di Liga 1 musim ini. Memperhatikan bagaimana dirinya bermain, seakan-akan bola akan menghampirinya, sehingga gol tinggal menunggu waktu dan menemukan keberuntungannya, jika sudah sampai di kaki seorang Spasojevic. Sayangnya, Tae-yong membangun timnas Indonesia dengan pemain depan yang bergerak dinamis, itu mengapa fisik yang baik juga terus ditekankan olehnya.
Bekerja untuk timnas Indonesia, sudah pasti Tae-yong pun tidak tutup mata terhadap pemain yang tampil bagus di kompetisi domestik. Buktinya saja, Ramai Rumakiek (Persipura Jayapura), Ahmad Agung (Persik Kediri), dan Syahrul Trisna (TIRA Persikabo) bisa jadi nama-nama baru yang diorbitkan olehnya, meski klub pemain tersebut tidak begitu bagus raihannya di kompetisi.
Tae-yong sendiri pernah memanggil Spasojevic pada awal dirinya melatih timnas Indonesia, dan pada kesempatan tersebut, pelatih asal Korea Selatan ini pasti mempelajari bagaimana permainan para pemain yang dipanggil, dan menyesuaikan kebutuhan timnas yang sesuai dengan sistem permainan yang ingin diterapkan.
"Memang, Ilija Spasojevic sempat saya panggil untuk beberapa kali pemusatan latihan timnas Indonesia. Saat ini, performanya di Liga 1 cukup baik.. Dia juga menjadi topskorer sementara Liga 1. Namun, pergerakan yang saya inginkan dengan gaya permainan dia itu berbeda. Dia juga sudah berumur. Saya mengakui kemampuan Ilija Spasojevic," ucapnya Oktober lalu.
Dari pernyataan tersebut, sudah jelas alasan Tae-yong tidak menyertakan Spasojevic. Dari kebutuhan sistem, Spasojevic bukan yang diinginkan olehnya, dan berpikir lebih visioner, Tae-yong lebih baik menyiapkan striker masa depan timnas Indonesia, mulai sekarang.. Toh, nama-nama yang dipanggil saat ini memang dalam usia bagus dan paling penting cukup adaptif untuk menerapkan sistem trisula depan yang dinamis; Dedik Setiawan, Ezra Walian, Hanis Saghara, dan Kushedya Hari Yudo.
Keempatnya bisa bermain multiposisi, dan bukan sembilan murni. Bahkan, keempatnya bisa dipasangkan dalam formasi 4-4-2 (formasi yang pernah coba diterapkan Tae-yong untuk timnas Indonesia). Akhir kalimat, kita tinggal menantikan hasil dari keputusan jelas Shin Tae-yong untuk tidak menyertakan seorang predator nomor sembilan murni dalam Piala AFF tahun ini.


