Manajer-manajer elit Eropa seperti Jurgen Klopp dan Thomas Tuchel akan sangat berterima kasih kepada Ralf Rangnick, seorang pria yang dikenal oleh banyak orang sebagai 'Profesor' di Jerman.
Meskipun dia tidak terlalu sukses-sukses amat sebagai pemain, bakat Rangnick untuk melatih telah terlihat sejak usia mudan dan dia segera memantapkan namanya sendiri di Jerman.
Goal akan menjelaskan tim mana yang pernah dia tukangi, trofi yang dia menangkan dan bagaimana filosofi bermainnya.
Rangnick telah melatih sejumlah tim selama karier yang panjang di dunia sepakbola, terutama bekerja di negara asalnya, Jerman.
Dia telah menjadi pelatih kepala di klub-klub seperti, Schalke, Hannover 96, Hoffenheim dan RB Leipzig.
Tim | Tahun melatih |
Viktoria Backnang | 1983-1985 |
Stuttgart II | 1985-1987 |
Lippwoldsweiler | 1987-1988 |
SC Korb | 1989-1990 |
Stuttgart U-19 | 1990-1994 |
Reutlingen | 1995-1996 |
SSC Ulm | 1997-1999 |
Stuttgart | 1999-2001 |
Hannover 96 | 2001-2004 |
Schalke | 2004-2005 |
Hoffenheim | 2006-2011 |
Schalke | 2011 |
RB Leipzig | 2015-2016 |
RB Leipzig | 2018-2019 |
Selain sebagai pelatih langsung, Rangnick juga menjabat sebagai direktur sepakbola untuk tim di bawah perusahaan Red Bull, termasuk Red Bull Salzburg, RB Leipzig dan New York Red Bulls.
Dia juga bekerja dengan tim Rusia Lokomotiv Moskwa sebagai direktur olahraga dan komunikasi klub.
Reputasi Rangnick dalam urusan manajerial telah membuatnya dikaitkan dengan klub-klub besar Eropa seperti AC Milan, Chelsea, Manchester United serta tim nasional Jerman.
Berapa banyak trofi yang telah diraih Rangnick?
Rangnick telah memenangkan tujuh trofi di berbagai level sepanjang karier kepelatihannya.
Periode paling suksesnya dalam hal trofi datang selama waktunya di Schalke, di mana dia membawa klub ke Ligapokal DFL pada 2005/06, DFB Pokal pada 2010/11 dan DFL Supercup pada 2011/12.
Masa jabatannya di Gelsenkirchen juga membawa mereka duduk di peringkat kedua Bundesliga 2004/05 dan menjadi finalis DFB Pokal di musim yang sama.
Rangnick juga memenangkan medali perak di Stuttgart, di mana dia mendapatkan gelarnya, membawa mereka ke kejayaan Piala Intertoto pada tahun 2000, setelah sebelumnya membawa tim junior meraih gelar Bundesliga Youth pada tahun 1991.
Dia memanangkan Regionalliga Sud bersama Ulm pada 1997/98 dan membantun Hannover 96 untuk promosi dengan memenangkan 2. Bundesliga pada 2001/02.
Anda dapat melihat piala yang dimenangkan oleh Rangnick di bawah ini.
Trofi | Dimenangkan tahun |
DFB Pokal | 2010/11 |
DFL Supercup | 2011 |
DFL Ligapokal | 2004/05 |
Intertoto Cup | 2000 |
2. Bundesliga | 2001/02 |
Regionalliga Sud | 1997/98 |
Bundesliga U-19 | 1990/91 |
Apa filosofi kepelatihan Rangnick?
Rangnick adalah pencetus gaya sepakbola 'Gegenpressing' yang dipopulerkan oleh pelatih-pelatih seperti Jurgen Klopp selama menjadi pelatih kepala Borussia Dortmund.
Ini adalah pendekatan yang membutuhkan tekanan dengan intensitas tinggi untuk bisa memenangkan bola kembali dengan cepat, di tambah dengan penjagaan ketat di pertahanan untuk menetralisir ancaman serangan balik lebih awal.
Rangnick telah mengungkapkan bahwa strateginya tersebut datang selama pertandingan persahabatan ditahun 1983 melawan Dynam Kyiv, yang saat itu dilatih oleh Valeriy Lobanovskyi.
"Kyiv adalah tim pertama yang pernah saya hadapi yang secara sistematis terus menekan untuk mendapatkan bola," jelasnya. "Itu membuat saya tercerahkan. Saya mengerti bahwa ada cara bermain yang berbeda."
Dia menggambarkan filosofinya dalam diskusi dengan The Coaches' Voice sebagai berikut: "ini tentang mengendalikan permainan. Faktanya, kami memiliki lima situasi sementara yang menentukan sebuah pertandingan."
"Sebagai pelatih, Anda harus memiliki gagasan yang sangat jelas tentang bagaimana kami ingin bermain ketika kami sendiri yang menguasai bola."
"Nomor dua adalah: apa yang ingin kita lakukan jika tim lain mendapatkan bola? Strategi seperti apa yang akan saya berikan kepada pemain saya ketika tim lain telah mendapatkan bola? ide kami jelas. Ini sangat, sangat mirip dengan teman saya Jurgen Klopp."
"Sepakbola Red Bull kami adalah 'heavy metal, rock and roll'. Ini bukan Waltz yang lambat. Kami membenci operan langsung dan back pass. Hanya bisa mendapat atau merebut bola sendiri, itu tidak masuk akal."
"Lalu kami memiliki momen transisi: apa yang terjadi ketika kami kehilangan bola dan apa yang terjadi ketika kami memenangkan bola? Ini adalah nomor tiga dan nomor empat."
"Lalu, tentu saja, kami memiliki situasi bola mati. Ini sangat penting. Jika 30 persen gol dicetak lewat bola mati, berapa presentase waktu latihan kami yang harus kami lakukan dalam urusan bola mati? 30 persen."
Rangnick menambahkan: "Ini tentang menempatkan tim lain di bawah tekanan, tidak peduli seberapa tinggi menekan. Semakin tinggi semakin baik, tetapi di mana pun bola berada, kami mencoba untuk mendapatkan bola."
"Ini bukan hanya tentang di mana kami memenangkan bola, tetapi juga tentang intensitas. Semakin agresif kami pada saat itu, semakin cepat kami meningkatkan intensitas dan tempo permainan dalam serangan balik. Artinya, semakin intens kami merebut bola, semakin besar peluang yang kami ciptakan."
"Yang juga sangat penting adalah 'rest defence'. Tidak masalah jika Anda memainkan dua atau tiga bek tengah, mereka harus memastikan bahwa satu atau dua pemain lawan di depan diawasi."
"Mereka harus dijaga dengan ketat, karena jika kita membiarkan mereka mengontrol bola, maka kita sendiri yang akan terkena serangan balik."
"Hal ini tak lepas dari cara berpikir. Inilah yang kami sebut 'rest defence' dan itu adalah hal yang sangat penting jika Anda melatih dengan cara ini. Tidak hanya memberi tahu pemain, tetapi juga melakukan itu di sesi latihan."
