Manajer interim Manchester United, Ralf Rangnick, merasa timnya sempat suram pasca-kekalahan 4-1 di Derbi Manchester, tapi seperti terlahir kembali setelah kemenangan 3-2 atas Spurs.
Dari keputusasaan menjadi kegembiraan dalam jangka sepekan, Rangnick kini memahami perubahan emosi yang ekstrem saat terlibat dengan salah satu klub terbesar di dunia.
“Inilah yang saya suka dari klub ini,” ucap Rangnick sambil tersenyum masam.
“Pada hari Minggu, saya merasa kami seperti berada di pemakaman, sudah mati dan akhir era atau apapun.”
“Rasanya seperti tim terburuk yang pernah saya latih.”
“Setelah menang atas Tottenham, kami mendiskusikan peluang kami untuk memenangkan Liga Champions.”
“Ajukan pertanyaan itu kepada saya jika kami mencapai final UCL. Saat ini, saya tidak benar-benar berpikir itu masuk akal.”
“Liga Primer Inggris hampir finis. Jika kami tidak menang, hampir mustahil untuk finis di posisi keempat.”
“Kini, kami masih belum dalam posisi terbaik, tapi kami masih dalam persaingan.”
“Kami sepenuhnya sadar bahwa kami tidak boleh kehilangan poin lagi, jadi kami harus memenangkan hampir semua pertandingan sisa,” pungkasnya.
Di liga domestik, United masih menempati peringkat kelima dengan koleksi 50 poin, terpaut satu dari Arsenal di ranking keempat yang masih mengantongi tiga laga tunda!
Terdekat, Setan Merah akan menghadapi Atletico Madrid pada leg kedua babak 16 besar UCL [agregat 1-1] di Old Trafford, Rabu (16/3) dini hari WIB.


