Ralf Rangnick Manchester UnitedGetty Images

Ralf Rangnick: Manchester United Mau Perbaiki Nasib? Lakukan Empat Hal Ini!

Ralf Rangnick menyampaikan sarannya kepada petinggi Manchester United untuk membangkitkan kembali masa jaya The Red Devils.

Dalam beberapa tahun belakangan, Man United kian tertinggal dari duo rival mereka, Liverpool & Manchester City, dan dituduh tidak punya rencana komprehensif untuk bisa mengejar keduanya.

Rangnick, yang saat ini menjabat sebagai bos interim The Red Devils, bakal mundur dari kursi manajer dan beralih ke peran konsultan di akhir musim. Namun sebelum resmi menempati posisi tersebut, Rangnick ternyata sudah menyampaikan empat hal yang mesti dilakukan Manchester United jika ingin bangkit.

Empat poin tersebut adalah: (1) memperbaiki rekrutmen jangka panjang dan bangun skuad dengan bertumpu pada manajer permanen baru, (2) prioritaskan pemain agresif dengan fisik unggulan alih-alih pemain dengan keterampilan teknik, (3) periksa kepribadian pemain sebelum direkrut, (4) dan terakhir harus menerima fakta bahwa ini bukan pekerjaan jangka pendek.

"[Skuad] Manchester City dan Liverpool... dibangun dalam periode lima atau enam tahun - semuanya di bawah ide terkait bagaimana pelatih mereka ingin bermain," ucap Rangnick dilansir dari 90min. "Saya bilang kepada dewan, [United] harus seperti itu."

"Tiap kali ada pelatih baru, harus begini: bagaimana dia ingin bermain dan pemain seperti apa yang kita butuhkan untuk mencapainya? Barulah kita kembali kepada DNA, kecepatan, fisik, tempo. Kita butuh apa? Tim ini enggak kekurangan pemain teknis, [tetapi] bisa dipoles dengan lebih banyak [pemain] fisik."

"Butuh keputusan tepat dan [kejelasan soal] ke mana arah Anda: pemain seperti apa, manajer seperti apa, dan lalu, di setiap jendela transfer, usahakan mendapatkan yang terbaik. Ini sulit kayak ilmu roket. Harus dilakukan dan tidak harus membutuhkan tiga atau empat tahun. Mungkin dua atau tiga jendela transfer, barulah situasinya bisa berbeda."

Soal pemain dengan fisik unggulan, Rangnick menyoroti contohnya ketika anak asuhnya ditahan imbang Leicester City, Sabtu (2/4) lalu.

"Menurut saya kami bukan kekurangan karakter, tetapi yang terlihat jelas di beberapa fase pertandingan adalah kami selalu kalah di kontes fisik," ujarnya.

"Ini soal duel satu lawan satu. Dalam satu momen serangan balik, kami ditekel dua kali sama mereka, dan dalam dua detik [mereka mencetak gol]. Momen lain juga begitu."

"Tiap kali ada kontak badan, sering sekali kami kalah. Harus lebih baik di sisa musim ini, lebih-lebih musim depan."

Ia menambahkan: "Sulit untuk berubah. Menurut saya ini bukan soal mindset - ini soal DNA para pemain."

Iklan