Juan Quintero River PlateGetty Images

Juan Fernando Quintero Cari Kejelasan Nasib Ayahnya Yang Telah 25 Tahun Menghilang

Dalam bentuk terbaik, Juan Fernando Quintero adalah salah satu pemain sepakbola berbakat yang menarik untuk ditonton.

Sang playmakae River Plate memiliki trik yang tak terbatas untuk menerobos pertahanan lawan tanpa terduga, serta kaki kiri yang berbahaya bagi penjaga gawang dari mana pun ia berada di separuh pertahanan lawan. Mungkin yang paling disenangi penonton adalah keluwesan dan kelincahannya dalam bermain, seperti gadis yang menari-nari, di sekitar lawannya dan kemudian senyum merekah di wajahnya selepas mencetak gol.

Tapi, rona kebahagiaan Quintero saat bermain tampak di balik tragedi mengerikan yang dialami keluarganya, terasa sangat menyakitkan karena telah terjadi selama bertahun-tahun dan sampai saat ini belum terpecahkan. Ayahnya, telah hilang sejak sang pemain Kolombia itu berusia dua tahun, dan luka keluarganya kembali terungkap saat momen-momen tertentu pada Desember kemarin.

Seperti putranya Juanfer, Jaime Enrique Quintero Cano dulunya pesepakbola menjanjikan. Sebagai remaja, ia menghabiskan waktu bersama dua klub Medellin, Atletico Nacional dan Deportivo Itagui, bermain sama seperti putranya sebagai No.10. Namun ia terpaksa pensiun dari sepakbola demi menghidupi keluarga mudanya, terlebih ketika ada anak kedua yang akan lahir. Jaime bergabung dengan angkatan militer Kolombia pada usia 23 tahun, dengan harapan mendapat peningkatan karier serta pendapatan.

Pada 1995, negara Amerika Latin itu terlibat perang dengan dua pihak. Di satu sisi, mereka berperang dengan dua kelompok pemberontak Kolombia, FARC dan ELN. Di sisi lain, mereka juga berjuang memberantas geng-geng narkoba yang bersenjata, yang semakin intensif sejak kematian Kartel Medellin yang terkenal, Pablo Escobar dua tahun sebelumnya. Situasi yang membuat Kolombia berkecamuk, mewajibkan ratusan ribu tentara muda untuk terlibat langsung dalam peperangan.

Jamie Quintero menjalankan tugas di Medellin pada 1 Maret 1995. Setelah melewati pemeriksaan kondisi fisik, ia langsung ditugaskan ke Batalyon 31 di Uraba, sebuah wilayah perbatasan di Kolombia yang meliputi tanah genting dengan hutan-hutan di Darien Gap. Dengan medan yang sulit ditembus, Gap dulunya dan sampai sekarang merupakan lokasi bagi para gerilyawan pemberontak dan geng narkoba untuk beraktivitas, menuju ke negara tetangga Panama - "hutan rimba paling berbahaya di dunia," kaya wartawan Amerika Serikat (AS), Jason Mothlagh.

"Ia memanggil kami keesokan harinya dan mengatakan bahwa bersama batalyon Voltigeros ke Uraba; pada waktu itu ada pertempuran antara gerilyawan dan militer," ungkap saudara perempuan Jaime, Silvia kepada Agencia Andalou, mengenai percapakan terakhir mereka. "Ia bilang mereka akan dibawa ke sana dengan pesawat. Kami menunggunya untuk menelepon lagi, karena ia selalu berhubungan dengan kami, di mana pun ia berada."

"Karena ia juga pernah menjadi pemain sepakbola, ia juga selalu menghubungi kami dari mana pun ia bermain."

Juan Quintero River PlateGetty Images

Setelah beberapa hari tanpa kabar, keluarga Quintero kemudian mulai mencari keberadaan Jaime dan mendengar kabar dari tetangga yang juga ada anggota keluarganya terlibat dalam batalyon di Uraba, bahwa memang tidak ada tanda-tanda dari keberadaan para prajurit muda di sana. Tetangga yang sama menghubungi kapten batalyon, Eduardo Zapateiro, yang memberi tahunya bahwa tidak pernah mendengar tentang Quintero dan tidak memiliki namanya dalam daftar tugas.

Namun, para prajurit yang lain, menceritakan kisah yang berbeda. Menurut mereka, Jaime marah terhadap sikap kasar Zapateiro dan keduanya terlibat konflik, sehingga membuatnya dikeluarkan dari batalyon. "Ah, iya, saya mengingatnya," sang kapten mengoreksi kata-kata awalnya ketika dihubungi kembali. "Saya membawa pemuda itu ke bandara dan mengirimnya ke Medellin."

Akan tetapi Quintero tidak pernah kembali ke Medellin. Menurut Edison de Armas Aviles, prajurit lainnya, ia diperintahkan untuk naik bus oleh Zapateiro yang membekalinya dengan 30,000 peso (US$6) agar pulang, perjalanan darat yang membuatnya melewati medan berat nan berbahaya karena harus melewati pos-pos pemberontak.

Setelah itu, kabarnya tidak pernah terdengar lagi, dan sampai hari ini ia masih menjadi salah satu dari 83,000 orang yang diduga telah menjadi 'korban hilang' oleh militer serta kelompok pemberontak menurut data Pusat Memori Sejarah Nasional Kolombia (CNMH). Yang menarik, Aviles juga masuk ke dalam daftar tersebut, meski kini nasibnya tidak seperti Jaime.

Hingga Desember 2019, kasus ini menjadi satu babak mengerikan yang terjadi selama konflik setengah abad Kolombia, yang telah menewaskan 220.000 orang. Quintero, tentu saja, hanya memiliki sedikit kenangan tentang ayahnya, dan saudara perempuan Jaime, Silvia serta saudara laki-laki, Carlos yang memimpin perjuangan selama 25 tahun untuk mencari keadilan dan kebenaran. Tapi Quintero, sang bintang River Plate, terpaksa angkat suara ketika Zapateiro, yang sekarang menjadi jenderal, diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat Kolombia oleh Presiden Ivan Duque.

"Saya memiliki hak sebagai seorang putra untuk mengetahui apa yang terjadi pada ayah saya dan itulah yang ingin saya ketahui, karena saya telah lama menderita dan melihat keluarga saya mengalami tekanan mental dan sosiologis dengan ketiadaan ayah saya," tegas sang playmaker melalui akun Twitternya setelah mendengar promosi jabatan Zapateiro.

"Ada ruang kosong di sana [tanpa keberadaan ayahnya] setiap hari, saya hanya ingin tahu apa yang terjadi."

Dalam tanggapannya, Zapateiro menegaskan bahwa ia bersimpati atas apa yang terjadi pada keluarga Quintero, dan 'pintu-pintunya' selalu terbuka bagi Quintero, pemain yang dihormatinya. Keduanya bertemu pada awal Januari ini, seperti yang diungkapkan oleh Presiden Duque; tapi pertemuan itu gagal menghadirkan informasi penting mengenai keberadaan Jaime, yang tentunya juga tidak memuaskan keluarga Quintero, yang mengklaim bahwa Zapateiro yang dulu sebagai kapten tidak pernah sepenuhnya diselidiki atas dugaan keterlibatannya dalam hilangnya Jaime.

Seperti halnya banyak orang di Kolombia, Juanfer dan orang-orang yang mereka cintai mungkin tidak akan pernah menemukan jawaban atas periode kelam, berdarah dalam sejarah negara mereka.

Iklan
0