OLEH MUHAMMAD RIDWAN
PSSI masih mengkaji pemakaian marquee player buat musim depan. Hal ini terjadi karena induk sepakbola nasional tersebut tak ingin ada klub yang keberatan dengan pemain berlabel bintang itu.
Penerapan marquee player di Liga 1 pada musim 2017, memang sempat menuai pro dan kontra. Meski mayoritas kontestan kasta tertinggi sepakbola nasional ini memakai jasa pemain tersebut.
Hanya tiga klub Liga 1 yang tidak memakai marquee player. Mereka adalah Persipura Jayapura, Persegres Gresik United dan Perseru Serui. Oleh karenanya, PSSI bakal mengumumkan hal tersebut pada Kongres Tahunan yang digelar 13 Januari 2018.
"Sebenarnya terminologi marquee player itu selalu dikaitkan dengan batas salary cap. Marquee player adalah eksepsional terhadap batas salary. Jika itu terlampaui, maka ada pemain yang diatributkan dengan marquee player," kata wakil ketua umum PSSI Joko Driyono.
"Jadi marquee player sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan kualitas pemain, tapi langsung berhubungan dengan nilai pemain," tambah pria yang karib disapa Jokdri tersebut.
Penggunaan marquee player memang bukan sesuatu yang baru di dunia sepakbola. Sebelumnya, liga Amerika Serikat dan Australia sudah menerapkan peraturan tersebut sejak beberapa musim yang lalu.
"PSSI dan liga memperdalam regulasi tentang salary cap karena marquee player itu esensinya adalah jika cap-nya terlampaui," tuturnya.
