LIPUTAN AURELIUS BALAKOSA DARI SOLO
Sosok winger PS Sleman, Irkham Zahrul Mila, bukanlah nama yang familiar bagi pencinta sepakbola nasional. Di timnas Indonesia U-22, namanya kalah tenar dibanding pemain langganan timnas seperti Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, Muhammad Rafli, Syahrian Abimanyu, hingga Andi Setyo Nugroho.
Namun, saat bertemu Tiongkok dalam ajang Chongqing International Footbal Championship 2019, pelatih Indra Sjafri memasukkan Mila sebagai starting XI melengkapi trisula timnas U-22 yang diisi M. Rafli dan Egy Maulana Vikri saat bertanding di Stadion Wanzhou, Jumat (11/10).
Dari hasil, Mila, belum puas karena tidak bisa memberikan hasil terbaik untuk pecinta timnas di Tanah Air. Seperti diketahui, pada laga tersebut Indonesia takluk dua gol tanpa balas.
Ini merupakan debut internasional perdana pemain berusia 21 tahun membela Indonesia. Menurutnya, debutnya memiliki beragam makna dalam karier sepakbola. Dia diturunkan selama 72 menit sebelum digantikan pemain muda PSMS Medan, Natanael Siringoringo.
Pada awal babak, gebrakannya merepotkan lini pertahanan Tiongkok yang lebih fokus menjaga Egy di sisi kiri pertahanan mereka. Beberapa kali menusuk, akhirnya lini pertahanan tuan rumah memberikan penjagaan lebih kepada pemain bertinggi 165 cm tersebut.
"Alhamdulillah, senang bisa debut di laga internasional bersama timnas. Saya sangat menikmati pertandingan. Namun juga sedih, karena kami belum bisa memberikan kemenangan," kata Mila, kepada Goal Indonesia.
Indra tak ragu memberikan tempat utama kepada Mila di laga perdana yang cukup berat bagi timnas tersebut. Bahkan, 45 menit pertama, pasukan muda Indonesia menekan pertahanan tuan rumah.
"Babak awal kami sangat baik, menekan mereka. Sesuai instruksi coach Indra untuk tampil lepas, dan tidak nervous. Khusus untuk saya, coach Indra menyampaikan bermain sesuai karakter saya dan jangan grogi di pertandingan awal," ungkap pemain asal Desa Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, itu.
Wejangan dari Indra dicerna sangat baik oleh pesepakbola yang pertama kali menimba ilmu di SSB Bina Tama tersebut. Dia hanya fokus main dan menunjukkan kemampuan terbaik sepanjang diberi kepercayaan pelatih.
"Kalau evaluasi diri sendiri, tentu saya masih sangat kurang, masih harus banyak belajar dan butuh perbaikan. Selesai latihan maupun bertanding, saya selalu bertanya kekurangan kepada teman dan tim pelatih. Hal ini sangat penting untuk kemajuan saya sendiri di sepakbola," ucap putra pasangan Tarwadi dan Badriyah.
Ada hal krusial di setiap Mila sebelum turun bertempur di lapangan hijau. Tidak hanya di klub, saat membela panji Garuda, kebiasaan ini pun tetap dijaganya hingga pertandingan lawan Tiongkok.
"Kemarin sebelum bertanding, saya telepon orang tua melalui sambungan What’sApp. Mohon doa restu untuk pertandingan bersama timnas dan setelah bertanding juga mengabarkan keluarga di Tegal,” bebernya.
"Sebelum bertanding, Abah (panggilan untuk ayah Mila) berpesan agar kerja keras, bermain dengan karakter sendiri, dan memberikan permainan terbaik demi nama bangsa dan negara," sambungnya.
Dua musim lalu, Mila masih bergelut di kompetisi kasta kedua lewat Persis Solo dan PS Sleman. Musim ini, dia sempat patah semangat karena belum mendapatkan tempat utama di tim Super Elang Jawa.
Kesabarannya membuahkan hasil. Saat pertama kali dipercaya juru taktik Seto Nurdiyantoro menjadi starting XI, Mila memaksimalkan dengan kemampuan terbaik.
"Semoga di pertandingan selanjutnya lawan Yordania, kami diberi kemenangan. Siapa pun yang diturunkan, pasti akan memberikan kerja keras untuk Indonesia," tuturnya.
Laga Indonesia kontra Yordania akan digelar di Stadion Wanzhou, hari ini.(gk-18)
