Kendati menyambut gembira adanya izin dari kepolisian untuk menggelar turnamen pramusim, manajemen PSS Sleman menilai pelaksanaan Piala Menpora yang dimulai 20 Maret terlalu mepet.
PSSI bersama kementerian pemuda dan olahraga (Kemenpora) sebelumnya telah mengumumkan bakal menggelar turnamen pramusim pada 20 Maret hingga 25 April. Ajang ini juga dijadikan sebagai kesempatan uji coba pelaksanaan protokol kesehatan di sepakbola.
Direktur Utama PT Putra Sleman Sembada (PSS) Marco Paulo Gracia mengatakan, tim tidak mempunyai waktu banyak melakukan persiapan, termasuk memperbaharui kontrak pemain atau mendatangkan wajah baru. Sebab, selama ini mereka menunggu adanya kepastian Liga 1 2021, sehingga belum mengambil langkah apapun.
Selain proses kontrak penggawa PSS dan pengembalian kondisi, tim pelatih juga perlu melakukan seleksi terhadap pemain baru. Kegiatan tersebut bisa memakan waktu sedikirnya dua pekan. Akibatnya, tim tidak akan maksimal saat mereka terjun di Piala Menpora.
“Waktu yang dimiliki klub hanya sebulan lebih sedikit. Jangan lupa kita dalam proses kontrak-kontrak, jadi menurut saya, 20 Maret 2021 pasti terlalu mepet. Kita harus berhitung ulang lagi. Saya rasa minggu kedua April masih masuk akal untuk memulai turnamen,” tutur Marco.

Marco menambahkan, PSS tetap ditangani Dejan Antonic pada musim ini. Namun mereka bakal mendatangkan banyak muka baru. Hanya saja, PSS bakal kehilangan ujung tombak andalan Yevhen Bokhasvilli yang mengundurkan diri, meski masih terikat kontrak hingga akhir 2021.
“Ada sekitar 50 persen yang dipertahankan, mencapai kesepakatan untuk kontrak baru. Sedangkan per hari ini ada empat sampai lima pemain baru yang sudah sepakat untuk bergabung dengan PSS. Jadi kami optimis dengan skuad PSS,” jelas Marco.
Selain itu, kick-off turnamen yang terlalu mepet juga memberikan pengaruh terhadap klub dalam menghadirkan pemain dan pelatih asing, mengingat ada kebijakan pemerintah terhadap warga negara asing (WNA) terkait pandemi virus Corona. PSS akan mengusulkan perlunya diskusi PSSI dengan pihak imigrasi.
“Jadi kita perlu mengusahakan, mudah-mudahan bisa mendapatkan keringanan, misalnya khusus untuk atlet dan pelatih yang WNA apakah bisa dibantu pemerintah untuk mendapat dispensasi masuk ke Indonesia,” kata Marco.
“Tidak fair jika turnamen, yang mengawali kembalinya sepakbola setelah sekian lamanya terhenti, tanpa pemain asing dulu. Tampilnya pemain asing merupakan kesempatan bagi klub untuk menilai kemampuan mereka.”
SIMAK JUGA: BERITA SEPAKBOLA NASIONAL!
