LIPUTAN AURELIUS BALAKOSA DARI SOLO
Sekalipun menelan kekalahan telak 4-1 dari Persija Jakarta di Stadion Manahan Solo, Sabtu (10/2) malam WIB, pada pertandingan leg pertama semi-final Piala Presiden 2018, pelatih PSMS Medan Djadjang Nurdjaman ogah lempar handuk.
PSMS membutuhkan sedikitnya selisih empat gol untuk menjungkirbalikkan situasi di leg kedua, Senin (12/2). Namun, Djadjang harus memeras otak menentukan komposisi ideal, mengingat jeda pertandingan hanya satu hari.
Kendati demikian, kondisi PSMS lebih baik dibandingkan Persija. Pasalnya, tim Macan Kemayoran harus membagi konsentrasi antara Piala Presiden dan Piala AFC 2018. Persija akan melakoni laga perdana Grup H Piala AFC melawan klub tangguh Malaysia, Johor Darul Takzim, Rabu (14/2).
“Pertandingan berikutnya sangat berat, dan Persija punya mental dan modal yang kuat. Tetapi, kami belum menyerah. Persija bakal melakukan rotasi besar, dan kami wajib memanfaatkannya,” ujar Djanur, sapaan Djadjang.
Djanur mengakui anak asuhnya kalah penguasaan lapangan, sehingga Persija mampu tampil dominan. Menurut Djanur, mental bertanding pemainnya masih labil dan ini yang terjadi saat lawan Persija.
“Kekalahan kami cukup telak, dalam 15 menit, kami kebobolan tiga gol. Ada waktu sehari untuk evaluasi total. Mental pemain masih labil, sehingga mudah kehilangan konsentrasi,” kata Djanur.
“Kami kesulitan di lini tengah. Kami sempat bangun lewat satu gol balasan, tapi itu tidak cukup waktu mengejar ketinggalan. PSMS harus mengakui kalah pengalaman dibanding Persija.”
“Saya sudah katakan, [Marko] Simic perekrutan Persija paling berhasil selain Riko Simanjuntak. Simic striker yang bagus dengan insting gol tajam, serta finishing sangat bagus. Sebelum pertandingan, kami juga sudah menyiapkan strategi meredam Simic, tapi tidak berhasil.” (gk-18)

