OLEH DEDE SUGITAIkuti di twitter
Julian Draxler mengaku dirinya geram dengan keputusan pelatih Unai Emery yang mengambil waktu terlalu lama untuk menurunkannya dalam laga Paris Saint-Germain kontra Real Madrid.
Setelah kalah 3-1 pada pertemuan pertama di Santiago Bernabeu, gol sundulan Cristiano Ronaldo di Parc des Princes membuat jalan PSG untuk lolos ke perempat-final Liga Champions kian terjal, apa lagi mereka kemudian kehilangan Marco Verratti karena kartu merah.
Emery sudah sempat bersiap memainkan Draxler sebagai pemain pengganti, tetapi gol penyeimbang 1-1 di menit ke-71 dari Edinson Cavani membuatnya mengurungkan niat, sebelum akhirnya menyuntikkan winger Jerman tersebut lima menit berselang.
Butuh dua gol lagi untuk setidaknya memaksakan perpanjangan waktu, Draxler tak habis pikir mengapa si pelatih tidak menjaga momentum untuk terus menekan Madrid dengan cepat-cepat memainkannya. Pada akhirnya PSG takluk lagi, 2-1, di hadapan El Real setelah kemasukan gol Casemiro.
"Itu tak sensitif. Saya tak tahu apa yang terjadi. Saya terkejut dan marah," beber Draxler kepada ZDF mengenai keputusan Emery menundanya berlaga pascagol Cavani.
Getty"Gol mengubah skor 1-1, tapi itu tak mengubah apa pun buat kami. Saya merasa kami harus terus menekan dan bermain ofensif."
"Kami kehilangan satu pemain [Verratti], dan meskipun kami mampu menyamakan kedudukan 1-1 seluruh stadion tahu permainan tak akan berubah karena kami tidak memiliki intensitas di lapangan."
"Real Madrid bermain percaya diri dan sama sekali tidak gugup."
Lebih lanjut, Draxler juga mengkritik pendekatan Emery yang kurang agresif untuk mengejar defisit 3-1 dari hasil leg pertama.
"Kami mengoper bola bolak-balik, tapi Anda tak bisa mencetak gol hanya dengan melakukan itu," tutur produk akademi Schalke 04 ini.
Getty Images"Anda harus memberikan tekanan pada Real Madrid ketika Anda tertinggal 3-1, bukan cuma mengoper bolak-balik dan berharap sesuatu terjadi untuk Anda."
"Kami perlu menerapkan tekanan pada lawan sejak awal. Kami tak melakukan itu, jadi kami pantas tereliminasi."
"Pada musim panas kami menghabiskan €400 juta dan semua orang berbicara tentang bagaimana itu akan mengubah segala sesuatu, tetapi kami gagal melewati babak ini lagi."
"Saya masih yakin tim ini bisa berbuat banyak, tapi Anda bisa lihat dalam laga-laga seperti ini masih ada sesuatu yang kurang kalau kami ingin menjuarai Liga Champions. Ini harus membuat kami berpikir ulang."




