Profil Klub Liga 1 2019: Persebaya Surabaya

Komentar()
Ofisial Persebaya
Persebaya menatap musim 2019 dengan ambisi juara, setelah menjalani pramusim yang baik.

Persebaya Surabaya bakal menikmati musim kedua mereka pada kompetisi kasta teratas Indonesia, Liga 1. Musim lalu, klub berjuluk Green Force ini sempat berjuang menjauh dari jurang degradasi, namun akhirnya finis posisi lima.

Djadjang Nurdjaman yang terdepak dari PSMS Medan akhirnya menjadi juru selamat Persebaya sejak pertengahan musim. Ia menggantikan Alfredo Vera, dan sukses membawa keseimbangan untuk tim penghuni Gelora Bung Tomo ini.

Tak ada harapan dan ambisi lain dari Persebaya untuk musim ini, selain merasakan gelar juara Liga 1. Pramusim mereka lewati dengan menjanjikan, menjadi runner-up Piala Presiden 2019, setelah pada partai final dikalahkan Arema FC.

"Semua klub pasti punya mimpi jadi juara, kalau tidak punya mimpi jadi juara mungkin jangan mengelola klub, kira-kira begitu," ungkap Azrul Ananda selaku presiden klub.

"Tahun lalu kami finis di lima besar, tapi selisih poinnya lebih dekat ke degradasi daripada juara, jadi kami tentu minimal harus lebih baik dari musim lalu," sambung Azrul.

Pilihan pemain pada bursa transfer seakan begitu pas dan jitu dilakukan oleh Djanur. Beberapa nama yang langsung mendobrak kekuatan tim antara lain Damian Lizio, Manuchekhr Dzhalilov, Amido Balde, serta Hansamu Yama untuk nama lokal.

Mewujudkan ambisi menjadi juara musim ini tidak akan mudah untuk Persebaya, namun kans itu tidak juga kecil untuk mereka. Pengalaman Djadjang dan skuat yang kian mantap sangat mungkin membawa Osvaldo Haay dan kolega finis lebih baik musim ini.
 


PELATIH


Djadjang Nurdjaman - Persebaya

Sosoknya kerap disepelekan, kadang juga disanjung. Itulah Djadjang Nurdjaman, yang kini menjadi pelatih Persebaya setelah ditunjuk pada pertengahan musim 2018, dengan harapan menghindari zona degradasi.

Bajul Ijo dibawa Djadjang finis posisi lima dengan 50 poin, mampu tampil lebih spartan, menghibur, dan tentu moncer. Salah satu keputusan brilian Djadjang musim lalu adalah mengubah Osvaldo Haay menjadi striker.

Cedera David da Silva ditambal dengan perpindahan posisi Osvaldo dari sayap, ke striker tengah. Hasilnya pun manis, Osvaldo mampu menjaringkan sepuluh gol pada akhir musim, dan menjadi pemain muda terbaik.

Kecermatan Djadjang dalam membaca situasi dan kebutuhan tim tidak perlu diragukan, itu sebabnya dia cukup rajin bersaing membawa tim yang ditukanginya untuk gelar juara. Termasuk pada Piala Presiden lalu.

Dengan tidak banyak perubahan pada komposisi skuat, ditambah beberapa perekrutan efektif. Musim ini Persebaya di bawah pelatih yang akrab disapa Djanur ini bisa saja bersaing ketat di tangga juara Liga 1.


PEMAIN KUNCI


Manuchekhr Dzhalilov - Persebaya Surabaya

Walau merupakan pemain baru untuk Persebaya musim ini, rasanya tetap tidak berlebihan jika Manuchekhr Dzhalilov layak disebut sebagai pemain penting dan salah satu andalan untuk tim musim ini.

Pemain terbaik Piala AFC 2017 ini menikmati musim keduanya di Indonesia, setelah melewati satu musim yang suram bersama Sriwijaya FC, karena klubnya itu mendadak hancur karena urusan finansial.

Kapasitas Manu sebagai pendobrak serangan tidak perlu diragukan, hal itu terbukti saat Piala Presiden 2019 lalu. Ia begitu padu dengan permainan Persebaya, dan bisa jadi penghubung lini tengah dan serang yang baik.

Manu akan jadi andalan Djadjang sebagai roh permainan tim. Ia juga bisa menjadi pemecah kebuntuan, karena cukup subur dalam urusan mencetak gol. Musim lalu, tujuh gol dicatatkan pemain berpaspor Tajikistan ini.
 


SKUAT


Selebrasi Persebaya

Kiper: Miswar Saputra, Abdul Rohim, Imam Arif Fadillah

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Bek: Hansamu Yama, Novan Setya Sasongko, Otavio Dutra, Andri Muliadi, Moh Syaifudin, Abu Rizal Maulana, Ruben Sanadi, Koko Ari Araya, Rachmat Irianto

Tengah: Damian Lizio, Manuchekhr Dzhalilov, Nelson Alom, M Hidayat, Misbakhus Solikin, Fandi Eko Utomo, Rendi Irwan, M Kemaluddin, Zulfikar Ahmad, Oktafianus Fernando, Elisa Yahya Basna

Depan: Amido Balde, M Alwi Slamat, Osvaldo Haay, Irfan Jaya, Muhammad Supriadi.

Tutup