Presiden federasi sepakbola Malaysia (FAM) Datuk Hamidin Mohd Amin mengungkapkan akan sulit untuk menggeser pagelaran Piala AFF ke dalam kalender FIFA, karena berlangsung selama satu bulan.
Piala AFF 2022 yang belum lama berakhir diwarnai dengan kesulitan sejumlah pelatih memanggil para pemain terbaik mereka untuk memperkuat negara masing-masing. Hal itu disebabkan agenda Piala AFF berada di luar kalender FIFA, sehingga klub mempunyai hak menolak melepas pemain.
Hamidin yang baru saja terpilih menjadi anggota dewan di induk organisasi sepakbila dunia untuk periode 2023-2027 tersebut menambahkan, salah satu cara agar Piala AFF bisa digelar di masa jeda resmi internasional adalah dengan memperpanjang kalender FIFA.
“Dampak Piala AFF pada kalender FIFA tidak terlalu spesifik, karena ada cara lain untuk meminta organisasi mengatur perpanjangan periode kalender internasional,” ujar Hamidin dikutip laman kantor berita Malaysia, Bernama.
“Kalender FIFA tidak hanya melibatkan negara-negara ASEAN dan Malaysia, tetapi juga anggota lainnya. Kita harus ingat, akan ada pertandingan kualifikasi Piala Asia dan Piala Dunia pada bulan Oktober.”
“Selain itu, kalender FIFA tidak hanya digunakan untuk pertandingan persahabatan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada tim untuk mengadakan sesi latihan.”
Dalam kesempatan yang sama, Hamidin mengungkapkan ketertarikan FAM menggelar turnamen Piala Dunia untuk kelompok umur. Terakhir kali Malaysia menggelar event internasional ini adalah saat menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 1997.
Hamidin optimistis peluang tersebut cukup terbuka, melihat keputusan FIFA yang menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023.
“Kemungkinan kami mengajukan tawaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia di berbagai level usia selalu terbuka. Kita bisa melihat Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun ini,” ucap Hamidin.
“Kami (Malaysia) juga bisa melakukannya, karena bagus untuk sepakbola dan terakhir kali kami menjadi tuan rumah pada tahun 1997 untuk Piala Dunia U-20. Namun, kita harus menyadari biaya menjadi penyelenggara turnamen final sangat tinggi, dan membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah.”
