Setelah finis keenam di Serie A musim sebelumnya, Hellas Verona arahan Osvaldo Bagnoli menyongsong kampanye 1984/85 dengan tujuan tampil lebih baik dan memperkecil jurang pemisah antara mereka dan raksasa-raksasa Italia.
Gli Scaligeri berganti rupa begitu bursa transfer dibuka, mereka mendatangkan berbagai nama asing, salah satunya penyerang Denmark, Preben Elkjaer-Larsen, dari Lokeren dengan biaya 2 setengah miliar Lire. Gelandang Jerman, Hans-Peter Briegel juga hadir menemaninya secara cuma-cuma dari Kaiserslautern.
Delapan gol Elkjaer di Serie A sukses mempersembahkan scudetto pertama bagi Verona, namun satu golnya yang abadi di hati tifosi I Gialloblu adalah saat sang 'Cinderella' memorak-porandakan pertahanan Si Nyonya Tua.
Dari berbagai rekrutan anyar, Briegel mampu memukau publik Stadio Marc'Antonio Bentegodi. Tetapi Elkjaer, yang menjadi protagonis di Piala Eropa 1984 di Prancis bersama Denmark, tak kalah mentereng.
Fisik pria Denmark itu tak tertandingi, ia bisa memanfaatkannya saat mengeksploitasi ruang dengan teknik giringannya kala menyerang balik.
Kekuatannya itu memungkinkan dirinya bertarung seimbang bahkan menang menghadapi bek-bek Italia yang memang terkenal keras sejak dulu.
Ia begitu dicintai publik Verona hingga mendapatkan julukan Il Sindaco, alias "si walikota". Hingga saat ini, namanya masih kerap ditulis di surat suara saat pemilihan walikota di Verona.
GettySetelah kedatangan bala bantuan berkualitas, Verona langsung tancap gas dengan tiga kemenangan beruntun di awal musim, termasuk saat menyikat Napoli yang kala itu diperkuat mendiang Diego Maradona dengan skor 3-1, serta mengimbangi Inter Milan 0-0 di Giuseppe Meazza pada pekan keempat.
Tetapi, ujian GliScaligeri yang terberat baru hadir pada matchday kelima.
Pada 14 Oktober 1984, juara bertahan Italia dan Cup Winners' Cup Eropa, Juventus, bersama Michel Platini, tiba di Bentegodi.
WikipediaSayangnya, pasukan Giovanni Trapattoni terlalu menganggap enteng lawannya dan memilih untuk fokus ke Piala Eropa (kini Liga Champions Eropa).
Mencadangkan Platini, Juve dihukum sejadi-jadinya oleh IGialloblu di Bentegodi.
Hukuman pertama terjadi saat waktu menunjukkan satu jam lebih sedikit.
Giuseppe Galderisi, yang akhirnya menjadi topskor Verona di liga musim itu, menanduk bola hasil umpan silang Pietro Fanna melewati kiper Stefano Tacconi.
Barulah pada menit ke-81, Juve menjadi korban salah satu gol paling ikonik di Serie A yang membuat Elkjaer mendapat julukan 'Cinderella'.
Tendangan gawang bek Antonio Di Gennaro tertuju dengan mantap ke arah Elkjaer, dan penyerang Denmark itu langsung lepas landas di sisi kanan pertahanan Juve.
Bek muda Bianconeri kala itu, Stefano Pioli, mencoba menghentikan Elkjaer, yang memilih dipanggil dengan nama belakang ibunya (Elkjaer) alih-alih ayahnya (Larsen) karena nama Larsen terlalu pasaran di Denmark,
Bukannya membendung laju Elkjaer, tekel Pioli yang penuh keputus-asaan malah cuma mencopot sepatu kanan penyerang Denmark itu.
Tanpa alas kaki sebelah kanan, Elkjaer memotong ke dalam dan mengecoh bek Luciano Favero dengan mudah, dan melepaskan tembakan ke tiang jauh tanpa bisa dicegah Tacconi.
"Saya langsung sadar sepatu saya copot," ungkap Il Sindaco kepada gianlucadimarzio.com saat peringatan ulang tahun ke-30 gol tersebut.
"Namun di momen itu yang saya pikirkan hanya ingin menembak dan mencetak gol, tanpa memperhitungkan yang lain. Keesokan harinya saya belum merasa ini kejadian yang orisinil, barulah seiring berjalannya waktu betapa saya sadar pentingnya gestur ini."
"Luar biasa bagaimana gol itu masih dikenang setelah bertahun-tahun," imbuhnya.
"Tak banyak gol yang diingat publik dalam waktu yang begitu lama. Saya bahagia di laga itu karena mengalahkan tim kuat seperti Juventus selalu merupakan sebuah pencapaian hebat yang membanggakan."
Gol ini yang membuat Elkjaer melegenda, membikin Trappatoni frustrasi, dan meluncurkan pasukan Bagnoli sebagai salah satu kandidat kuat peraih gelar Serie A.
WikipediaPada 12 Mei 1985, setelah bermain imbang 1-1 dengan Atalanta di Bergamo, Verona resmi menjadi juara Italia yang baru, dan gol ikonik Elkjaer saat 'nyeker' itu masih menjadi penanda zaman yang belum bisa disamai Verona hingga saat ini.Elkjaer terus berseragam biru-kuning hingga 1988 dan turut bermain di Piala Eropa, di mana ia dan Gli Scaligeri disingkirkan Juve 2-0 setelah keputusan kontroversial wasit Robert Wurtz.
Selama itu pula Elkjaer (nyaris) menyentuh Ballon d'Or: ia finis ketiga pada 1984 dan kedua pada 1985, di mana Platini menyabet keduanya.
"Saya finis kedua, tiga, dan empat. Tak pernah pertama," ujarnya kepada L'Arena.
"Tapi itu juga berarti bahwa saya lebih baik dari begitu banyak pemain. Selama tiga tahun itu, Platini selalu menang. Tetapi ia orang Prancis, bukan Denmark, dan bermain untuk Juve, bukan Verona."
Penghargaan individu boleh lolos dari cengkeraman, tetapi ia mendapatkan kasih sayang dari fans Verona, dan Verona sudah seperti rumah keduanya.
"Verona memberikan saya putra saya, Max. Setiap menatapnya, saya teringat Verona," ujarnya kepada La Repubblica.
"Setiap sedang marahan, Max akan berkata: 'Ayah, ingatlah saya orang Italia, bahkan, saya orang Verona!' ... dan kemarahan saya sirna."
"Petualangan saya di Italia sungguh indah. Sesekali di malam hari, saat memejamkan mata, saya seolah melihat Verona..."




