Secara historis kawasan Ruhr di Jerman punya arti penting berkat keberadaan tambang batu bara bituminus yang vital untuk memenuhi ambisi Jerman menjadi negara adidaya industri.
Sebagai kota terpenting di wilayah metropolitan tersebut, Dortmund menjadi salah satu lokasi yang paling sering dibom selama Perang Dunia II hingga porak-poranda. Kendati demikian, semangat kota Dortmund tidak ikut runtuh.
"Mentalitas Distrik Ruhr - meski area pertambangannya sudah lama ditutup dan baja tidak lagi terlalu penting - adalah tentang bekerja keras dan berjuang. Anda bahkan lebih merasakannya sebagai pemain bertahan. Untuk sebuah tekel Anda mendapat pujian yang sama tingginya dengan gol tendangan salto ke pojok atas gawang," tutur CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke kepada DAZN.
"Seperti itulah mentalitas Distrik Ruhr. Bagi kami, kerja keras tetap yang paling utama."
Mentalitas serupa telah lama diusung Lukasz Piszczek dan Marcel Schmelzer, dua pemain yang jadi bagian dekade tersukses dalam sejarah BVB.
Pada musim panas 2010, Piszczek bergabung ke Dortmund dengan bebas transfer dari Hertha Berlin. Ia datang dengan benak dipenuhi ketidakpastian sekaligus tantangan untuk bikin terkesan Jurgen Klopp, salah satu pelatih paling beret di dunia sepakbola.
Itu pilihan sulit karena Piszczek sebenarnya sudah dijanjikan Hertha bisa bermain di lini tengah, posisi yang lebih disukainya, sementara Klopp blak-blakan menegaskan bahwa ia akan dipasang sebagai bek kanan. Perkara jadi makin rumit lantaran Piszczek juga mesti membuktikan kelayakannya dan bersaing dengan pemain veteran Patrick Owomoyela untuk bisa masuk tim inti.
"Semua orang yang saya ajak bicara saat itu bilang, 'Pergilah ke Dortmund! Mereka punya pelatih yang bisa mengembangkanmu.' Jadi itulah yang saya lakukan," kenang Piszczek.
Piszczek tidak ditakdirkan untuk duduk di bangku cadangan. Ia cepat belajar dan dalam waktu singkat berhasil mematenkan posisi sebagai starter, menggeser Owomoyela. Bersama Neven Subotic, Mats Hummels, dan Schmelzer, pemain Polandia itu jadi bagian dari back-four kokoh Dortmund yang tampil istimewa pada 2010/11, musim debutnya berseragam Hitam-Kuning.
Pada Desember 2010 BVB menguasai puncak klasemen Bundesliga berkat catatan tak terkalahkan dalam 15 laga, mencakup 14 kemenangan plus sebiji hasil imbang, dan hanya kebobolan tujuh gol.

30 April 2011, Dortmund membutuhkan kemenangan atas Nurnberg untuk mengunci gelar juara dan dua gol di babak pertama dari Lucas Barrios serta Robert Lewandowski melapangkan jalan mereka.
"Itu momen favorit saya. Kalau Anda bertanya tentang gelar liga 2011, selalu momen tersebut yang langsung terbersit dalam benak saya," cerita Schmelzer.
"Saya melirik ke arah Kevin [Grosskreutz] dan kami tersenyum. Saya melirik ke arah Sven [Bender] di sebelah saya dan kami tersenyum. Kami tahu kami sudah dekat [dari gelar juara]. Itu momen yang selalu langsung melintas di pikiran. Anda bisa melihat kebahagiaan dan kelegaan di wajah mereka, tapi juga sedikit kegelisahan. 'Apakah ini nyata?'," imbuh pemain penting yang selalu turun penuh dalam 34 laga Bundesliga di musim itu.
Dipimpin oleh si pelatih karismatik Klopp, kumpulan pemain tersebut ibarat sebuah keluarga yang siap mengerahkan segalanya untuk tim. Die Borussen membukukan 'double' (menang kandang dan tandang) melawan rival sengit Bayern Munich, kedua-duanya dengan margin nyaman dua gol: 2-0 dan 3-1.
"Kami jelas memiliki seorang pemimpin dalam diri Jurgen Klopp yang menyatukan semuanya pada periode itu. Tim, pelatih, dan klub. Kami bukan pemain bertalenta tinggi, tapi kami adalah pejuang yang masuk ke lapangan dan apa pun yang dikatakan Jurgen, kami berusaha mempraktikannya sebaik mungkin," kata Schmelzer.
Musim berikutnya, Dortmund kembali menjuarai Bundesliga dan kali ini mengawinkannya dengan trofi DFB-Pokal setelah melibas Bayern Munich 5-2 di final berkat hat-trick Lewandowski.
"Itu momen menakjubkan - Anda tak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata lain."
Schmelzer mulai mendapat tawaran dari klub-klub lain menyusul kesuksesannya di BVB, tapi semua tak digubrisnya. Bergabung ke tim junior Dortmund pada 2005, sang bek kiri berhasil promosi ke skuad utama tiga tahun kemudian hingga akhirnya jadi salah satu komponen integral tim.
"Di gym lama atau di aula olahraga lama di Brackel, ada dua anak sedang main tenis sepakbola. Ya, salah satunya kamu dan itulah kesan pertama yang saya dapat. Kesan berikutnya yang saya dapat jauh, jauh lebih baik," ungkap Klopp dalam pesan video untuk Schmelzer.
Klopp pelatih paling berjasa dalam karier Schmelzer. Berka bimbingannya, sang bek kiri mampu mengeluarkan kemampuan terbaik di lapangan. Dan Klopp adalah salah satu faktor utama di balik keputusan Schmelzer menolak semua tawaran yang menghampirinya.
GettyTak syak lagi, Piszczek dan Schmelzer pantas menyandang status legenda di Dortmund. Semangat pantang menyerah mereka untuk mengejar bola mewakili spirit dan kegigihan khas Jerman yang menjadikan keduanya figur favorit di Signal Iduna Park.
"Piszczu dan Schmelle adalah legenda sejati di Dortmund! Utamanya karena mereka pejuang sejati. Mereka tidak memainkan sepakbola atraktif - yang tentu kita sukai juga dalam sepakbola - tapi di wilayah Ruhr ini kami jelas identik dengan para pejuang," ujarManfred Rakowski, ketua sebuah fan club BVB.
"Dan itulah yang membuat Schmelle dan Piszczu unik. Mereka selalu mengerahkan segalanya untuk klub."
Air mata mengalir membasahi pipi Piszczek setelah memainkan laga terakhirnya untuk klub dalam kemenangan telak 4-1 atas RB Lepzig di final DFB-Pokal pada 13 Mei kemarin. Piszczek mengangkat trofi Bundesliga pada musim pertamanya, dan alangkah pas baginya memungkas perjalanan dengan gelar.
Selepas pertandingan, Piszczek mendedikasikan kemenangan untuk Schmelzer, sobat lamanya yang kurang beruntung musim lalu karena harus banyak berkutat dengan cedera.
"Schmelle sudah absen setahun dan sayangnya dia tak bisa ikut merasakan musim ini bersama kami. Dan karena saya akan pergi, saya ingin memberinya sesuatu sehingga ia juga bisa menikmatinya [gelar juara]," tutur Piszczek sambil berlinang air mata.
Sangat disayangkan Sudtribune tak dapat hadir pada penampilan terakhir pemain 35 tahun itu dalam seragam Die Schwarzgelben. Namun, Sebastian Kehl, mantan kapten yang kini jadi direktur di BVB, berjanji klub akan mengadakan perpisahan khusus dengan kehadiran fans.
Setelah menghabiskan lebih dari satu dasawarsa di Dortmund, Piszczek kembali ke klub pertamanya di Polandia, Goczalkowice, untuk mengurus akademi yang dirintisnya pada 2019 lalu.
Sementara, Schmelzer masih memiliki hasrat menggebu-gebu untuk terus memperkuat tim tempatnya tumbuh dari bocah hingga jadi pria dewasa; paling tidak semusim lagi.
Lebih dari sekadar sepakbola, kemitraan Evonik dan Borussia Dortmund juga dibangun untuk hal-hal lainnya. Cari tahu lebih lanjut di gobeyondfootball.com


