Andrea Pirlo Juventus BeneventoGetty Images

Juventus Terpuruk, Bagaimana Nasib Andrea Pirlo?

Masa depan Andrea Pirlo sebagai pelatih Juventus mulai santer dipertanyakan setelah timnya mengalami keterpurukan musim ini.

Ada desakan untuk memecat Pirlo setelah Bianconeri tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions, yang merupakan impian dan target utama klub, di tangan Porto pekan lalu.

Tekanan tersebut semakin memuncak usai Juve secara mengejutkan kalah 1-0 dari tim promosi Benevento di Allianz Stadium, Minggu (21/3).

Kekalahan itu membuat peluang Juve untuk mempertahankan Scudetto mereka kian terasa berat. Pasalnya, mereka tertinggal 10 poin dari pemuncak klasemen, Inter Milan.

Bahkan, posisi mereka di empat besar belum sepenuhnya aman. Juve kini menempati urutan ketiga klasemen dan rawan dikudeta oleh Atalanta, Napoli hingga AS Roma.

Hanya saja, meski banyak fans yang menilai kampanye 2020/21 sebagai kegagalan total, direktur pelaksana Juve, Fabio Paratici mengungkapkan bahwa posisi Pirlo masih tergolong aman.

Keputusan untuk menunjuk Pirlo sebagai pelatih baru Juventus pada musim panas lalu sebenarnya merupakan sebuah perjudian, karena statusnya yang masih hijau karena belum memiliki pengalaman menangani tim mana pun.

"Kami bukannya tidak puas dengan pelatih-pelatih sebelumnya, namun ada alasan berbeda mengapa kami memutuskan untuk melakukan perubahan," kata Paratici.

"Saya tidak percaya adanya kata 'transisi' di Juventus. Kami memainkan setiap pertandingan dengan tujuan untuk menang, beberapa hasilnya lebih baik dari yang lain, tapi transisi tidak menjadi masalah di sini. Setiap tahun itu penting, meski belum tentu memiliki hasil yang sama di masa lalu."

"Jika kita hanya berbicara tentang hasil, ada klub yang menjalani tujuh, delapan atau 10 tahun masa transisi di mana mereka tidak memenangkan apa pun dan tidak benar-benar meletakkan dasar apa pun."

"Orang-orang mungkin tidak menyadarinya karena kami terus juara, namun kami telah melakukan banyak perubahan selama bertahun-tahun, mengurangi rata-rata usia skuad beberapa kali untuk membangun kesuksesan di masa depan."

"Bisa saya katakan kepada Anda tujuh atau delapan kali ada yang bilang bahwa ada sebuah era kami yang berakhir, misalnya kekalahan dari Galatasaray, kepergian [Antonio] Conte, final liga Champions di Berlin, ketika kami tertinggal 10 poin pada awal musim lalu, ketika kami mengganti [Massimiliano] Allegri dengan [Maurizio] Sarri, dan lain-lain, namun kami terus juara."

"Ketika Anda membangun kembali tim, bisa saja terjasi bahwa Anda juga tidak berhasil memenangkan segalanya pada saat yang sama, namun itu semua adalah bagian dari proses."

Iklan
0