Pelatih baru Juventus, Andrea Pirlo memahami ada ekspektasi besar padanya usai menggantikan Maurizio Sarri, dengan kampiun Serie A mengincar Scudetto beruntun kesepuluh dan prestasi di Liga Champions.
Juventus secara mengejutkan menunjuk Pirlo bulan lalu usai memecat Sarri, yang baru membawa Bianconeri meraih gelar juara Serie A kesembilan secara beruntun pada musim 2019/20.
Meski Sarri mampu mempertahankan dominasi Juventus di Serie A, kendati juara dengan hanya unggul satu poin atas Inter Milan, tersingkirnya klub secara mengecewakan di babak 16 besar Liga Champions menjadi nilai buruk dalam rapor sang pelatih.
Dengan Pirlo - yang dipromosikan dari jabatannya sebagai pelatih tim U-23 hanya sepekan setelah bertugas - yang sekarang memimpin skuad, mantan gelandang tim nasional Italia itu memberikan penilaian terhadap anak asuhnya menjelang laga pembuka Serie A musim 2020/21 kontra Sampdoria pada 21 September.
"Kami akan memberikan semua yang kami miliki, kami pasti akan memiliki tekad besar untuk menunjukkan kepada fans bahwa Juventus ingin memenangkan Scudetto kesepuluh secara beruntun dan mungkin mencapai fase akhir Liga Champions," kata juru taktik berusia 41 tahun itu kepada JTV.
"Ada gairah yang besar dan harapan yang tinggi, tapi kami di sini, dan kami ingin melakukan yang terbaik."
"Saya mendapat kesan yang baik, kami memulai persiapan dengan baik dan penuh antusiasme serta keinginan untuk terus melaju," imbuh Pirlo. "Setelah melewati beberapa hari, para pemain kini membela tim nasional masing-masing namun kami terus bekerja dengan mereka yang bertahan di sini."
"Para pemain sangat ingin melakukannya dengan baik, mereka telah menemukan metodologi baru dengan beberapa latihan baru yang belum pernah mereka lakukan dan oleh karena itu hal tersebut telah menghadirkan antusiasme."
"Jalannya akan panjang, juga karena kami tidak punya banyak waktu untuk bekerja dengan banyak pemain yang tidak ada di sini."
"Tapi kami bekerja dengan baik dengan apa yang kami miliki. Saya harap saya mampu menularkan beberapa konsep yang sudah kami kerjakan untuk pertandingan pertama dan berharap menemukan sesuatu di tengah lapangan."
Liga Champions sangat didambakan di Turin, karena Juventus belum pernah lagi menjadi juara sejak 1996.
Sejak mengangkat trofi Eropa bergengsi itu 24 tahun yang lalu, Juventus hanya mampu finis sebagai runner-up pada 1997, 1998, 2003, 2015 dan 2017.
"Agresi dan keinginan untuk merebur kembali bola setelah kehilangannya, itu sesuatu yang banyak kami upayakan," lanjut Pirlo.
"Melihat Liga Champions yang terakhir, tim-tim yang berusaha keras adalah mereka yang berusaha merebut kembali bola dalam waktu sesingkat mungkin. Itu harus menjadi karakteristik yang membedakan kami."


