Piala Dunia Wanita 2019 - Sara Dabritz & Misi Untuk Jadi Yang Terbaik

Komentar()
Getty Images
Dabritz menjadi salah satu pemain kunci Jerman di Piala Dunia Wanita dan siap mengantar Die Nationalelf menjadi juara.

OLEH  M. RHEZA PRADITA

Jerman berhasil mengunci satu tempat di perempat-final Piala Dunia Wanita 2019 di Prancis lewat kemenangan 3-0 atas Nigeria, Sabtu (22/6). Laga tersebut jadi momen bersejarah bagi Alexandra Popp, yang mewarnai 100 caps-nya dengan satu gol. Namun, ada satu pemain lain yang kembali mencuri perhatian, yaitu Sara Dabritz.

Lewat gol yang dicetak pada menit ke-27, Dabritz menjadi pemain pertama yang mencetak gol di tiga laga Piala Dunia Wanita secara beruntun, sejak Birgit Prinz pada 2003. Pemain 24 tahun itu sebelumnya berhasil mencetak gol ke gawang Spanyol dan Afrika Selatan.

Meski dari tiga gol yang dilesakkan tidak ada yang dibuat dengan cara istimewa, hal tersebut justru semakin menunjukkan bahwa Dabritz bisa diandalkan untuk memecah kebuntuan. Gol tunggal ke gawang Spanyol membuktikan kerja kerasnya. Bola memantul setelah ditepis kiper, dan ketika bek lawan masih melihat ke belakang, dia langsung mendorong bola sambil menjatuhkan diri.

Dabritz tampak nyaman dengan suasana Prancis, dan dia tidak perlu khawatir harus segera meninggalkan negara tersebut, karena akan tetap tinggal di sana setelah turnamen berakhir. Dabritz baru saja menyelasaikan kepindahan dari Bayern Munich menuju Paris Saint-Germain musim panas ini.

Setelah empat tahun bermain sebagai pemain reguler di Bayern, dia merasa ini saat yang tepat untuk hijrah ke Paris. Meski Les Parisiens berada di bawah bayang-bayang klub wanita terbaik di Eropa, Olympique Lyon, tetapi mereka konsisten mendatangkan pemain kelas dunia. Emma Berglund, Aminata Diallo, dan Formiga hanyalah beberapa nama besar di skuad PSG.

Sara Dabritz

Hingga umur lima tahun Dabritz masih bermain di jalanan depan rumahnya bersama sepuluh hingga 15 anak-anak lain. Sampai saat tetangganya merekomendasikan untuk bergabung dengan klub sepakbola lokal, dan dia akhirnya bergabung dengan SpVgg Ebermannsdorf.

Erich Meidinger, pelatih pertama Dabritz, mengaku talentanya tidak langsung terlihat ketika pertama kali datang. Namun, kecintaan dengan sepakbola yang tinggi membuatnya terus berkembang.

“Pertandingan pertama adalah di Ensdorf, kami kalah banyak,” ujar Meidinger kepada Onetz. “Seiring berjalannya waktu, dia bertambah baik. Hal utama baginya adalah sepakbola.”

Langkah besar Dabritz bermula ketika masih berusia 15 tahun. Saat bermain bagi Ebermannsdorf di Amberg, kota kelahirannya, salah satu pelatih DFB (Federasi Sepakbola Jerman) Lutz Ernemann melihat bakatnya. Ernemann kemudian menawarinya kesempatan untuk uji coba di pusat pelatihan DFB.

Saat itu Dabritz harus bersaing dengan 94 anak laki-laki, dan satu anak perempuan lain, yang semuanya lebih tua daripada dirinya. Tetapi hanya ada dua pemain yang mampu tampil lebih baik dari dirinya.

“Itulah saat di mana Anda menyadari talenta seperti yang dimilikinya,” kenang Ernemann kepada TZ. “Sungguh seorang pemain yang patut dicontoh, dan selalu menjadi yang terbaik. Sara selalu mendominasi bola dan lawan.”

Germany Women World Cup 22062019

Kemampuan membaca permainan dan kekuatan merupakan ciri khas permainannya. Hal tersebut pula yang membuatnya dapat bermain sama baik ketika dimainkan di tengah ataupun sayap, dua posisi yang sebenarnya jauh berbeda. Dabritz memiliki kecepatan yang dibutuhkan pemain sayap, dan kekuatan untuk melakukan duel di posisi gelandang.

Lompatan karier berikutnya adalah ketika bergabung dengan SpVgg Weiden pada usia 16 tahun, dan bermain di Bayernliga Junior. Tentunya dengan izin khusus, karena para pemain wanita di umur itu tidak boleh lagi bermain dengan laki-laki. Saat itu dia dimainkan di posisi playmaker, dan tidak ada yang membedakannya dengan para pemain laki-laki.

Dabritz hanya bermain selama satu setengah tahun di Weiden untuk pindah ke SC Freiburg. Klub asal Breisgau tersebut menginginkan jasanya, setelah melakukan uji coba selama seminggu. Di sana dia melakukan debut sebagai pemain profesional, menjadi pemain andalan, dan untuk pertama kalinya dipanggil timnas senior Jerman pada 2013.

Itu merupakan sebuah kemajuan besar, karena pada 2012 dia baru saja membawa Jerman menjadi juara Euro U-17. Dia seharusnya sudah tidak dipanggil untuk Timnas U-20, namun karena dibutuhkan pelatih, dia pergi ke Piala Dunia U-20 2014 di Kanada. Di sana Dabritz berhasil mencetak lima gol dalam enam penampilan, meraih Sepatu Perunggu, dan mengantar Die Nationalelf menjadi juara.

Artikel dilanjutkan di bawah ini

Di usia 24 tahun, Dabritz sudah menjadi salah satu pemain paling berpengalaman di tim. Pertandingan melawan Nigeria merupakan yang ke-64 baginya, dan angka tersebut tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Piala Dunia Wanita bisa menjadi panggung yang sempurna baginya untuk menunjukkan diri sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini. Untuk melakukannya dia harus bisa bersaing dengan para pemain terbaik seperti Amandine Henry, Megan Rapinoe, dan Lucy Bronze. Namun, yang paling penting adalah membawa Jerman kembali menjadi juara dunia.

 

Tutup