Persija Jakarta Yang Takut Melantai Di Bursa Saham

Selebrasi - Persija Jakarta
Goal / Abi Yazid
Bukan hanya Persija, klub Indonesia lainnya juga belum ada yang berani lepas sahamnya ke publik.

OLEH    MUHAMMAD RIDWAN

Sepakbola Indonesia perlahan-lahan mulai masuk ke dalam industri yang serius. Menang, kalah dan imbang merupakan sesuatu yang biasa, namun urusan ekonomi menjadi faktor yang juga turut diperhatikan di masa sekarang. 

Klub-klub berusaha mendapatkan keuntungan yang berlipat agar bisa mensejahterakan para pemainnya. Berbagai cara dipakai untuk menambah kocek, mulai dari menggaet sponsor, hak siar, tiket pertandingan, penjualan merchandise hingga menggelar penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO).

Sayangnya, hingga sekarang belum ada satu pun klub Tanah Air yang berani IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Padahal, pada awal Maret 2017, ada kabar yang menyebutkan dua klub Indonesia bakal melantai.

Hingga di penghujung tahun ini, hal tersebut tidak terealisasi. Penyebabnya adalah karena klub Indonesia tidak memiliki penyusunan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK). Itu disebabkan pembukuan klub masih menganggap pemain sebagai beban, karena mereka memberikan gaji.

Memang itu yang menjadi kekurangan di sepakbola nasional. Mengingat, sejumlah klub Eropa seperti Manchester United, Juventus, Borussia Dortmund, Lazio, dan AS Roma telah lebih dulu melepas sahamnya ke publik.

Persija Jakarta, yang mempunyai basis suporter yang kuat dan disokong dengan dana berlimpah dari investor yang masih jadi rahasia sampai sekarang, sebenarnya punya kemampuan buat melantai. Akan tetapi, klub asal ibu kota tersebut ogah melakukan itu.

Alasannya adalah, Persija masih belum konsen mengikuti jejak klub yang ada di Benua Biru buat IPO. Macan Kemayoran merasa dana yang dipunyai masih sanggup untuk membangun tim dan mendatangkan gelar juara. 

"Ya ada tahapannya, saya mau juara kapan tahun ketiga, emang juara tidak butuh biaya, jadi juara itu butuh biaya dan mental," kata direktur utama Persija Gede Widiade.

"Sekarang gini, apakah banyak uang menjamin juara? Coba kamu lihat saudara kamu? Biayanya itu hampir tiga kali lipat punya kita," tambahnya.

Saham klub bola di pasar modal punya kinerja yang tidak begitu bagus. Jika dibandingkan dengan perusahaan seperti bank atau minyak dan gas yang selama ini mengejar pertumbuhan laba, saham bola meningkatnya sedikit sekali.

Tapi tidak ada salah untuk mencoba, karena tanpa adanya percobaan tak mungkin bisa diketahui hasilnya. Biasanya, klub Indonesia itu latah melihat sesuatu yang baru kemudian diikuti. Persija dapat jadi pemacu agar klub lainnya meniru.

 

 

Tutup