OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR
Rivalitas antara Fiorentina dan Juventus sudah terjalin sejak peristiwa "Meglio Secondi Che Ladri" (lebih baik finis kedua ketimbang jadi pencuri) pada 1982.
Tifosi Fiorentina mengenang momen "pencurian Scudetto" itu dengan sangat dalam, hingga jadi dendam yang kekentalannya tak pudar oleh waktu. Hingga detik ini, Juve selalu jadi musuh utama publik Firenze.
Karenanya tak heran jika selepas kejadian tersebut, ada banyak kisah mengerikan yang mengitari hubungan buruk Fiorentina dan Juve. Salah satu yang paling dikenang hadir pada 16 Mei 1990, atau tepat 30 tahun silam, ketika bintang pujaan Si Ungu, Roberto Baggio, memainkan laga terakhirnya bersama klub.
Bukan partai sembarangan, karena yang dilawan Fiorentina adalah Juventus di leg kedua final Piala UEFA 1989/90. Si Nyonya Tua punya modal kemenangan 3-1 pada leg pertama di Turin kemudian diuntungkan lagi dengan lokasi pertandingan leg kedua.
Alih-alih dimainkan di Artemio Franchi, markas sejati Fiorentina, leg kedua dipindah ke Stadio Partenio-Lombardi di Avellino. Panitia turnamen berdalih, keputusan ini diambil untuk menghindari kerusuhan di Firenze, kalau-kalau Juve yang jadi juaranya.
Meski begitu, stadion tetap dipadati oleh 40 ribu penonton yang mayoritas tifosi Fiorentina. Sayang, La Viola gagal membalas atau menyamakan agregat karena duel berakhir imbang 0-0. Juve pun keluar sebagai kampiun Piala UEFA.
Roberto BaggioPublik Firenze tak pelak mencak-mencak dengan kekalahan tersebut, tak cuma karena itu adalah final Piala UEFA tapi juga karena mereka kalah dari tim yang paling dibenci, Juve. Untungnya amarah itu tak sampai menimbulkan kekacauan berarti, sehingga polisi kota yang dibelah sungai Arno tersebut bisa tenang,
Namun siapa yang menyangka bila kekacauan sesungguhnya baru meledak tiga hari berselang. Salah satu transfer terbesar dan tergila sepanjang sejarah disepakati manajemen Fiorentina, dengan menjual pujaan kotanya, Roberto Baggio, ke Juventus!
Ya, hanya berselang tiga hari seusai memainkan partai terakhirnya bersama Fiorentina, Baggio memicu kekacauan masif di Firenze akibat kepindahannya ke klub yang dibenci oleh seisi kota.
Nilai transfernya tergolong fantastis kala itu, yakni sebesar €10 juta, angka yang menjadikan Baggio sebagai pesepakbola dengan banderol termahal dunia.
Roberto BaggioProtes besar-besaran lantas dilakukan ribuan suporter di jalanan kota Firenze pasca kepindahan Il Divin Codino. Lemparan batu, perusakan fasilitas kota juga stadion, hingga peledakan bom molotov jadi warna suram kota Firenze kala itu. Setidaknya 50 orang terluka akibat aksi tersebut.
Setelah insiden mereda, Baggio kemudian menegaskan dirinya bukan orang yang menentukan transfer ini. "Anda semua harus tahu, saya dipaksa menerima transfer ini," tuturnya.
Baggio lantas tampil fantastis bersama Juve, tapi hanya berselang setahun pasca kedatangannya, pemain spesialis nomor 10 itu sempat tak populer di mata Juventini.
Dalam duel menghadapi Fiorentina di Artemio Franchi pada 7 April 1991, Baggio enggan jadi eksekutor penalti yang dihadiahkan untuk Bianconeri.
ReproduçãoGigi De Agostini yang kemudian mengambil eksekusi gagal memanfaatkannya. Seketika Baggio ditarik keluar sang pelatih, Luigi Maifredi. Ia lalu memasuki ruang ganti dengan mengenakan syal berawarna ungu, pemberian tifosi La Viola yang berada di tribun.
"Gianmatteo Mareggini [kiper Fiorentina] adalah orang yang paling tahu teknik penalti saya. Lagi pula jauh di lubuk hati saya, selalu berawarna ungu," papar Baggio selepas laga, yang kontan membuat Juventini gantian meradang.
SIMAK JUGA: Lima Momen Kontroversial Fiorentina Kontra Juventus




