Mochammad Iriawan - PSSIAlvino Hanafi / Goal

Pergantian Ketua Umum PSSI Jangan Didasari Kebencian

Kinerja ketua umum PSSI Mochamad Iriawan dinilai pengamat sepakbola senior Rayana Djakasurya sudah bagus. Namun, ia heran masih ada saja orang yang tidak suka dengan sosok berusia 60 tahun tersebut.

Di bawah kepemimpinan Iriawan, timnas Indonesia menunjukkan perkembangan yang baik. Skuad Merah Putih lolos ke Piala Asia 2023, Piala Asia U-20 2023, juara Piala AFF U-16, hingga melaju ke Piala Asia Wanita 2022.

Bukan itu saja, peringkat Indonesia di FIFA juga mengalami peningkatan yang tajam. Semua hal yang sudah disebutkan itu menjadi bukti Iriawan bekerja maksimal.

"Data berbicara bahwa di eranya Iwan Bule memimpin PSSI sejak dia menjabat pada awal November 2019 lalu, kemudian dipotong oleh kevakuman persepakbolaan Indonesia karena adanya pandemi Covid-19, praktis dia bekerja dalam waktu yang sangat singkat, namun dia mampu mempersembahkan sederet prestasi bagi persepakbolaan Indonesia," kata Rayana.

"Itu sebuah prestasi yang diakui oleh dunia, yakni FIFA, melalui sosok Mochamad Iriawan ketika memimpin PSSI, dirinya mampu merealisasikan perubahan grafik yang signifikan dan nyata bagi persepakbolaan Indonesia, tidak dibuat-buat, tidak menyogok orang FIFA, sekali lagi saya bilang ini prestasi dan semua masyarakat sepakbola Indonesia turut menikmati itu," Rayana menambahkan.

Rayana menyadari Iriawan dalam memimpin PSSI memang masih belum sempurna. Akan tetapi, ia merasa mantan Kapolda Metro Jaya tersebut masih bisa memperbaikinya.

"Jelas hal itu terlihat dengan timnas kita mengikuti berbagai kejuaraan level Asia. Kapan itu terjadi?, ya ketika FIFA melihat persepakbolaan kita acak-acakan kemudian masuknya Iwan Bule memimpin PSSI dan terjadilah prestasi-prestasi itu. Masyarakat sepakbola harus melihat ke arah itu."

Selain itu Rayana menyatakan Iwan Bule mestinya tidak disalahkan dalam tragedi Kanjuruhan. Menurutnya, insiden nahas tersebut tak ada kaitannya dengan Iriawan.

"Karena nanti setiap ada ketua PSSI yang seumpamanya dibenci oleh seseorang atau kelompok, mereka akan goyang melalui masalah-masalah dengan membuat skenario lain, tidak boleh seperti itu, kapan majunya persepakbolaan kita, bahkan FIFA tidak menyebut bahwa organisasi PSSI seburuk itu."

"Tragedi Kanjuruhan itu terjadi setelah pertandingan berakhir 2x45 menit. Jadi, secara aturan itu bukan tanggung jawab PSSI. Makanya, saya menegaskan tidak ada alasan untuk menggantikan posisi Iwan Bule melalui KLB PSSI yang tidak melanggar statuta PSSI."

Sebagai contoh, Rayana menyebut tragedi Heysel yang menelan 39 korban tewas saat pertandingan Liverpool melawan Juventus pada laga final UEFA pada 31 Mei 1985 lalu. Ia menyebutkan dari tragedi Heysel itu tidak ada yang dituntut untuk mundur.  

"Saat tragedi Heysel itu tidak ada pemaksaan pergantian ketua Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Begitu juga terhadap presiden UEFA. Kasus bentrokan antarsuporter tersebut diselesaikan dengan adanya perbaikan sarana Stadion Heysel dengan menghilangkan tembok pembatas penonton."

"Seharusnya dalam kasus tragedi Kanjuruhan sudah tuntas dengan dijadikannya panitia laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dan operator kompetisi dalam hal ini direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai tersangka. Tidak ada kesalahan PSSI apalagi sampai memaksa menggelar KLB untuk menggantikan posisi Iwan Bule yang jelas tidak bersalah dalam musibah tersebut," tambahnya.  

Rayana juga menyebutkan jika ketua umum PSSI saat ini dipilih melalui mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB) dan dipilih oleh para pemegang hak suara yang sah, artinya melalui perjalanan hukum yang FIFA pun mengakui Iriawan. Terkait KLB yang akan berlangsung pada tahun 2023, ia berharap ikuti aturan mainnya.

"Polemik yang terjadi terhadap persepakbolaan Indonesia saat ini, khususnya terkait PSSI dengan adanya like and dislike itu di luar aturan main. Mengganti pimpinan PSSI melalui KLB yang sudah ada aturannya. Janganlah sepakbola kita didasari dengan kebencian, sehingga terciptanya drama-drama yang diluar aturan main dan jangan ini dijadikan kendaraan politik."

"Sejauh ini tidak ada yang dijalankan oleh organisasi PSSI buruk. Kebijakan-kebijakannya jalan, apalagi terjalinnya sinergi dengan pihak-pihak lain seperti para sponsor dan pemerintah. Itu hal konkrit yang telah dilakukan oleh PSSI rezim Iwan Bule ini."

"Menyingkirkan Iwan Bule bukan jalan keluar terbaik bagi persepakbolaan Indonesia. Alangkah baiknya jika menunggu periode kepemimpinannya berakhir. Sabarlah jika memang ada yang ingin cepat menggantikan posisinya. November 2023 tahun depan itu tidak lama lagi kok. Sesuatu yang digapai melalui prosedur akan lebih baik dan indah."

Iklan
0