Pasalic AtalantaGetty

Perangi Neo-Nazi, Italia Larang Nomor Punggung 88

Gelandang Atalanta Mario Pasalic dan penggawa Lazio Toma Basic sepertinya harus mengganti nomor punggung mereka pada musim 2023/24 setelah pemerintah Italia melarang penggunaan angka 88 di jersi tim.

Kebijakan itu dikeluarkan pemerintah Italia, karena angka 88 digunakan kelompok Neo-Nazi dalam kampanye mereka. Angka 88 itu mengandung makna sebagai bentuk salute 'heil Hitler'. H merupakan huruf ke delapan dalam alfabet.

Presiden federasi sepakbola Italia (FIGC) Gabriele Gravina pun menyetujui regulasi yang dikeluarkan menteri dalam negeri (Mendagri) Matteo Piantedosi dan menteri olahraga Andrea Abodi yang berkolaborasi dengan Koordinator Nasional untuk memerangi anti-semitisme Giuseppe Pecoraro.

Piantedosi menungkapkan, pemerintah telah mempelajari dan mengevaluasi regulasi tersebut selama beberapa pekan sebelum menjadi sebuah keputusan. Piantedosi menegaskan, anti-semitisme harus diperangi dengan kuat.

“Di antara langkah-langkah tersebut adalah larangan penggunaan simbol-simbol yang mungkin mengingatkan kepada Nazisme oleh para suporter,” ujar Piantedosi dikutip Goal Italia.

“Pertanggungjawaban anggota untuk menjaga bahasa non-diskriminatif dalam semua akitivitas publik, dan definisi modalitas penghentian pertandingan jika terjadi insiden diskriminasi. Sikap proaktif perusahaan di bidang ini juga akan dievaluasi secara positif.”

Pada awal musim lalu, seorang suporter Lazio dikecam karena memmakai jersi tim dalam laga kandang Biancocelesti. Jersi itu memperlihatkan nomor 88 beserta tulisan nama 'Hitlerson' di atasnya.

Ulah fan Lazio tersebut pun menjadi berita utama di seluruh Eropa, dan mendapat kecaman secara luas, termasuk dari kubu Lazio sendiri. Fan yang memakai jersi itu merupakan suporter Lazio dari Jerman, dan kemudian diusir keluar dari stadion.

“Dunia sepakbola bersatu dalam memerangi anti-Semitisme, dan segala bentuk diskriminasi. Dengan deklarasi ini, kami tegaskan sekali lagi, bagaimana olahraga harus semakin inklusif, dan pada saat yang sama menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan positif,” tutur Gravina dilansir laman FIGC.

“Sepakbola menawarkan diri untuk menjadi instrumen kesadaran sipil dalam mendidik dan menghormati. Kami tidak akan mundur sedikit pun supaya kredibilitas sepakbola tercermin langsung pada masyarakat Italia.”

Iklan
0